
❤️Kamar Rahasia Milik Nenek❤️
Hari mulai sore, semua para pekerja satu persatu mulai kembali pulang, begitupun dengan Daffin dan Edwin, walaupun sebenarnya baik Daffin dan Edwin merasa hawatir jika harus meninggalkan Freya sendiri di rumah besar tersebut, apalagi rumah besar itu cukup jauh dari pemukiman masyarakat.
"Aku sungguh tidak apa-apa, kalian pulanglah, aku bisa sendiri" ucap Freya untuk kesekian kalinya mengatakan kalimat itu pada Daffin dan Edwin.
"Baiklah kalau begitu, kalau ada apapun kau telepon aku ya" pinta Daffin.
"Baiklah aku janji" jawab Freya meyakinkan.
Dengan terpaksa Daffin dan Edwin pun pergi dari rumah nenek Freya, dan meninggalkan Freya sendiri di sana.
"Daf kau yakin meninggal gadis itu sendiri?" tanya Edwin sedikit risau.
"Bagaimana jika para penjahat itu datang lagi?" tanya Edwin lagi.
"Sebenarnya aku tidak yakin, tapi kau tadi denger bukan, dia ingin sendiri dan tidak mau di temani" jawab Daffin.
"Walau bagaimana pun kita tidak bisa memaksanya, kita harus menghargai apa yang menjadi keputusannya" jawab Daffin lagi.
"Benar juga" Jawab Edwin.
Setalah semua orang pergi dari rumah, Freya langsung masuk kedalam rumah dan mengunci rapat semua pintu dan jendela rumah, tak lupa Freya juga mematikan semua lampu rumah kecuali satu kamar, yaitu kamar Nenek Liliana.
Freya memasuki kamar tersebut dan langsung membuka kalung kecil milik mommynya, dilihatnya dengan detail liontin tersebut dan...
"Crek..." Liontin itu terbuka, di dalamnya ada beberapa angka berjejer rapih, dan Freya bisa simpulkan bahwa angka-angka yang ada di dalam kalung liontin mommynya adalah sebuah Kode Sandi rahasia milik Daddynya.
"Ini pasti Kode Sandi harta berharaga Daddy, itu artinya Daddy pasti sudah sangat tahu betul hal ini pasti akan terjadi.. Hiks... Hik.. , Dan itulah sebabnya kenapa Daddy membuat kode sandi ini" ucap Freya sambil menangis tersedu-sedu.
Lalu Freya mengamati seluruh ruangan kamar neneknya, dan Freya mulai mengingat tentang isi brangkas yang ada di dalam lemari pakaian neneknya.
"Brangkas, iya Brangkas Nenek" ucap Freya sambil menghapus air matanya.
Freya berdiri dan dilihatnya Brangkas itu berukuran sedang sehingga mudah di pangku dan di alihkan, Freya memindahkan brangkas tersebut ke luar lemari dan menaruhnya di atas lantai, Freya berusaha membuka pintu Brangkas milik neneknya tapi Freya masih belum bisa membukanya.
Freya mencoba memasukkan semua tanggal lahir dari neneknya, kakeknya, Mommynya Daddynya dan dirinya sendiri. Tapi tetap tidak bisa, lama Freya berkutat dan berpikir cara membuka Brangkas neneknya tapi tetap saja hasilnya masih sama.
Freya sudah mencoba memukulnya, mencongkelnya dan mencoba berbagai hal, tapi brangkas tersebut masih belum bisa di buka, karena brangkas itu adalah sejenis brangkas yang tahan Api, tahan air, tahan banting, dan anti penyok, sungguh brangkas neneknya adalah brangkas jenis langka yang mampu menjaga isinya tetap aman walaupun di simpan bertahun-tahun.
Hampir tiga jam sudah Freya berusaha membuka brangkas tersebut tapi tetap saja tidak bisa di bukannya, hingga akhirnya Freya lelah sendiri dan membaringkan tubuhnya di lantai.
"Nenek tolong Freya, izinkan Freya membuka brangkas milik nenek" ucap Freya sambil memejamkan matanya.
"Ting..."
Satu pesan masuk di ponsel milik nenek Freya, Freya membuka pesan tersebut dan di lihatnya nama Daffin si pengirim pesan.
Daffin : "Apa semua baik-baik saja?"
Freya : "Iya semua baik, dan aku akan mulai tidur" jawab Freya berbohong.
Daffin : "Syukurlah, kalau begitu selamat beristirahat."
