My Freya

My Freya
BAB 10



❤️Taragedi pembunuhan 1❤️


Pagi hari yang cerah Freya sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk tamu-tamunya yang semalam tidur di rumahnya.


"Pagi?" sapa Daffin.


"Pagi, maaf sarapannya belum siap" ucap Freya.


"Tidak malah, biar ku bantu." Pinta Daffin.


"Em tidak usah ini hampir selesai kok" ucap Freya tanpa melihat Daffin.


"Baiklah" ucap Daffin, sambil memperhatikan Freya yang sedang seriyus membuat sarapan.


Tanpa Daffin sadari kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seyuman.


"Ehem ehem..." Edwin datang sambil berdehem keras.


"Mata tolong di kondisikan itu mata" sindir Edwin.


"Apaan sih" protes Daffin sambil memalingkan pandangannya dari Edwin dan Nindy yang baru saja bergabung di meja makan.


"Ih.. Pagi-pagi udah di buat kesel aja, lagian ngapain sih Daffin ngeliatin cewe itu sampe segitunya" ucap Nindy dalam hati.


"Silahkan sarapanya sudah siap" ucap Freya.


"Wah... Kamu yang masak sendiri Freya?" tanya Edwin.


"Kamu?" ucap Daffin kesal.


"Hahah... Biasa aja kali Bos" jawab Edwin sekenanya.


Daffin di buat semakin kesal karena melihat Freya membalas senyuman Edwin.


"Sudah-sudah ayo kita sarapan, nanti keburu dingin kan gak enak" ucap Freya.


Mereka pun mulai sarapan bersama, setalah sarapan tiba-tiba terdengar suara bel dari pintu utama.


"Sepertinya ada tamu saya lihat dulu" ucap Freya.


Daffin yang melihat Freya pergi berinisiatif menyusul Freya, dia sendiri cukup penasaran dengan tamu yang datang.


"Ceklek..." Pintu terbuka nampak dua orang pria berdiri di teras luar rumah.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya Freya.


"Selamat Pagi, kami dari pihak kepolisian yang menangani kejadian kasus Pembunuhan di rumah ini dua minggu yang lalu." Ucap salah satu polisi yang bernama Hadi.


"Ah... Iya ada yang bisa saya bantu?" tanya Freya lagi.


"Apa benar anda dengan nona Freya salah satu korban yang selamat dari kejadian pembunuhan dua minggu lalu?" tanya Polisi Hadi.


"Iya benar" jawab Freya gugup.


"Permisi ada yang bisa saya bantu" sapa Daffin pada kedua polis tersebut.


"Kami..." belum sempat bapak polisi tersebut melanjutkan pembicaraannya Pak Hasan datang dengan istrinya.


"Pak Hasan" sapa polisi Hadi.


"Pak Polisi" jawab Pak Hasan.


"Nona Freya ini Pak polisi yang saya hubungi pada saat menemukan keluarga nona Freya waktu itu" ucap Pak Hasan.


"Ah iya, kalau begitu kita bicara di dalam saja" ucap Freya.


Mereka semua pun masuk ke dalam rumah, Freya mempersilahkan mereka semua duduk dan meminta istri pak Hasan membuatkan minum untuk semua tamu.


"Bu maaf boleh saya minta tolong buatkan minum?" pinta Freya meragu.


"Tentu non saya siap membatu lagi pula sebelumnya saya juga bekerja di sini pada nyonya liliana sebagai pembantu beliau, dan nona tau itu" ucap bu susi istri pak Hasan.


"Terimakasih" ucap Freya.


"Jadi kedatangan bapak kesini..." Tanya Freya terpotong.


"Kami datang ke sini untuk meminta keterangan anda sebagai korban yang selamat karena kejadian itu" potong polisi Hadi.


"Maksud bapak saya harus menceritakan kembali apa yang terjadi saat itu?" tanya Freya curiga.


"Benar, kami tahu ini tidak mudah tapi kami harap anda bisa bekerja sama, karena kami membutuhkan keterangan dari anda untuk menyelidiki kasus ini lebih lanjut." Jelas polisi Hadi.


"Ah iya tidak masalah saya akan menjelaskan semuanya yang saya alami" jawab Freya.


Freya pun kembali berbicara dengan dua polisi yang ada, perlahan-lahan Freya mulai menceritakan semua yang terjadi sambil terisak, hatinya kembali hancur saat mengingat kembali masa-masa kelam itu.


Nindy yang melihat Daffin begitu memperhatikan Freya dari kejauhan sukses terbakar api cemburu, wajahnya memerah karena menahan kesal,


Sedangkan Edwin dia justru sebaliknya dia nampak tersenyum-seyum sendiri melihat bagaimana Daffin menenangkan Freya, karena bagi Edwin ini sebuah hal baik yang membuktikan bahwa Daffin bisa melupakan cinta pertamanya.


- FLASHBACK ON -


Sore hari yang cerah nenek Lilian di kaget kan dengan kedatangan anak, menantu dan cucu kesayangan yang datang tanpa pemberitahuan, menumbuhkan rasa bahagia di hati wanita paruh baya tersebut.


"Nenek" sapa Freya penuh keceriaan, dia langsung berlari memeluk nenek liliana setelah turun dari dalam dalam mobil.


