
♥️Orang tua Edwin❤️
"Apa aku tidak salah dengar... Ayahnya Daffin meminta Daffin untuk menikahiku malam ini juga?" tanya Freya dalam hati.
"Tidak.. Ini tidak bisa di biarkan pernikahan ini tidak boleh terjadi... Tidak boleh..." Ucap Freya masih dalam hati.
"Edwin panggil ibu dan bapakmu, minta mereka untuk datang ke mari tapi sebelum itu carikan seorang penghulu untuk menikahkan mereka berdua malam ini." Pinta Abah Halim.
"Baik Abah..." Jawab Edwin ketakutan.
"Tunggu, aku menolak pernikahan ini" Ucap Freya lantang.
"Freya...." Panggil Daffin pelan.
Tidak hanya Daffin yang kaget tapi Abah Halim dan Ambu Nuri pun juga ikut syok mendengar penolakan Freya.
Daffin sangat kecewa karena untuk yang ke dua kalinya Freya menolak menikah dengan dirinya.
"Setidak layak itukah diriku untukmu Freya sampai kau tidak mau menikah denganku?" tanya Daffin dalam hati.
"Maaf Daffin...." Jawab Freya.
"Saya menolak dengan tegas pernikahan ini." Ucap Freya sedikit gemetar karena melihat wajah Abah Halim yang kini terlihat lebih menyeramkan di mata Freya dari sebelumnya.
"Glek.." Freya menelan salivanya.
"Saya dan Daffin tidak melakukan apapun kami benar-benar tidak melakukan hal yang di larang dalam agama kalian." Ucap Freya mencoba menjelaskan kembali semua kejadian yang terjadi.
"Cukup..." Ucap Abah Halim.
"Kalian mungkin memang tidak melakukan apapun, tapi siapa yang tau bahwa kalian mungkin sedang berbohong pada kami."
"Baiklah anggap kami orang tua ini, percaya perkataan kalian, bahwa kalian memang tidak melakukan hal-hal yang di larang dalam agama, tapi pernikahan ini tetap harus terjadi, kalian tidak boleh menolak." Ucap Abah Halim mutlak.
"Tapi... Aku berhak menolaknya." Ucap Freya teguh.
"Astagfirullah..." Ucap Abah Halim seraya mengusap kasar wajahnya dengan tangan kanannya.
"Dalam islam seorang laki-laki dan seorang ayah, merekalah yang menanggung dosa dari istri dan anak-anaknya bahkan mereka juga harus menanggung dosa ibu dan adik perempuannya." Ucap Abah Halim.
"Jadi jangan menolak pernikahan ini, karena jika kalian tidak menikah laki-laki tua ini lah yang akan menanggung dosa-dosa kalian yang mungkin menurut Kalian tidak melakukan apapun."
"Tapi... Daffin kau tau betul membawa seorang wanita yang bukan mahrammu ke dalam kamarmu, bahkan telah tidur denganmu di dalam kamarmu itu merupakan sebuah dosa besar."
"Dan Abah tidak mau membawa dosa ini di seumur hidup abah, abah juga tidak mau jika abah meninggal nanti harus pulang menghadap Alloh dengan membawa dosa ini Daffin." Ucap Abah panjang lebar dengan begitu tegas dan Mutlak.
Freya yang mendengarnya pun tak bisa melawan dan menolak lagi, apa lagi saat mendengar penuturan abah Halim yang begitu lugas dan penuh penekanan dalam setiap ucapannya, membuat Freya sangat segan untuk mengatakan penolakannya kembali.
"Apa yang kau tunggu cepat pergi, panggil orang tua mu dan carikan satu penghulu." Pinta Abah Halim lagi pada Edwin.
Edwin yang tau bahwa tugas itu adalah untuk dirinya pun langsung mengangguk seraya berkata....
"I.. Iya Abah... Edwin pergi sekarang." Jawab Edwin, lalu langsung pergi tanpa berpamitan.
"Drap" Suara pintu apartemen milik Daffin yang Edwin tutup dengan perlahan.
"Haduh... Haduh.... Lihat dirimu Edwin, si Daffin yang bikin masalah tapi kau yang harus menyelesaikan masalahnya sekarang." keluh Edwin setalah keluar dari dalam apartemen milik Daffin.
Edwin mengambil langkah cepat untuk segera pulang ke rumahnya yang ada di Jakarta.
Orang tua Edwin kini sudah tinggal di jakarta, meninggalkan kampung halaman dan membeli sebuah ruko dua lantai di ibu kota tak jauh dari kantor milik Daffin berada.
