
♦️Keluar♦️
"Plang..." Suara gagang sapu lantai yang jatuh.
Freya pun jelas sangat kaget mendengar sesuatu yang tiba-tiba bersuara di belakang tubuhnya.
Dengan cepat Freya pun memutar badannya untuk melihat suara apa yang ada di belakang tubuhnya dan betapa tak percayanya Freya saat menemukan satu sosok wanita cantik bertubuh sedikit gemuk tengah memandang dirinya dengan mata melotot penuh pertanyaan, dan penuh rasa keget sama seperti dirinya.
"Ya ampun ke tahuan" ucap Freya dalam hati.
"Siapa kamu?" tanya Ambu Nuri dengan berteriak.
"Mati aku" ucap Freya lagi dalam hati.
"Hey jawab siapa kamu kenapa ada di kamar anak saya?" ucap Ambu sambil berteriak.
Freya tidak menjawab dia hanya menggeleng-menggelengkan kepalanya, karena bingung harus menjawab apa dan bingung harus berbuat apa.
"Abah... Cepat ke sini Abah" Panggil Ambu sambil berteriak sangat keras.
"Ada apa Ambu pagi-pagi sudah teriak-teriak, gak enak sama tetangga" Oceh Abah Halim sambil berjalan memasuki kamar Daffin.
Freya yang mendengar Ambu Nuri berteriak memanggil Abah Halim sontak saja membuat Freya semakin bertambah panik.
Freya bergegas mengambil baju dari dalam lemari dan dengan cepat Freya berlari ke arah kamar mandi dan mengunci diri di kamar mandi.
"Hey kamu mau pergi ke mana?" cegah Ambu mencoba menghalangi langkah kaki Freya yang tiba-tiba berlari hendak masuk ke dalam kamar mandi.
"Maaf..." Ucap Freya saat dia sedikit menangkis tangan kiri Ambu dan berhasil masuk ke dalam kamar mandi.
"Ambu?" Panggil Abah dengan nada yang terdengar mengerikan.
"Siapa wanita itu?" tanya Abah Halim terlihat menahan marah.
"Ambu juga gak tau atuh Abah, dia tiba-tiba sudah ada di dalam kamar Daffin." Jawab Ambu yang terlihat gusar dan kebingungan.
"Mungkin saja dia maling Abah?" Ucap Ambu mencoba tidak berburuk sangka pada Daffin putranya.
"Maling.... Memangnya ada maling yang menyimpan semua bajunya di dalam lemari Daffin?" tanya Abah Halim saat melihat sebagian lemari Daffin yang terbuka sudah terisi oleh baju-baju milik Freya.
Dengan menahan rasa gusar, menahan rasa kecewa dan menahan rasa sedih Ambu Nuri pun mencoba membuka lemari milik Daffin guna memastikan kembali bahwa gadis yang dia temukan di dalam kamar milik Daffin putranya adalah seorang maling yang sengaja memasuki kamar Daffin untuk mencuri.
Namun Ambu Nuri harus menenggak pil Palit saat melihat dan membuka lemari pakaian milik putranya lebar-lebar, ternyata benar kata Abah di dalam lemari tersebut terpajang dan tersusun rapih baju laki-laki dan baju perempuan milik Daffin dan Freya di dalam satu lemari yang sama.
"Deg...." bagaikan di tikam sebilah pisau yang begitu tajam hati Ambu Nuri amat sangat merasa kecewa karena perbuatan putranya yang telah membawa seorang gadis ke dalam rumahnya bahkan sampai ke dalam kamarnya.
"Daffin... Putra ku" ucap Ambu seraya memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.
"Minta wanita itu untuk keluar dari dalam kamar mandi, Abah akan telepon Daffin dan meminta penjelasan darinya." Ucap Abah Halim sembari pergi ke dalam kamar yang dia tempati di Apartemen Daffin dan mengambil ponsel miliknya.
Sedangkan Ambu dia terduduk lemas di atas lantai sembari bersandar pada lemari milik Daffin. Wanita paruh baya tersebut nampak terlihat sangat-sangat kecewa atas apa yang dia lihat.
"Ada seorang wanita di dalam kamar putraku" ucap Ambu Nuri merasa kecewa.
"Tidak... Putraku anak yang baik, anak yang sholeh, dia tidak mungkin sampai hati merusak kepercayaan orang tuanya." Ucap Ambu Nuri berusaha untuk tetap mempercayai putranya.
