My Freya

My Freya
BAB 18



♦️Tekad Freya♦️


"Enak" ucap Freya.


"Alhamdulillah, kalau non suka" ucap ibu susi.


"Dan sekarang aku juga merasa tubuhku sudah jauh lebih baik." Ucap Freya.


"Syurlah ibu senang mendengarnya non." Jawab Ibu susi lagi senang. 


"Terimakasih ibu, kalau tidak ada bpk dan ibu Freya tidak tau harus berbuat apa" ucap Freya terlihat sendu tapi bibirnya menunjukkan senyuman getir di iringi ke dua bola mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


Sejenak Freya merasakan kehangatan kala berbincang dengan ibu susi, hingga malam pun tiba mereka masih sempat makan malam bersama di meja yang sama, di temani candaan dan gurawan ringan dari pak Hasan, membuat suasana malam itu semakin terasa hangat.


Namun semua itu hanya sesaat karena nyatanya pak Hasan dan ibu susi, memiliki kehidupan mereka sendiri, kehidupan yang sama yang pernah Freya miliki sebelumnya, tapi kini tidak bisa Freya sentuh dan tidak bisa Freya miliki lagi saat ini.


Freya kembali harus di sadarkan dengan keadaan kala pak Hasan dan ibu susi harus berpamitan untuk pulang ke rumah mereka malam itu.


"Non maaf ini sudah larut, kami harus pulang" ucap Pak Hasan penuh kehati-hatian.


"Apa kalian tidak mau menginap?" tanya Freya penuh harap.


"Maaf Non untuk malam ini kami tidak bisa menginap, karena kasihan ibu saya di rumah sendirian, apalagi ibu saya sudah tua." Ucap pak Hasan menjelaskan seraya menundukkan pandangannya karena merasa tidak enak hati karena menolak permintaan Freya .


"Ya sudah tidak papa, pak Hasan dan ibu susi, boleh pulang" ucap Freya dengan senyum penuh kepura-puraan.


"Non besok ibu akan menginap di sini, ibu janji" ucap ibu susi karena kasihan melihat kondisi Freya.


"Iya bu Terimakasih, saya akan sangat senang kalau ibu dan bpk mau menginap di rumah ini" ucap Freya setegar mungkin.


"Baiklah non, kami permisi" ucap pak Hasan dan ibu susi berpamitan.


"Iya pak, bu hati-hati" jawab Freya.


Pak Hasan dan ibu susi pun pergi dari rumah nenek Freya, meninggalkan gadis itu sendirian dalam kesunyian dan dinginnya malam.


"Sepi" ucap Freya lirih, kala dirinya menutup pintu utama rumah nenek Liliana.


"Trak... Trak..." Suara kunci pintu begitu nyaring terdengar jelas di indra pendengaran, kala Freya mengunci pintu utama.


Sejenak Freya menyadarkan dahinya di pintu, seraya menutup matanya dan memegang erat gagang pintu rumah milik nenek Liliana.


Freya mencoba menguatkan dirinya dan hatinya, karena jika malam tiba hati Freya terasa sakit, perih dan kebas.


Freya benar-benar rapuh saat ini, sampai rasanya dia ingin mati.


Setelah merasa sedikit tenang Freya pun menegakkan badannya lantas berbalik dan berkata...


"Selamat malam Mom, Dad, Nenek, hari ini cukup menyenangkan bukan, malam ini aku akan pergi tidur, selamat beristirahat." Ucap Freya dengan nada riang, mencoba membodohi dirinya dan menganggap Mommy, daddy dan neneknya masih ada di sampingnya.


Langkah kakinya membawanya pada kamar neneknya, di bukanya kamar tersebut...


"Deg Kosong...." ucap Freya dalam hati.


Senyum kepalsuan di bibir Freya pun hilang, Namun dengan cepat Freya kembali tersenyum dan berkata...


"Oh ya nenek kau harus tidur di kamar Mommy dan Daddy, karena aku akan menggunakan kamarmu dan kamar rahasia mu ok, jangan marah." Ucap Freya seraya masuk kemar neneknya dan mengunci pintu kamar neneknya dari dalam.


