My Freya

My Freya
BAB 56



♥️Makan Malam♥️


"Apa artinya ini...." ucap Freya dalam hati. "Apa kalian ingin mengatakan, kalau kalian merestui pernikahan ini?" tanya Freya masih dalam hati.


Seolah Mommy, Daddy, dan Nenek, kembali menjawab melalui isyarat alam, Freya merasakan sebuah sentuhan lembut dari Hembusan angin yang menerpa tubuhnya.


"Deg...." Freya merasakan tiba-tiba hatinya terasa hangat, padahal angin masih berhembus cukup lembut meniupkan kelopak bunga-bunga dari tangkai-tangkainya.


"Mommy, Daddy, Nenek.... Hiks... Hiks..." Ucap Freya yang kini sudah tidak sanggup menahan air matanya lagi.


Freya menundukkan kepalanya lantas menangis dalam diam.


Daffin yang melihat Freya menangis pun kini menarik Freya ke dalam pelukannya dan mengelus lembut punggung Freya.


"Lihat lah Freya, aku rasa keluargamu merestui pernikahan kita." Ucap Daffin penuh keyakinan.


Di tengah suasana yang mengharu biru tiba-tiba ibu susi datang dengan tergesa-gesa seraya berkata...


"Bapak... Non Freya, Den Daffin..." Panggil ibu susi dengan Napasnya yang tersengal..


"Ada apa ibu?" tanya pak Hasan


Freya dan Daffin yang sedang duduk seraya berpelukan pun mengurai pelukan mereka lantas keduanya pun berdiri dari tempat duduk mereka.


"Itu... Kata mang sobri, mereka melihat mobil orang-orang yang selalu mengawasi kita sudah memasuki gapura desa" jawab ibu Susi.


"Jadi mereka benar-benar masih selalu mengintai kalian" ucap Freya merasa tak terima.


"Iya Non, bahkan mereka seperti telah terbagi menjadi dua kelompok, kelompok yang satu selalu merusak dan kadang membentak saat mencari atau menanyakan tentang non Freya pada kami, tapi kelompok yang satu lagi, mereka menanyakan dengan cara baik-baik, dan kadang sering membatu warga di sini, tapi untungnya dari kedua kelompok itu tak satu pun dari mereka yang berani menyakiti atau pun melukai kami semua, dan para warga di sini." Ucap Ibu Susi menjelaskan.


"Maafkan Freya ibu, bapak, karena Freya, hidup kalian jadi terancam dan hidup kalian juga menjadi tidak tenang, Freya benar-benar merasa bersalah... Hiks... Hiks... " Ucap Freya merasa bersalah.


"Non... Jangan katakan itu, dan jangan merasa bersalah, pengorbanan kami tidak seberapa, di bandingkan pengorbanan Nyonya Liliana Yee dan Tuan Hideyosi terhadap keluarga kami dan juga terhadap desa ini." Ucap Ibu Susi.


"Mereka banyak berjuang dan berperan besar dalam memajukan Desa kami." sambung ibu susi lagi.


"Izikan kami untuk membalas hutang budi kami ke pada mendiang Tuan dan Nyonya dengan selalu menjaga non Freya, mungkin yang kami lakukan saat ini belum sepenuhnya membayar jasa mereka pada kami, tapi izinkan kami membayarnya walau pun hanya sedikit." Ucap Ibu susi lagi.


"Ibu, apa yang kalian lakukan sudah lebih dari cukup, ini sudah membuat Freya merasa tidak enak hati... " Jawab Freya.


"Jangan non, jangan katakan itu" Ucap Pak Hasan.


"Ibu dan bapak berharap non Freya bisa, selamat, hidup sehat dan selalu bahagia, itu adalah kebahagian terbesar untuk kami semua." Ucap Pak Hasan lagi.


"Jika terjadi hal buruk pada Non Freya, maka kami rasanya tidak bisa hidup lagi, karena kami sudah gagal menjaga satu-satunya hal yang paling berharga dari keluarga Tuan Hideyosi dan Nyonya Liliana Yee, Dari itu tolong non, jaga diri non Freya dan lanjutkan hidup non Freya dengan bahagia, itu adalah hal kami inginkan." Pinta Pak Hasan.


