
❤️Ketahuan❤️
"Sudahlah Freya jangan di pikirkan, lagi pula kau yang menolak Daffin kan jadi harusnya kau tidak perlu terlihat sesedih ini. Kalau Daffin, Wajar saja jika dia merasa sedih dan membutuhkan waktu untuk kembali menata hatinya yang telah hancur karena sudah kau tolak mentah-mentah Freya." Ucap Edwin sengaja menambah rasa bersalah di hati Freya.
"Sekarang sebaiknya kau makan dulu Freya, aku harus kembali ke kantor untuk menemani Daffin yang sedang galau karena di tolak Cintanya olehmu, berdoa saja Freya semoga Daffin tidak sampai bunuh diri karena penolakan cinta darimu." Ucap Edwin yang berhasil membuat Freya semakin merasa bersalah setalah mendengar penuturan Edwin.
Malam itu Freya benar-benar tidak bisa tidur dengan nyanyak, dia terus memikirkan Daffin, rasa bersalahnya semakin menguap saat kembali mengingat kata-kata yang di utarakan oleh Edwin.
"Ya ampun bagai mana kalau Daffin beneran bunuh diri" oceh Freya tak karuan.
"Tidak... Tidak mungkin Daffin bisa sampai bunuh diri, dia bukan laki-laki yang lemah. Jadi tidak mungkin dia bunuh diri hanya karena hal sepele." Ucap Freya.
"Sudahlah lebih baik aku tidur" ucap Freya lagi berusaha untuk tidur, namun lagi-lagi Freya tidak bisa tidur, dia bergulang gulingkan tubuhnya di atas tempat tidur guna mencari posisi tidur yang nyaman berharap dengan seperti itu dia bisa tidur dengan mudah.
Dan Pukul 03.00 pagi Freya baru bisa tidur, hal itu membuat dia jadi harus bangun kesiangan. Pukul 08.30 pagi Freya baru terbangun dari tidurnya itu pun karena dia di bangunkan dengan suara perutnya yang berbunyi karena lapar.
"Ya ampun kesiangan" keluh Freya seraya menjambak pelan rambut cantiknya.
"Untung saja tidak ada yang masuk ke dalam kamar saat aku tidur tadi, kalau sampai orang tua Daffin melihatku tidur di kamar putra mereka bisa gawat urusannya.... Serem.. " keluh Freya lagi.
"Aduh Pusing" ucap Freya lantas dia mengambil satu gelas yang berisi air putih di samping tempat tidur.
Freya merasakan seluh tubuhnya terasa sangat lemas dan kurang bertenaga, pastinya karena kekurangan tidur.
Freya pun turun dari atas ranjang, menggeliatkan badannya sejenak dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lama Freya ada di dalam kamar mandi dia mencuci rambutnya dan merendam tubuhnya dengan air hangat di dalam betup, Tanpa Freya sadari Ambu Nuri telah memasuki kamar Daffin.
Wanita itu berniat membersihkan kamar Daffin yang sudah di tinggalkan Daffin selama satu hari satu malam lamanya, sudah jadi naruli seorang ibu untuk merapihkan dan membersihkan apapun yang mereka rasa sangat berantakan, kotor atau pun tidak enak di pandang di dalam rumah mereka.
"Clak..." pintu kamar terbuka.
Ambu Nuri memasuki kamar Daffin, bibirnya tersenyum saat melihat kamar putranya yang rapih dan bersih tapi tidak dengan ranjang milik Daffin.
Ranjang itu terlihat berantakan karena habis di pakai oleh Freya, yang semalam terus berguling-guling di atas ranjang karena tidak bisa tidur.
"Punya anak bujang satu-satunya tapi belum menikah, ninggalin kamar satu hari satu malam tanpa merapihkan tempat tidur." Ucap Ambu Nuri pada dirinya sendiri.
Pertama-tama Ambu Nuri membuka tirai jendela kamar, lantas membuka jendela tersebut, guna mempersilahkan udara segar untuk masuk ke dalam kamar dan mengusir udara pengap dari dalam kamar, setelah itu ambu Nuri pun melanjutkan kegiatannya dengan merapihkan tempat tidur milik Daffin.
"Hangat.... Kok bagian sini hangat ya seperti abis baru di tempati." Ucap Ambu Nuri saat menyentuh bagian kanan dari sisi ranjang yang terasa hangat bekas di tiduri Freya.
"Ah.... Paling cuman perasaan aja." Ucap Ambu membuang pikiran buruknya.
"Clak" Suara pintu terbuka.
"Siapa yang membuka pintu kamar mandi?" tanya Ambu Nuri dalam hati.
Di pegangnya dengan kuat gagang sapu lantai yang dia bawa dari luar kamar, karena ambu Nuri pikir mungkin saja itu adalah seorang maling yang telah berhasil masuk ke dalam kamar putranya,
Selain memegang kuat gagang sapu lantai, ambu Nuri juga sudah mempersiapkan suaranya untuk berteriak memanggil suaminya Abah Halim yang sedang duduk di ruang tengah sambil menonton saluran berita di TV.
"Trap..." Kembali terdengar Suara pintu kamar mandi yang di tutup.
Nampaklah Freya keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan handuk yang dia lilit di bagian dada hingga bagian paha.
Sedangkan bagian pundak dan kakinya yang jenjang dia biarkan terbuka menunjukkan warna kulitnya yang sangat putih dan bersih.
Kedua tangan Freya memegang handuk kecil seraya mengeringkan rambutnya yang berwarna coklat madunya nan panjang.
Freya terus melenggang tanpa melihat ke kiri atau pun ke kanan, dia juga nampak tidak memperhatikan suasana dalam kamar yang sudah terang karena cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar, padahal sebelumnya kamar tersebut sangat gelap, karena Freya memang sengaja menutup tirai dan jendela kamar, Freya juga mematikan lampu di dalam kamar agar orang tua Daffin mengira tidak ada orang di dalam kamar putra mereka.
Langkah kaki Freya dia bawa menuju lemari pakaian berada dia benar-benar tidak memperhatikan apa pun di sekitarnya.
"Clak" Suara pintu lamari di buka.
Dengan santai ya Freya membuka lemari dan memilih pakaian yang akan dia kenakan hari ini, tanpa Freya sadari ada seorang wanita yang sedang memandangnya dengan tatapan tak percaya.
Ke dua bola mata Ambu Nuri terbuka lebar, mulutnya ternganga Karena melihat wanita bule berkulit putih, berambut coklat madu, tengah memunggungi dirinya.
Saking syok dengan apa yang dia lihat Ambu Nuri pun menjatuhkan sapu lantai yang tadinya dia pegang kuat-kuat hingga menimbulkan suara bunyi yang memantul di lantai.
"Plang..." Suara gagang sapu lantai yang jatuh.
Freya pun jelas sangat kaget mendengar sesuatu yang tiba-tiba bersuara di belakang tubuhnya.
Dengan cepat Freya pun memutar badannya untuk melihat suara apa yang ada di belakang tubuhnya dan betapa tak percayanya Freya saat menemukan satu sosok wanita cantik bertubuh sedikit gemuk tengah memandang dirinya dengan mata melotot penuh pertanyaan, dan penuh rasa keget sama seperti dirinya.
"Ya ampun ke tahuan" ucap Freya dalam hati.
"Siapa kamu?" tanya Ambu Nuri dengan berteriak.
"Mati aku" ucap Freya lagi dalam hati.