Sedangkan lantai dua ruko tersebut Edwin renovasi menjadi rumah tempat tinggal bagi Edwin dan kedua orang tuanya di ibu kota, selain itu Edwin juga membeli sebuah tanah kosong di samping rukok untuk di jadikan lahan parkir bagi semua para pembeli di rokok mie ayam bakso milik orang tua Edwin.
Sama halnya seperti Daffin, Edwin juga putra satu-satunya dalam keluarga Edwin, dulu Edwin sempat memiliki adik laki-laki tapi dia harus meninggal karena sakit, hal itu membuat Edwin menjadi anak satu-satunya untuk kedua orang tua Edwin.
Setelah menempuh perjalanan jauh Edwin pun akhirnya sampai di rumahnya, nampak ruko mie ayam bakso milik bapak Edwin kini sedang penuh di datangi para pelanggan.
Melihat hal itu membuat Edwin kebingungan, dia tidak mungkin memberi tahu orang tuanya saat ini, karena kedua orang tua Edwin sedang sangat sibuk melayani para pembeli.
Tidak ada pelayan di ruko mie ayam bakso milik orang tua Edwin, karena orang tua Edwin selalu berkata, mereka masih sangat mampu dan belum membutuhkan pelayan untuk menjalankan rukok mie ayam bakso tersebut.
Edwin pun masuk melalui pintu belakang, dia mencoba untuk berbicara pada ibunya Ratih.
"Bu..." Panggil Edwin.
"Eh, Cep kamu udah pulang? Ningan tumben masihan siang pulang teh?" tanya ibu Ratih (nama ibu kandung Edwin)
Cep Edwin adalah nama panggilan kesayangan orang tua Edwin, Cecep atau Cep dalam bahasa Sunda artinya Kasep (ganteng/tampan)
"Bu... Edwin mau bicara sebentar sama ibu" ucap Edwin tanpa menjawab pertanyaan ibunya.
"Ke atuh ya, liat ibu lagi sibuk, banyak pelanggan yang udah pesan tapi belum di layanin, coba atuh kamu bantu ibu biar cepet." Pinta ibu Ratih.
"Ya udah, ini ke manain?" tanya Edwin mencoba membatu pekerjaan orang tuanya terlebih dahulu.
"Meja dalapan" ucap ibu Ratih.
Edwin pun dengan cepat mengantarkan mangkok-mangkok Mie Ayam Bakso pesanan para pelanggan ke meja-meja pelanggan.
Semakin siang bukannya semakin sepi tapi semakin ramai pembeli, Mie Ayam Bakso buatan bpk Medi (nama Bpk kandung Edwin) merupakan mie bakso yang sangat enak jadi tak heran antrian pembeli mie ayam bakso pun begitu panjang, bahkan ruang makan pun sudah pengap di penuhi para pembeli, selain itu tak jarang banyak pembeli yang tidak kebagian tempat duduk dan lebih memilih membungkus pesanan mereka.
"Bapak..." Panggil Edwin mencoba berbicara pada bapaknya Medi.
"Aya naon cep? (Ada apa cep?)" Tanya bapak Medi.
"Ini Pak Edwin mau bicara Seriyus, di suruh sama Abah." Ucap Edwin to the point.
Bapak Medi yang sedang membuat mie ayam pun sedikit terdiam.
"Ada apa Cep.. Perasaan baru kemarin atuh bapak sama ibu ketemu si teteh Nuri sama Aa Halim." Jawab Bapak Medi.
Tangan bapak Medi pun kembali sibuk mengaduk mie ayam di dalam mangkok.
"Bapak ini Seriyus..." Ucap Edwin lagi.
"Ya ada apa atuh, gak bisa nanti saja atuh bapak sama ibu lagi sibuk, tuh kamu liat banyak pembeli yang masih ngantri." Ucap bapak Medi.
"Pak si Abah mau menikahkan Daffin malam ini." Ucap Edwin berbisik di telinga bapak Medi.
"Apa... Kamu kalau ngomong yang bener..." ucap Bapak Medi.
"Eh Ini tuh beneran pak, ini Edwin di suruh jemput bapak sama ibu buat datang ke apartemen Daffin, terus Edwin juga di suruh cari penghulu dulu sama abah." Ucap Edwin lagi.
"Penghulu... Buat apa?" tanya Ibu yang ada di belakang Edwin dan Bapak Medi.
"Buat Daffin bu, si Abah sama Ambu mau nikahin Daffin malam ini." Ucap Edwin menjelaskan pada ibunya Ratih.
"Apa...." ucap ibu Ratih tak percaya.