My Freya

My Freya
BAB 12



❤️ Mengikuti ❤️


"Baiklah nona Freya, terimakasih atas keterangannya, Mengingat semua tiga korban dan tersangka utama adalah orang berkembangsaan asing saya rasa kita harus melakukan kerja sama dengan kepolisian di Belgia untuk menyesuaikan kasus ini" ucap Polisi Hadi.


"Anda tidak perlu hawatir nyonya liliana Yee adalah warga negara kami, jadi kami akan membantu menyelesaikan kasus ini sebaik mungkin." Ucap polisi Hadi lagi.


"Terakhir, apakah anda mempunyai bukti atau saksi yang kuat atas kejadian dua minggu yang lalu?" tanya polisi Hadi tiba-tiba.


Freya yang mendengar pertanyaan polisi Hadi dan mengamati mimik wajahnya mulai merasa ragu dan curiga.


"Tidak" jawab Freya berbohong.


"Baiklah kalau begitu nona Freya, ada lagi yang mungkin ingin anda sampai pada kami?" tanya Polisi Hadi.


Freya berusaha untuk tenang dengan sebaik mungkin, namun tiba-tiba pandangan Freya tertuju pada satu polisi yang sejak pertama masuk ke dalam rumah yang hanya diam saja dan dia sejak tadi hanya memeluk tas slempang berukuran sedang yang dia bawa.


Rasa curiga dan rasa penasaran Freya pun memuncak tatkala merasa ada yang aneh dengan tas tersebut.


"Tidak, tapi sebagai tanda terimakasih, karena bapak-bapak yang sudah jauh-jauh datang ke sini, untuk membantu saya, saya ingin bapak-bapak mencicipi kue buatan saya yang baru saya buat, sebentar saya ambilkan." Ucap Freya dengan ramahnya.


Tak lama Freya datang dan menyajikan kue yang Freya bawa.


"Silahkan di Nikmati" ucap Freya.


Tanpa rasa curiga kedua polisi itu memakan kue buatan Freya dengan santainya,  dan setelah dirasa cukup mendapatkan informasi dari Freya kedua polisi tersebut pamit dan pergi dari rumah Freya.


"Baiklah terimakasih Nona Freya atas kuenya, itu sangat enak." Puji polisi Hadi.


"Sama-sama" jawab Freya ramah.


"Kalau begitu kami permisi, selamat pagi." Ucap polisi Hadi berpamitan


"Selamat pagi juga" jawab Freya dan yang lainnya.


Daffin yang sejak tadi duduk di samping Freya merasa kesal karena Freya tak hentinya menunjukkan seyum manisnya pada dua polisi yang kini sudah pergi, Wajahnya napak ditekuk karena menahan kesal.


"Daffin boleh aku meminta bantuanmu? aku mohon ini penting!" pinta Freya secara tiba-tiba setelah mobil para polisi itu pergi dan tak terlihat lagi.


"Bantuan apa?" tanya Daffin tak mengerti.


"Sudahlah nanti aku jelaskan di jalan saja, sekarang kita pergi dulu, ayo cepat" pinta Freya.


"Yang lainnya tolong tetap di rumah, jika ada yang datang lagi dan mereka mencariku, katakan saja aku sedang pergi entah kemana, okh" Pinta Freya pada semua yang ada di rumah.


"Tunggu memang kamu mau bawa Daffin ke mana?" tanya Nindy tak terima.


"Ini sangat penting kalian tidak perlu tau, ayo Daffin, kita pergi cepat." Ucap Freya sambil berlari kearah parkiran dan masuk kedalam mobil neneknya.


"Eh tunggu.." Ucap Nindy hendak menghentikan Freya dan Daffin pergi tapi Edwin mencegahnya.


"Udahlah Nin, lo gak usah ikut campur urusan mereka okh" ucap Edwin sekenanya.


"Tapi...."


"Gak ada tapi tapian ya... Kita tunggu saja kabar mereka dari sini saja, dan jangan ganggu mereka." Sela Edwin lagi.


Daffin yang bingung pun tak punya pilihan selain mengikuti Freya masuk kedalam mobil,  Freya membawa laju mobilnya begitu kencang sampai-sampai Daffin merasa sedikit takut di buatnya.


"Freya bisa kau kurangi sedikit kecepatannya?" pinta Daffin.


