
❤️KALUNG KECIL❤️
Freya terus duduk dan menangis di dalam kamar tamu rumah neneknya, Freya tidak bisa berpikir jernih untuk mengambil keputusan hidupnya, saat ini, dia hanya ingin menyusul orang tuanya dan neneknya, Hanya itu yang ada di benak Freya,
Tapi Freya tidak bisa melakukan itu karena teringat akan janji yang di minta mommynya untuk tetap melanjutkan hidup dan mencari kebahagiaan Freya sendiri.
Sementara Freya ada di dalam kamar dan belum mau diganggu, sayup-sayup Freya dapat mendengar pembicaraan Daffin dan pak Hasan.
"Apa pak Hasan sempat menghubungi polisi?" tanya Daffin.
"Tentu saja Den, begitu kami melihat keadaan nyonya Liliana dan keluarganya, kami langsung menghubungi polisi, Tapi...." ucap pak Hasan menggantung.
"Tapi kenapa?" tanya Edwin.
"Tapi mereka hanya melihat-lihat saja dan setelah itu mereka meminta kami menguburkan jenazah Nyonya Liliana, putrinya dan menantunya. Lalu saat kami sedang mengurus ketiga jenazah Nyonya dan keluarganya, Mereka nampak seperti mencari sesuatu hingga membuat seisi rumah menjadi berantakan."
"Saya sempat bertanya tapi mereka bilang 'ini bagian dari infestigasi' itu yang mereka jawab dan kami dilarang ikut campur." Ucap Pak Hasan menjelaskan.
Tanpa mereka sadari Freya juga mendengar semua yang di katakan pak Hasan.
"Mereka bukan polisi" ucap Freya, mengagetkan semua orang.
"Ya salam, ngagetin aja" celoteh Edwin yang mendengar suara Freya dengan tiba-tiba.
"Maksudmu?" tanya Daffin.
"Mungkin mereka memang polisi, tapi lebih tepatnya oknum polisi yang sudah di bayar untuk menutupi kasus ini, rasanya percuma saja kita berharap mereka bisa menegakkan keadilan atas Mommy, Daddy dan Nenekku, karena bagi mereka, yang memberikan uang adalah bos mereka, dan mereka tidak akan pernah mengusut tuntas masalah ini melainkan mereka akan menutupi hal ini dengan menghilangkan barang bukti." Ucap Freya menduga.
"Lantas apa yang harus kita lakukan?" tanya Pak Hasan.
"Sebaiknya kalian berpura-pura tidak tau saja tentang hal ini, bila ada yang menanyakanku jawab saja kalian tidak tau dan aku juga telah pergi menghilang." Ucap Freya tegas.
"Aku tidak mau ada orang lain yang terlibat dalam hal ini, apa lagi jika mereka sampai terluka hanya karena membantuku." Ucap Freya sendu.
"Tenanglah Freya kau tidak sendiri, aku dan Edwin akan membantumu sebisa kami, bukan begitu Edwin?" tanya Daffin.
"Iya tentu saja, kau tidak perlu sungkan, selagi kami bisa, kami akan bantu" Jawab Edwin sedikit cemas.
"Non Freya pak Hasan sudah bekerja dengan Nyonya Liliana sangat lama, pak Hasan dan keluarga akan membantu Non Freya, jadi non Freya jangan sungkan, anggaplah saya dan keluarga saya adalah keluarga non Freya juga, karena sejak dulu nyonya Liliana selalu menganggap saya keluarganya, begitu pun dengan saya yang juga selalu menganggap beliau adalah keluarga saya." jelas pak Hasan panjang lebar.
"Terimakasih" ucap Freya seraya menyeka air matanya yang kembali ngeliar.
"Boleh saya minta tolong?" tanya Freya.
"Tentu saya non" Jawab pak Hasan.
"Bantu saya merapikan dan membersihkan rumah ini" ucap Freya seraya menundukkan kepalanya.
"Non jangan sungkan kami akan membatu dengan senang hati" Jawab Pak Hasan.
Setelah mendapatkan persetujuan Daffin pun meminta semua para pekerja yang menunggu di luar rumah untuk membantu merapihkan dan membersihkan rumah Nenek Liliana.
