
♦️Berkorban♦️
"Pak si Abah mau menikahkan Daffin malam ini." Ucap Edwin berbisik di telinga bapak Medi.
"Apa... Kamu kalau ngomong yang bener..." ucap Bapak Medi.
"Eh Ini tuh beneran pak, ini Edwin di suruh jemput bapak sama ibu buat datang ke apartemen Daffin, terus Edwin juga di suruh cari penghulu dulu sama abah." Ucap Edwin lagi.
"Penghulu... Buat apa?" tanya Ibu yang ada di belakang Edwin dan Bapak Medi.
"Buat Daffin bu, si Abah sama Ambu mau nikahin Daffin malam ini." Ucap Edwin menjelaskan pada ibunya Ratih.
"Apa...." ucap ibu Ratih tak percaya.
"Mau di nikahin sama siapa? Kamu kalau ngomong yang bener, masa Daffin mau di nikahin mendadak begini?" tanya ibu Ratih beruntun.
"Iya Cep, lagian ibu sama bapak kemarin kan udah ketemu sama Ambu dan Abah mereka gak ada atuh bahas soal Daffin mau nikah hari ini." Jawab bapak Medi yang tak percaya pada putranya.
"Ya Karena kejadian ini benar-benar mendadak bapak, ibu. Pokoknya gak bisa di jelaskan sekarang, nanti aja Edwin ceritain semuanya, sekarang bapak sama ibu harus tutup warung mie ayam baksonya dulu." Pinta Edwin.
"Gak mungkin atuh Cep, lihat antrian pembeli banyak begitu, bisa marah mereka kalau kita tutup sekarang." keluh bapak Medi.
"Bapak lebih milih tutup warung atau kemarahan Abah ke bapak sama ibu?" tanya Edwin.
"Eh borokokok, pamali ngancam kitu ka kolot (orang Tua)" celetuk ibu Ratih.
"Ya karena emang gak ada pilihan lain ibu" jawab Edwin.
"Ya udah bapak telepon Si Aa Halim heula atuh, buat mastiin bener teu ini teh (betul apa tidaknya)" ucap bapak medi.
"Ya atuh pak telepon si Aa Medi aja dulu" jawab ibu.
"Ini atuh kamu bikin mie ayam buat pembeli." Ucap Bapak Medi pada Edwin.
"Iya.. Iya sini." Jawab Edwin.
Selama bapak Medi menghubungi Abah Halim melalui sambungan telepon, Edwin bertugas menggantikan peran bapak Medi membuat beberapa mangkok mie ayam di depan gerobak paten di dalam rukok milik keluarganya.
Sementara ibu Ratih memberikan mangkok-mangkok yang sudah siap saji pada para pembeli yang sudah duduk di dalam rukok sekaligus mengambil alih pembayaran mie ayam bakso dari para pembeli.
"Bagai mana pak?" tanya Ibu Ratih pada suaminya yang kini sudah kembali ke dalam rukok setalah sesaat dia menepi untuk menghubungi abah Halim.
"Benar bu kata si Cep, si Daffin mau di nikahin sekarang dan kita di suruh ke rumah si Daffin sekarang juga." Jawab bapak Medi.
"Astagfirullah jadi benaran ini teh?" tanya ibu Ratih masih tak percaya.
"Beneran atuh ibu, Edwin mah gak pernah bohong sama bapak jeung ibu." Ucap Edwin.
"Terus kumaha atuh warung pak? (bagai mana dengan warungnya pak?)" tanya ibu Ratih.
"Ya atuh Cep kamu keluar umumin sama pembeli." Pinta ibu Ratih.
"Aku lagi." Jawab Edwin mengeluh tapi sambil di laksanakan.
Edwin pun mengumumkan sebuah kebohongan kepada seluruh pembeli yang masih mengantri di luar Rukok, bahwa stok mie ayam bakso Pak medi sudah habis, jadi harus di tutup cepat dan hanya mampu melayani sekitar sepuluh bungkus saja, itupun hanya untuk di bawa pulang dan tidak boleh makan di tempat karena meja sudah penuh.