"Tidak bisa kita harus menyusul mobil polisi tadi" ucap Freya.


"Polisi tadi? Memang ada apa? Kamu masih punya hal yang harus di sampaikan lagi?" tanya Daffin beruntun.


"Enggak, tapi aku merasa ada yang aneh dengan polisi-polisi tadi" jelas Freya.


"Seorang Polisi tidak akan berani nerima atau pun memakan makanan dari orang lain di jam kerja, hal itu adalah larangan besar bagi seorang polisi, tapi mereka, mereka memakan kue buatanku" jawab menjelaskan.


"Maksudmu mereka polisi gadungan?" tanya Daffin.


"Aku rasa begitu" Jawab Freya.


Daffin pun terdiam karena melihat Freya yang sepertinya sangat marah.


Freya mulai melambatkan laju mobilnya setalah menemukan mobil polisi yang sejak tadi dia kejar, freya mengikuti mobil itu dari jarak aman hingga akhirnya mobil tersebut berhenti di suatu taman yang cukup ramai.


"Ayo turun" ajak Freya pada Daffin.


Daffin dan Freya pun pergi mengikuti kedua polisi tersebut dengan berjalan kaki, hingga akhirnya mereka berhenti dan bersembunyi di tempat yang menurut mereka aman.


"Sedang apa mereka di sana?" tanya Daffin, karena melihat dua polisi yang mereka temui tadi sedang duduk di kursi taman yang cukup sepi.


"Entahlah mungkin mereka sedang menunggu seseorang" jawab Freya menduga.


"Siapa?" tanya Daffin lagi.


"Kita akan tau secepatnya" jawab Freya.


Mereka menunggu cukup lama hingga akhirnya orang yang mereka tunggu pun datang, nampaklah seorang laki-laki berjas hitam, bertubuh cukup berisi dan juga tidak terlalu tinggi menghampiri dua polisi tersebut.


"Itu..." Ucap Freya yang terkaget dengan siapa yang datang dan menemui dua polisi tadi.


"Siapa?" tanya Daffin.


"Paman Marvin" ucap Freya sambil terduduk lemas.


Daffin yang kaget langsung menopang tubuh Freya agar tidak terjatuh.


"Marvin pamanmu?, Yang telah membunuh keluarga mu?" tanya Daffin terkaget.


"Iya" jawab Freya sambil menahan amarahnya.


"Tenanglah kendalikan dirimu atau mereka akan tau kita di sini" ucap Daffin.


Entah apa yang dibicarakan kedua polisi tersebut dengan Marvin, yang jelas Freya tau satu hal bahwa kedua polisi tersebut merupakan polisi yang sudah disuap oleh pamannya Marvin untuk suatu tujuan tertentu yang Freya tidak tahu.


"Untung aku tidak mengatakan tentang bukti video cctv itu" ucap Freya dalam hati.


Pertemuan Marvin dengan kedua polisi tersebut diakhiri dengan Marvin memberikan sebuah amplop uang pada kedua polisi tersebut, lalu mereka pun berpisah dan pergi dengan tujuan masing-masing.


Dengan cepat Daffin mengambil poto saat itu, yang mungkin bisa di jadikan bukti di kemudian hari.


Freya dan Daffin yang masih di sana sangat terkaget melihat apa yang terjadi di hadapan mereka,


Daffin melihat Freya yang nampak murung diam seribu bahasa, Daffin dapat merasakan kemarahan dan kesedihan yang menjadi satu di mata Freya, sangking geramnya Freya menahan amarahnya, tubuh Freya mulai gemetar hebat.


Daffin yang melihat itu reflek memeluk Freya dengan lembut.


"Tenanglah, kendalikan dirimu, jangan sampai amarah menguasaimu, dan jangan berbuat nekat tanpa berpikir panjang, Tenanglah, kita akan menemukan solusi untuk menyelesaikan masalah ini." Ucap Daffin panjang lebar.


Lama Daffin memeluk Freya hingga akhirnya getaran dari tubuh Freya berhenti dan berubah menjadi isak tangis yang memilukan.


"Hiks... Hiks... Hiks... "Suara tangis Freya.


"Tenang lah ada aku di sampingmu, kau tidak sendiri" hibur Daffin sambil mengelus lembut punggung Freya.


"Tenang lah" pinta Daffin lagi.