Lantas dengan cepat dia pun masuk ke dalam kamar rahasia milik neneknya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk dengan di selimut suasana yang begitu hening dan dingin.


Setelah pak Hasan dan ibu susi pergi, terlihat dua buah mobil hitam sedang mengintai rumah nenek liliana.


Mereka melihat pak Hasan dan ibu susi mulai menjauh dari rumah nenek Liliana, setelah pak Hasan dan ibu susi menutup dan mengunci pintu gerbang utama milik nenek Liliana.


"Mereka sudah pergi jauh bos" ucap salah satu laki-laki bertubuh kekar.


"Baiklah kita masuk." Jawab seorang laki-laki yang mereka panggil bos.


"Buka gerbangnya." Ucap Laki-laki itu lagi.


Dua orang di antara mereka pun berusaha membuka gerbang utama milik nenek Liliana yang sudah di kunci rapat oleh pak Hasan sebelumnya.


"Bagaimana pak Hasan bisa memiliki kunci gerbang?"


"Karena dia adalah orang kepercayaan nenek Liliana, itulah kenapa pak Hasan memiliki kunci gerbang, kunci pintu utama dan pintu belakang rumah nenek Liliana."


"Karna itu juga hanya pak Hasan dan istrinya yang di ijinkan kelur masuk rumah nenek Liliana oleh mendiang nenek Liliana dahulu."


"Trang..." Suara benturan alat pembuka gembok kunci yang membentur dinding pagar.


"Cit....... Brag" Suara pintu pagar berhasil di buka.


"Deg....."


"Suara apa itu?" tanya Freya pada dirinya sendiri.


Freya pun beranjak dari tempat tidurnya, di lihatnya monitor layar cctv.


Nampak dua mobil berwarna hitam memasuki halaman rumah neneknya.


"Siapa mereka? ..." tanya Freya pada dirinya sendiri.


"Apa jangan-jangan itu paman Marvin, dan bibi Riana" ucap Freya.


"Ini gawat, aku harus melakukan sesuatu." Ucap Freya.


Freya pun keluar dari kamar rahasia, di ambilnya senapan laras panjang milik kakeknya yang tergantung di dinding kamar.


Lalu Freya pun mengambil ransel berukuran sedang diambilnya dua buku pengeluaran dan pembayaran pagawai kebun milik neneknya, lalu di masukkannya ke dua buku itu ke dalam tas, tak lupa Freya juga memasukkan sisa uang milik neneknya yang ada dalam brangkas, lalu uang hasil panen, dompet neneknya yang sudah Freya isi dengan identitas baru miliknya, juga kartu Atm serta buku tabungan milik neneknya, terakhir Freya memasukkan ponsel neneknya yang dia gunakan saat ini.


Sebelumnya Freya menghungkan terlebih dahulu koneksi cctv rumah dan kebun ke dalam ponsel, setelah terhubung Freya pun memasukkan ponsel tersebut ke dalam tas, lantas membawanya keluar dari dalam kamar rahasia.


Freya membuka jendela kamar milik neneknya, lalu dengan sekuat tenaga Freya pun melempar jauh tas yang sudah Freya isi dengan barang-barang berharganya ke dalam semak-semak belukar di belakang rumah.


Freya melempar tas itu cukup jauh tepat ke area yang cukup gelap dan rindang dengan semak belukar yang belum di pangkas.


"Aman" ucap Freya.


"Kalau pun aku harus tiada malam ini, setidaknya harta milik nenek bisa di temukan oleh pak hasan dan ibu susi hingga besar harapanku harta tersebut bisa di gunakan dengan baik oleh mereka." Ucap Freya penuh harap.


Freya pun berbalik dan menutup rapat pintu jendela kamar, Langkah kaki Freya menuntunnya pada sebuah lemari pakaian milik nenek dan kakeknya, di bukanya pintu lemari tersebut, lalu di ambilnya sebuah kotak kecil yang berisikan peluru dari senapan laras panjang milik kakeknya.


Freya memasukkan semua peluru tersebut ke dalam senapan, dengan penuh tekat Freya berniat menghabisi paman dan bibinya juga Gisel anak mereka.


"Jika aku harus mati maka kalian juga harus ikut mati bersamaku" ucap Freya penuh tekad.