"Mohon maaf teteh-teteh, aa-aa, para pembeli semua di karenakan stok mie ayam sudah habis, yang tidak kebagian bisa datang lagi besok ya teteh-teteh cantik dan aa ganteng semua, kami mohon maaf." Ucap Edwin berbohong.
"Masa jam segini udah habis si, kita udah ngantri lama ni" keluh para pembeli.
"Mohon maaf ya kak, hehe... Datang saja lagi besok lebih pagi ya kak" ucap Edwin menjawab satu persatu kekecewaan para pembeli yang harus kembali dengan tangan kosong setelah menunggu terlalu lama.
Sementara sebagian orang terlihat merasa senang karena telah berhasil mendapatkan mei ayam bakso pak Medi walau pun tidak bisa makan di tempat dan harus di bawa pulang.
Setelah selesai melayani pelanggan terakhir, Edwin pun menutup pintu Rukok warung Mie ayam bakso lantas menguncinya dari dalam.
Semantara ibu Ratih merapikan kursi dan meja tempat duduk para pembeli
Dan bapak medi merapikan isi gerobak mie ayam bakso yang masih tersisa banyak, mereka harus besar hati melihat dagangan mereka yang tidak terjual semua hari ini.
Biasanya mie ayam bakso mereka selalu habis terjual, kalau pun ada sisa itu hanya dua atau sampai empat porsi saja tidak pernah sebanyak ini.
"Masih sisa banyak ya pak?" keluh ibu Ratih.
"Iya buk gak papa, kita bawa sebagian ke rumah si Daffin buat di makan bersama nanti di sana, sisanya kita simpan buat dagang lagi besok." Ucap bapak Medi.
"Iya pak biar ibu bantu kemas" jawab Ibu Ratih.
Edwin merasa sedih melihat dagangan orang tuanya yang masih tersisa begitu banyak dan tidak habis terjual.
Tapi Edwin dan orang tuanya sadar bahwa mereka tidak bisa mengabaikan permintaan Abah Halim dan Ambu Nuri.
Karena Abah Halim dan Ambu Nuri banyak sekali berjasa dalam kehidupan keluarga Edwin.
Dulu pernikahan Bapak Medi dan Ibu Ratih tidak di restui oleh orang tua ibu Ratih, dan Abah Halim yang membatu meyakinkan keluarga Ibu Ratih hingga bapak Medi dan Ibu Ratih bisa menikah.
Selain itu Abah Halim dan Ambu Nuri juga banyak membatu permasalahan Ekonomi bapak Medi dan Ibu Ratih.
Bahkan Daffin pun juga banyak membatu keluarga Edwin, salah satunya dengan mempekerjakan Edwin bersama dirinya, hingga Edwin pun bisa memiliki penghasilan besar dan mampu membelikan rukok dua lantai yang kini bapak Medi dan Ibu Ratih tempati untuk tinggal sekaligus berdagang mie ayam bakso di rukok tersebut.
Jika harus melihat kilas balik kehidupan Edwin dan keluarganya, maka mereka melihat begitu banyak kebaikan dan pertolongan yang Abah Halim dan Ambu Nuri berikan pada keluarga Edwin padahal sebelumnya mereka bukanlah keluarga melainkan hanya tetangga dekat saja, tapi Abah Halim, Ambu Nuri dan Daffin memperlakukan Edwin dan kedua orang tuanya sudah seperti keluarga.
Dan kali ini untuk pertama kalinya Abah Halim dan Ambu Nuri benar-benar meminta pertolongan pada keluarga Edwin, sudah jelas keluarga Edwin pasti harus siap membatu apapun dan bagai mana pun keadaannya.
Setalah merapikan warung dan mengamas sebagian mie ayam, bapak Medi dan ibu Ratih pun bergegas bersiap-siap, mereka mengganti baju terlebih dahulu.
Lalu dengan cepat mencari penghulu ke kantor urusan agama setempat dan membawa Penghulu tersebut ke apartemen Daffin.