"Pak Hasan bisa minta semua kawan Pak Hasan untuk membantu membersihkan seluruh isi rumah?" pinta Daffin.
"Ah tentu Den, saya panggil mereka dulu" jawab Pak Hasan.
Ada hampir dua puluh orang pekerja dari pria dan wanita, mereka membantu merapihkan dan membersihkan rumah Nenek Liliana.
Dari mereka ada yang mulai menyapu, melap meja dan jendela, ada juga yang mulai mengepel lantai.
"Kau sudah membaik?" tanya Daffin khawatir dengan keadaan Freya.
"Ah... Iya aku sudah membaik" jawab Freya dengan wajah yang begitu sembab.
Melihat begitu banyaknya orang yang membersihkan rumah Neneknya membuat hati dan pikiran Freya mulai memikirkan nasib mereka kedepannya akan seperti apa dan bagaimana.
Karena di benak Freya saat ini, mereka semua adalah tanggung jawabnya setelah neneknya pergi, Freya berjalan naik ke lantai dua, dan Daffin mengikutinya dari belakang,
Freya memasuki kamar yang biasa di gunakan mommy dan Daddynya di rumah nenek liliana, kamar itu begitu berantakan, Freya mulai merapihkan satu persatu baju-baju milik kedua orang tuanya,
Melihat itu Daffin pun membantu Freya untuk merapihkan setiap barang yang tergeletak di lantai,
"Bajunya mau di simpan lagi dalam kemari?" tanya Daffin hati-hati.
"Tidak, masukkan saja dalam koper itu, aku mau mengosongkan kamar ini, dan memindahkan semua barang-barang Mommy dan Daddy ke kamar nenek, jadinya akan tersimpan di dalam satu ruangan." Jawab Freya sambil berusaha untuk tersenyum.
"Baiklah" ucap Daffin.
Daffin membantu melipat satu persatu pakaian mommy dan Daddy Freya hingga tanpa sengaja ada satu benda yang terjatuh dari salah satu pakaian yang Daffin lipat.
"Prak.."
Suara benda kecil itu jatuh.
Freya yang mendengar suara benda jatuh langsung mengambilnya dilihatnya kalung milik mommynya, kalung itu sangat terlihat cukup jadul dan tidak terlalu bagus,
"Ini kalung mommy hik.. Hik.." Ucap Freya yang kembali menangis.
Freya menghapus air matanya dan dilihatnya dengan teliti kalung itu, lalu matanya berkeliling melihat semua penjuru kamar.
"Mereka mengambil semua barang berharga Daddy dan Mommy" ucap Freya menahan marah.
Freya berjalan ke arah meja kecil yang selalu menjadi tempat penyimpanan semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan Daddynya.
Dilihatnya meja itu telah kosong, bahkan Ponsel mommy dan Daddynya pun juga tidak ada di sana.
"Semua berkas-berkas pekerjaan daddy juga diambil, sepertinya hanya kalung kecil ini yang tersisa." Ucap Freya.
"Kau benar mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, dengan cara membunuh dan merampok semuanya" imbuh Freya.
Freya menggunakan kalung kecil itu di lehernya, lalu kembali merapihkan semua baju milik mommy dan daddy nya ke dalam koper besar.
Setalah semua terkemas rapih Freya menarik koper-koper orang tuanya keluar kamar, dan berjakan masuk ke dalam kamarnya.
Dilihatnya kamar Freya pun juga begitu sangat berantakan, Freya mencari barang berharga miliknya seperti Dompet dan paspor, tapi sayang semua itu sudah tidak ada dalam tasnya, dan dalam kamarnya.
"Mereka juga mengambil semua barang-barangku" keluh Freya.
"Kita bisa mencoba membuat kembali Paspor milikmu dengan membuat surat kehilangan." saran Daffin karena Daffin tau betul bagi seorang warga negara Asing yang tinggal di negara orang lain, paspor adalah segalanya bagi mereka.
"Hem..." Jawab Freya dengan menahan suara tangis di mulutnya.
Dengan di bantu Daffin Freya kembali merapihkan semua pakaiannya, dan juga memasukkan semua barangnya kedalam koper miliknya.
