My Freya

My Freya
BAB 15



❤️Panen di kebun Nenek❤️


"Jika gadis itu hidup maka kamu tidak akan pernah bisa memiliki Jhon, dan kamu akan melihat Jhon di miliki gadis itu, kamu mau?" tanya Riana lagi.


"Tidak mom" jawab Gisel.


"Kalau begitu, bantu mom untuk melenyapkan gadis itu untuk selamanya." Ucap Riana.


Gisel hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, walau sebenarnya dia masih sangat ragu.


Pagi hari di kediaman mendiang Nenek Liliana Yee, Freya di temani pak Hasan dan istrinya ibu susi, untuk melihat batas tanah perkebunan milik nenek Liliana,


Dengan membawa lembaran fotocopy sertifikat tanah perkebunan Freya melihat setiap sisi batas tanah milik neneknya.


"Nah Sampai sini Non batas tanah perkebunan milik nyonya liliana dan mendiang Tuan Hideyosi (Kakek Freya), bisa non Freya lihat sendiri kan, semua sisi tanah sudah diberi pembatas yang jelas, dengan menggunakan pagar beton di setiap sisi." Ucap Pak Hasan menjelaskan.


"Iya pak sekarang saya tau semua batas kepemilikan tanah milik Nenek saya." Jawab Freya.


"Sangat luas" ucap Freya lirih.


"Nenek, kakek" panggil Freya dalam hati, merasa perih dan sakit secara bersamaan tatkala merasa hatinya kini sungguh terasa hampa.


Bola mata Freya terasa panas menahan laju airmata yang mendorong paksa ingin keluar seiring dengan hatinya yang terasa kebas.


"Kapan kiranya kita akan panen pak?" tanya Freya karena melihat semua jenis sayuran yang di tanam neneknya dan para pekerja sudah siap panen."


"Sekarang pun sudah bisa non, kita justru lagi menunggu perintah dari non Freya." Jawab pak Hasan.


"Kalau begitu lakukan saja pak, lakukan seperti yang biasa bpk dan nenek lakukan, saya percaya pak Hasan bisa membantu saya mengurus perkebunan ini." Ucap Freya.


"Jujur saja saya sangat belum memahami cara kerja di bidang pertanian, jadi kiranya pak Hasan mau menolong dan membimbing saya untuk mengurus perkebunan nenek." Pinta Freya.


"Non tolong jangan sungkan pada saya, dan tolong jangan perlakuan saya dan istri saya seperti orang asing,"


"Lagi pula saya bekerja pada mendiang nyonya liliana dan mendiang Tuan Hideyosi sudah sangat lama, dan karena bekerja pada beliau saya bisa memiliki Rumah yang layak, kendaraan yang bagus untuk di naiki, dan bisa menyekolahkan anak-anak saya sampai tinggi."


"Sebenarnya saya banyak berhutang budi pada Taun dan Nyonya, dan yang paling tidak bisa saya bayar adalah, jasa Taun dan Nyonya yang sudah mengangkat derajat saya, istri dan anak-anak saya."


"Dulu kami sangat miskin non, bahkan banyak orang yang tidak mau memperkerjakan kami waktu itu, karena kami sering sakit-sakitkan, mereka bilang takut tertular penyakit yang kami derita, alhasil kami tidak memiliki pemasukan sama sekali, hal itu pula yang menjadi penyebab kami harus kehilangan anak Pertama kami yang kala itu sedang sakit parah, dan kami tidak bisa membawanya ke rumah sakit, karena tidak memiliki uang sepeser pun."


"Tidak ada yang menolong kami saat itu, kecuali Tuan Hideyosi dan nyonya Liliana, mereka, mengobati luka hati kami, dengan membawa kami ke rumah sakit hingga kami sembuh, lalu memberikan pekerjaan kepada kami, hingga kami bisa berdiri dengan nama baik kami sendiri, karena mereka kami sudah tidak di pandang sebelah mata lagi oleh masyarakat di sini." tutur pak Hasan panjang lebar.


Pak Hasan dan ibu susi menceritakan kisah masalalu mereka dengan di iringi air mata, hingga membuat Freya pun tak kuasa lagi menahan air matanya,


Freya sangat bangga memiliki nenek dan kakek yang begitu baik pada semua orang, hingga semua orang pun tak ragu menceritakan kebaikan nenek dan kakeknya.