"Cucu kesayangan nenek datang" ucap Nenek liliana Yee dengan mata berkaca-kaca sangking terharunya.


"Mommy" panggil Amanda Yee yang tak lain adalah ibu kandung Freya.


"Sayang" jawab Liliana Yee sambil menangis haru.


"Hai mom" sapa Emmanuel Paul Leo, yang tak lain ayah kandung Freya.


Freya Paul Leo adalah gadis cantik berdarah campuran Indonesia, Jepang, dan Belgia, kini Freya berusia 20 tahun. Freya merupakan putri tunggal dari Amanda Yee dan Emmanuel Paul Leo.


Amanda Yee adalah ibunya Freya beliau memiliki darah campuran Indonesia dan Jepang, itu karena Nenek Liliana berasal dari Indonesia yang menikah dengan Kakek Hideyosi Yee yang berasal dari Jepang,


Dari pernikahan nenek dan kekeknya mereka memiliki satu orang putri yaitu Amanda Yee yang tak lain adalah ibu dari Freya yang menikah dengan Emmanuel Paul Leo yang berasal dari Belgium atau kita kenal dengan Belgia.


Saat itu mereka bertiga datang ke Indonesia mengunjungi Nenek Liliana Yee sambil berlibur, Freya yang selalu di manja orangtuanya begitu antusias saat berlibur di negara neneknya, setiap harinya Freya menemani neneknya pergi ke kebun melihat perkebunan yang luas dan indah.


Hingga suatu malam mereka berempat sedang bersenda gurau di taman belakang rumah sambil menikmati Barbecue, di kagetkan dengan kedatangan Paman Marvin secara tiba-tiba,


Paman Marvin dia adalah adik angkat dari Daddy Emmanuel ayahnya Freya, dia datang tidak sendiri, dia datang bersama istrinya Riana dan putrinya Gisel.


"Marvin kau datang ke sini?, kenapa tidak memberitahuku?" tanya Daddy Emmanuel.


"Iya kakak aku datang dengan sebuah permintaan" ucap Paman Marvin to the point.


"Permintaan? Maksudmu!" Tanya Daddy Emmanuel.


"Mari kita bicara di dalam kakak ipar" pinta bibi Riana.


"Tentu mari" ucap Daddy Emmanuel ramah.


Daddy Garvin membawa masuk Paman Marvin, bibi Riana dan Putrinya Gisel, Daddy Emmanuel membawa mereka ke ruang keluarga, dan memanggil semua orang untuk berkumpul dengan keluarga dari adik Daddy Emmanuel.


Mommy Amanda dan Freya sangatlah terkaget melihat keluarga Marvin ada di rumah neneknya.


"Kalian datang kemari wah, luar biasa jika tau kalian akan berkunjung mungkin kami akan menyiapkan penyambutan untuk kedatangan kalain" ucap Mommy Amanda sedikit curiga.


"Tidak masalah kakak ipar, kitakan keluarga jadi tidak perlu ada penyambutan" jawab bibi Riana.


"Tadi kalian bilang datang kemari untuk sebuah permintaan, permintaan apa maksudnya?" tanya Daddy Emmanuel.


"Permintaan?" ucap mommy Amanda dan Freya secara bersamaan.


"Maksudnya?" tanya Freya lagi tak senang.


"Tenanglah kami datang kemari dengan baik-baik, jadi tolong kabulkan pemintaan kami dengan baik-baik pula" jawab bibi Riana.


"Bisa kita to the point saja" ucap Daddy Emmanuel yang tidak suka berbelit-belit.


"Aku selalu suka dengan sikapmu kaka ipar Emmanuel kau tidak suka basa basi dalam hal apapun ." Jawab Aunty Riana.


"Katakanlah Marvin apa tujuan kita datang kemari" pinta bibi Riana.


"Kak, aku datang untuk meminta seluruh harta dan aset milikmu beralih nama menjadi milikku" pinta paman Marvin.


"Apa?" jawab Daddy, Mommy, Nenek dan Freya berbarengan.


"Kau sudah gila?" tanya Daddy Emmanuel.


"Tenanglah kakak ipar, kakak masih akan mengelola semua aset itu tapi hanya kepemilikannya saja yang berubah menjadi milik adikmu Marvin" jawab bibi Riana.


"Seluruh Hartaku adalah hasil dari kerja kerasku, selama ini aku berjuang dari nol untuk membangun Bisnis ku, dan kalian dengan mudahnya tiba-tiba meminta aku memberikan semua hartaku tidak mungkin." tolak Daddy Emmanuel tegas.


"Jangan mempersulit keadaan Kakak Ipar" ucap bibi Riana.


"Masuklah" Perintah bibi Riana pada beberapa preman yang dia sewa.


Tak lama muncullah beberapa preman bertubuh besar dan menyeramkan masuk kedalam ruang keluarga.


Riana mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya, di sana tertulis surat pernyataan peralihan seluruh aset dan perusahaan milik Emmanuel ke pada Marvin adik angkat Daddy Emmanuel.


"Jangan membuatku melakukan kekerasan kakak ipar tandatangani surat pernyataan ini dengan damai, maka kau dan seluruh keluargamu akan selamat." Perintah Bibi Riana.