"Pak Hasan.... Ibu Susi..." ucap Freya terharu sekaligus merasa bersalah pada keduanya dan pada semua orang yang sudah menolongnya.


"Iya Non sebaiknya Non Freya dan Den Daffin cepat pergi dari sini, maaf bukannya mengusir tapi.. Saat ini keadaannya belum membaik untuk Non Freya dan Den Daffin berada di sini." Jawab Ibu susi.


"Iya... Bu Freya mengerti... Kalau begitu kami pamit pergi, jaga diri kalian, dan kalau perlu kalian hubungi polisi dari luar Desa yang mungkin bisa di percaya." Ucap Freya.


"Jangan risaukan kami non... Karena kami akan baik-baik saja, ini adalah desa kami, tidak akan ada yang berani melakukan hal buruk pada kami selama kami berada di desa ini." Ucap Pak Hasan menenangkan Freya.


"Hem... Baiklah, kalau begitu kami pergi." Ucap Freya berpamitan.


"Iya jangan sungkan untuk selalu meminta bantuan kami.." ucap Pak Hasan.


"Iya pak.." Jawab Freya seraya menahan air matanya agar tidak menangis.


Sejenak Freya memeluk Ibu susi sebelum pergi, setelah itu Daffin dan Freya pun langsung pergi dari rumah pemakaman keluarga Freya, tanpa di antar oleh pak Hasan dan Ibu susi.


Daffin dan Freya Langsung saja memasuki mobil Daffin dan tanpa menunggu lama Daffin pun menjalankan laju mobilnya keluar dari Desa di mana keluarga Freya di makamkan.


Dalam perjalanan mobil Daffin dan para pengintai itu berpapasan, tapi baik Daffin maupun Freya berusaha untuk tidak terlihat oleh mereka, sedangkan para pengintai itu jelas tidak menghiraukan laju mobil milik Daffin yang berpapasan dengan mereka, karena mereka tidak mengenali mobil milik Daffin yang berisikan Freya di dalamnya.


"Huh...." terdengar Hembusan kelegaan saat mobil para pengintai itu sudah menjauh pergi.


"Aku hawatir dengan keadaan pak Hasan dan ibu susi." Ucap Freya.


"Jangan hawatir sayang... Mereka pasti baik-baik saja, kita jelas mendengar mereka bilang, para penjahat itu tidak berani melukai mereka tau pun warga di sini. Jadi jangan terlalu cemas memikirkan mereka, karena mereka pasti tau apa yang harus mereka lakukan." Jawab Daffin menenangkan.


"Deg..." ada rasa bergetar di hati Freya saat Daffin memanggil dirinya Sayang.


"Hem..." Jawab Freya kikuk.


Setalah cukup lama akhirnya Freya dan Daffin pun sampai di apartemen milik Daffin, Keduanya langsung saja memasuki Apartemen tersebut.


"Assalamualaikum..." Ucap Daffin saat Freya dan Daffin memasuki pintu Apartemen.


"Waalaikum salam" jawab Abah dan Ambu dari dalam Apartemen.


"Alhamdulillah kalian sudah pulang" ucap Ambu Nuri.


"Sekarang mah kalian masuk bersihkan diri kalian, terus sholat magrib lalu kita makan malam bersama, lihat atuh Ambu tadi udah masak banyak pasti kalian suka." sambung Ambu Nuri yang terlihat berbeda di mata Freya.


Sebelumnya Freya melihat kekecewaan di wajah wanita itu dan rasa marah yang tertahan karena dirinya dan Daffin, tapi sekarang Freya melihat kehangatan dari raut wajah ibu dari Daffin yang dia tunjukan pada dirinya dan Daffin saat ini.


Berbeda dengan Freya, Daffin justru merasa senang karena melihat Ambu nya kini sudah seperti semula, yang selalu ceria penuh kasih sayang dan perhatian pada keluarga.


"Iya Ambu.." Jawab Daffin.


Daffin dan Freya pun masuk ke dalam kamar, mereka membersihkan diri secara bergantian dan melasakan sholat magrib berjamaah, lalu Setalah itu mengambil makan malam bersama di meja makan bersama Abah Halim dan Ambu Nuri yang tak lain orang tua Daffin.