Setelah mengatakan itu Daffin pun tidak lagi membalas pesan dari Freya, Freya menaruh ponselnya di ranjang dan dia pun merebahkan dirinya di kasur empuk miliknya dan mulai mencoba untuk tertidur.
Lalu tiba-tiba Freya terbangun dari tidurnya karena mengingat satu kata yang sering di ucapkan neneknya, yaitu tentang hari eniversary pernikahan nenek dan kakeknya dengan cepat Freya berusaha kembali membuka brangkas milik neneknya, dengan menggunakan tanggal pernikahan nenek dan kekek.
Dengan perasaan cemas Freya mulai menekan angka demi angka pada tombol pintu brangkas tersebut.
"Terbuka aku mohon terbuka" pinta Freya dan..
"Crak.."
Suara pintu brangkas terbuka.
"Terbuka, Ahhhh.... Terbuka. Terimakasih nenek, Terimakasih." Ucap Freya dengan penuh kebahagiaan.
Dilihatnya isi brangkas tersebut ada beberapa set kotak perhiasan milik neneknya dengan harga yang sepertinya cukup mahal, ada beberapa pak uang kes, dan ada pula surat-surat berharga milik neneknya, mulai dari surat kepemilikan rumah, hingga surat-surat hak kepemilikan tanah perkebunan milik nenek Liliana.
Dan satu hal yang membuat hati Freya begitu pilu, ternyata neneknya sudah membuat surat Wasiat untuk Freya dan mommynya dan sudah memindahkan semua Aset berharga miliknya atas nama Mommy Amanda dan Freya.
Freya menangis haru melihat itu semua, begitu banyak aset berhaga di dalam brangkas neneknya dan sebagaian aset tersebut adalah miliknya lengkap dengan surat Warisan yang sudah di siapkan neneknya.
"Nenek, terimakasih kau sudah menyimpan semua ini di dalam berangkasmu, kau tahu aku sangat bersyukur, dengan semua ini aku bisa melanjutkan hidupku sekarang, aku janji Mommy, daddy, Nenek dan kakek, aku akan hidup dengan baik mulai saat ini, dan aku janji akan memanfaatkan semua peninggalan nenek dengan sebaik mungkin hiks... Hik... " ucap Freya sambil menangis rindu keluarganya.
"Nenek kau memang nenek terbaik sedunia, kau mencintaiku dan menyayangiku dengan tulus, dan akupun sangat mencintaimu dan menyayangimu" ucap Freya lagi.
Saat Freya akan menyimpan kembali semua surat-surat yang Freya ambil ke dalam brangkas, Tiba-tiba mata Freya tertuju pada satu surat kecil betuliskan,
"Jika kau benar hebat kau akan menemukannya"
"Apa maksudnya?" tanya Freya pada dirinya sendiri.
"Jika kau benar hebat kau akan menemukannya" ucap Freya mengulangi isi bacaan surat kecil tersebut.
Otak Freya kembali dibuat berpikir akan arti dari kaliamat tersebut, "Apa jawabannya nenek?" tanya Freya pada dirinya sendiri.
Freya kembali harus sibuk memikirkan arti dari surat yang dia temukan, dia sungguh tidak tidur malam itu, Freya melihat sekeliling kamar tersebut lalu Freya teringat akan keberadaan kamar neneknya yang di tempati Freya saat ini.
"Jika kau benar hebat kau akan menemukannya" Freya mengulangi perkataannya.
"Kamar rahasia, ya.. Jawabnya pasti kamar rahasia, di sini pasti ada sebuah ruangan lagi, aku yakin" ucap Freya sambil meraba-raba setiap dinding yang ada di ruangan tersebut, tapi Freya di buat harus berjuang lagi mencari kamar rahasia neneknya.
"Ah.. Tidak ada" ucap Freya putus asa.
Freya menyandarkan tubuhnya di dinding dekat dengan hiasana kamar berupa pot bunga yang cukup besar.
Freya meraba-raba daun bunga platik sejenis kuping gajah di sampingnya, karena Freya merasa sangat kesal, Freya bersaha meluapkan kekesalannya pada pot bunga tersebut, dengan cara menendang pot bunga itu, akan tetapi karena pot tersebut memeng sangat besar dan berat alhasil pot bunga itu bukannya jatuh malah bergeser.
Tanpa Freya sadari ternyata pot bunga besar sejenis kuping gajah itu adalah kunci dari kamar rahasia yang Freya cari.
Freya berdiri dari duduknya, saat Freya berbalik ke arah dinding, Freya membolakan matanya dengan mulut menganga setelah menemukan satu dinding terbuka.
"I.. Itu.. Kamar rahasia milik nenek" ucap Freya tak percaya.