Setelah semuanya selesai Freya dan Daffin membawa semua koper-koper ke dalam kamar neneknya.
"Ceklek.."
Freya membuka pintu kamar nenek liliana, dilihatnya kamar itu masih sedikit rapih dan dan tidak terlalu berantakan.
"Kamar ini masih sedikit rapih" ucap Daffin.
"Kau benar" jawab Freya.
"Aku harap mereka tidak mengambil satu barang pun dari kamar ini" ucap Daffin.
"Kau benar, semoga saja begitu, dengan begitu aku masih bisa menggunakan peninggalan nenekku untuk bertahan hidup" ucap Freya.
"DEG....."
Mendengar itu hati Daffin terasa kebas.
"Tolong bawa kopernya masuk dan simpan di sebelah sini" pinta Freya.
"Ah... Iya" jawab Daffin.
"Kamar ini milik Nenekku, letaknya berada di ujung lantai dua rumah ini, dan besar kemungkinan mengapa mereka tidak terlalu menggeledah kamar Nenek, karena mereka tidak berpikir ada barang berharga di kamar ini" ucap Freya.
"Aku harap demikian" ujar Daffin.
Freya membuka lemari besar milik neneknya dilihatnya pakaian neneknya masih tertata rapi di dalam lemari, sementara Freya sibuk membuka lemari neneknya Daffin sibuk mengamati foto-foto yang berjajar di dinding kamar dan di meja panjang di sudut kamar tersebut.
Dilihatnya foto Freya saat kecil dan foto-foto bersama keluarga Freya, nampak Freya dan keluarganya begitu sangat bahagia.
Freya merapihakan isi lemari neneknya tiba-tiba dia menemukan sesuatu di dalamnya "Brangkas" ucap Freya lirih.
Freya langsung menutup lemari itu sebelum Daffin melihatnya, kini Freya bisa bernafas lega karena bisa melihat Brangkas besi milik neneknya, setidaknya kini Freya punya harapan untuk melanjutkan hidup.
"Hey lihat ponsel nenekmu masih ada di sini" ucap Daffin.
Mendengar itu Freya langsung melangkah mendekat ke arah Daffin,
"Kau benar, syukurlah" ucap Freya sambil mengenggam erat ponsel tersebut.
"Bisa aku minta no ponselmu?" tanya Freya.
"Tentu saja" ucap Daffin sembari menyebutkan No ponselnya.
"Aku pasti akan membayar hutangku padamu Daffin. Terimakasih" ucap Freya saat melihat Saldo Dompet Digital milik Neneknya lebih dari cukup.
"Hey, kau tidak perlu memikirkan itu aku dan Edwin ikhlas membantumu" ucap Daffin.
"Aku tahu, tapi aku juga tidak mau punya hutang, jadi biarkan aku membayar hutangku, setidaknya itu akan membuatku tenang" ucap Freya.
"Hem....Baiklah, jika kau memaksa." Ucap Daffin karena tidak mau membuat Freya merasa tersinggung.
"Terimakasih" ucap Freya.
Setelah dirasa semua barang-barang keluarganya sudah aman, Freya pun mengajak Daffin kembali menemui semua orang.
"Ayo kita temui semua orang di bawah" ajak Freya.
"Ya, tentu ayo" jawab Daffin.
Freya dan Daffin keluar dari dalam kamar neneknya, mereka melihat semua ruangan sudah kembali bersih dan wangi, Daffin dan Freya menuruni tangga menuju lantai satu.
"Kalian dari mana? Sejak tadi aku mencari kalian" gerutu Edwin.
"Kami habis merapihkan kamar neneknya Freya" jawab Daffin.
"OH..." Jawab Edwin sekenanya.
"Kalian pasti lelah, aku akan memasak untuk kalian semua," ucap Freya.
"Eh tidak perlu, kau juga pasti lelah" ucap Daffin.
"Tidak, aku masih kuat, Pak Hasan, bisa tolong ambilkan sayuran segar dari kebun?" tanya Freya.
"Iya tentu bisa non" jawab Pak Hasan.
"Jika non mau memasak kami akan bantu non" ucap salah satu dari wanita yang bekerja di kebun nenek liliana.
"Ah terimakasih" ucap Freya.