"Dia anak yang baik" ucap Ambu lagi berusaha menyangkal apa yang telah di lihat saat ini.
Ambu Nuri pun berdiri dari duduknya dia menguatkan hatinya untuk meminta seorang wanita yang kini sedang bersembunyi di dalam kamar mandi untuk keluar dari dalam kamar mandi.
"Tok tok tok...." Suara ketukan pintu.
"Keluarlah" pinta Ambu Nuri pada Freya dengan nada yang dia tahan.
Kini Freya sudah mengenakan semua pakaiannya, dan dia sedang menunggu Daffin datang untuk Menolongnya.
"Tok tok tok..." terdengar kembali ketukkan pintu dari luar kamar mandi.
"Keluarlah kita perlu bicara." Pinta Ambu lagi.
"Freya semakin panik dia bahkan mengacak-acak rambutnya karena kebingungan.
"Kalau kau tidak keluar sampai hitungan ke tiga saya akan mendobrak pintunya" ucap Ambu Nuri mulai tersulut amarah.
"Satu...." Ucap Ambu mulai menghitung.
"Dua...." ucap Ambu lagi.
"Ya ampun ya ampun bagai mana ini" Ucap Freya gusar tak tenang.
Freya pun mulai merapihkan rambutnya yang acak-acakan lalu menarik napas perlahan, dan saat mendengar hitungan ke tiga Freya pun berlari ke arah pintu kamar mandi dan mulai membuka pintu tersebut dengan perlahan.
"Tiga...." Ucap Ambu Nuri berbarengan dengan pintu kamar mandi yang terbuka.
"Clak..." Suara pintu kamar mandi yang mulai terbuka.
Perlahan Freya membuka pintu kamar mandi dengan perasan takut, dia bahkan tidak berani menunjukan wajahnya pada Ambu Nuri.
Ambu Nuri melihat pintu kamar mandi yang terbuka tapi tidak melihat wanita yang dia temukan di depan pintu,
Ya karena Freya sengaja bersembunyi di belakang pintu kamar mandi.
"Kelurlah" pinta Ambu Nuri geram.
Terdengar nada kemarahan dalam setiap kata yang keluar dari mulut Ambu Nuri.
"Deg.... Deg.... Deg..." Suara deru jantung Freya.
Dengan sangat terpaksa Freya pun membuka pintu kamar mandi lebar-lebar dan berusaha memberanikan diri menemui Ambu Nuri.
"Deg... Deg.. Deg..." Freya kembali merasakan deru jantungnya berdetak semakin kencang saat melihat wajah Ambu Nuri dengan cepat Freya pun menundukkan kepalanya menghindar dari tatapan tajam Ambu Nuri.
Freya benar-benar pasrah dia benar-benar sudah rela jika Ambu Nuri menganggapnya wanita yang tidak baik karena telah berani tidur di dalam kamar putranya.
"Ya ampun kenapa jadi begini, kalau saja kejadian ini terjadi di negaraku belgia maka aku tidak akan setakut ini, karena di sana hidup dengan laki-laki atau pun perempuan pilihan hati dalam satu rumah atau satu kamar pun tidak akan jadi masalah sama sekali." Ucap Freya dalam hati.
"Tapi tidak di sini di Indonesia, negara ini terlaru penuh dengan aturan, norma dan kehormatan, hal seperti ini pasti akan di pandang buruk oleh orang lain, dan yang pasti hukumnya sangat berdosa dalam semua aturan agama yang ada di Indonesia." rancu Freya lagi masih dalam hati
"Malang sekali nasibmu Freya" ucap Freya dalam hati.
"Astagfirullah..." Ucap Ambu Nuri seraya memegang dadanya yang kembali terasa sesak.
Sementara di ruang tamu Abah Halim sedang berusaha menghubungi putra semata wayangnya Daffin.
"Tut.... Tut...." di panggilan pertama Daffin nampak tidak menjawab.
"Tut... Tut... Tut..." panggilan kedua pun kembali terhubung dan Daffin akhirnya menjawab panggilan telepon dari Abah Halim.
"Hallo Assalamualaikum.." Ucap Daffin. Namun di jawab Abah Halim dengan nada yang menyentak di indra pendengaran Daffin.
"Daffin Abah minta pulang sekarang juga, ini perintah." Ucap Abah Halim dengan nada yang penuh amarah yang tertahan.
"Tlak..." panggilan pun terputus,
Abah Halim langsung menutup sambungan teleponnya dengan Daffin setelah mengatakan permintaannya dengan nada yang jelas dan akurat.