"Terimakasih karena sudah mau menceritakan semuanya terutama tentang nenek dan kakek." Ucap Freya seraya menyeka air matanya yang tak mau berhenti mengalir dari ke dua bola mata indahnya.


Kala itu Sedikit lucu tapi menyentuh, mereka bertiga menangis bersama di tengah trik matahari yang menyengat, Mata mereka nangis tapi bibir mereka tersenyum.


Jam 10.00 tepat Freya dan pak Hasan memutuskan untuk mulai memanen semua sayuran di kebun.


Pak Hasan pun memberikan instruksi kepada semua para pekerja untuk mulai memanen semua sayuran di perkebunan nenek Liliana Yee.


Pak Hasan mengawasi setiap pekerjaan para petani, sementara Ibu Susi memberi tahu Freya bagaimana cara membayar para pekerja.


Dengan bermodalkan buku catatan milik neneknya dan saran dari ibu susi Freya pun mulai mengetahui dan mengerti cara memberi upah bayaran pada para pekerja di kebun nenek.


Pukul 17.00 semua sayuran pun berhasil di panen, Freya di buat takjub melihat kepiawayan para pekerja dalam memanen semua sayuran.


Freya pun mulai memberikan upah hasil panen pada para pekerja sesuai dengan hasil kerja mereka masing-masing.


"Sudah semua?" tanya Freya.


"Sudah non, kebun tinggal di bersihkan dan di cangkul untuk menanam sayuran baru." Jawab pak Hasan.


"Ke mana kita akan menjualnya?" tanya Freya.


"Ke pasar non" jawab pak Hasan.


"Truk langganan biasanya malam baru sampe non" ucap pak Hasan.


"Baiklah" jawab Freya.


Malam hari truk pengangkut sayuran pun tiba, semua sayuran di angkut dan di masukan ke dalam truk, untuk di hantarkan ke pedagang-pedagang di pasar-pasar yang sudah menjadi pelanggan tetap dari perkebunan neneknya.


Pukul satu pagi, dengan mengendarai mobil milik neneknya, Freya di temani pak Hasan pergi ke pasar-pasar untuk memastikan setiap sayuran yang mereka kirim sampai di tangan para pedagang dengan aman, sekaligus mengambil uang hasil penjualan sayuran itu sendiri.


Hampir di setiap ruko pedagang langganan, Pak Hasan dengan ramah memperkenalkan Freya pada semua orang yang dia kenal.


Freya di kenal kan sebagai cucu dari Nyonya Liliana dan Tuan Hideyosi, rupanya banyak yang mengenal baik nenek dan kakeknya, bahkan mereka semua belum mengetahui tentang kematian nenek Liliana, pak Hasan pun sepertinya sama sekali belum memberitahukan kematian dari Neneknya.


Hal itu di buktikan dengan banyaknya yang masih menitipkan salam, menitipkan makanan, dan menitipkan satu kompan susu murni untuk neneknya.


"Ya ampun Cucunya bu Lili, Cantik banget ya, mau turun ke pasar lagi di jam segini, jarang-jarang ada anak gadis yang mau bantuin orang tua."


"Penerus Bu Lili, wah cantik ya, wajar si ibu lilinya saja masih cantik toh di usianya yang sekarang."


"Berasa liat bu Lili waktu masih muda ya, mirip."


"Neng abang pelanggan tetap ibu Lili, sering-sering mampir ya."


"Neng kalau bisa tiap hari dateng ya"


"Bu Lili tuh orangnya baik banget, saya aja sering kasbon sayuran sama beliau."


Begitulah kira-kira sambutan hangat para pedagang pasar menyambut keberadaan Freya sebagai penerus perkebunan nenek Liliana.


Hati Freya terenyuh melihatnya betapa Nenek dan kakeknya sangat di terima baik oleh semua orang, hingga rasanya Freya tak kuasa mengatakan kalau neneknya telah tiada saat ini.


Tapi Freya sadar bahwa kepergian neneknya tidak bisa ia sembunyikan terlalu lama, hal itu haruslah di ketahui semua orang, dengan besar hati, Freya mengatakan kalau Neneknya telah tiada.


Mengenai alasan kematiannya Freya menjawab bahwa neneknya meninggal karena sakit.


Dia tidak sanggup jika harus mengatakan kalau Neneknya meninggal karena di bunuh oleh paman dari Daddynya.