My Freya

My Freya
BAB 19



❤️Menembak❤️


"Aman" ucap Freya.


"Kalau pun aku harus tiada malam ini, setidaknya harta milik nenek bisa di temukan oleh pak hasan dan ibu susi hingga besar harapanku harta tersebut bisa di gunakan dengan baik oleh mereka." Ucap Freya penuh harap.


Freya pun berbalik dan menutup rapat pintu jendela kamar, Langkah kaki Freya menuntunnya pada sebuah lemari pakaian milik nenek dan kakeknya, di bukanya pintu lemari tersebut, lalu di ambilnya sebuah kotak kecil yang berisikan peluru dari senapan laras panjang milik kakeknya.


Freya memasukkan semua peluru tersebut ke dalam senapan, dengan penuh tekad Freya berniat menghabisi paman dan bibinya juga Gisel anak mereka.


"Jika aku harus mati maka kalian juga harus ikut mati bersamaku" ucap Freya penuh tekad.


"Freya..." Panggil Riana dengan berteriak.


Freya melihat monitor cctv ternyata mereka sudah berhasil membuka kunci pintu rumah dan sudah berada di ruang tamu keluarga.


"Freya...." terdengar kembali suara bibi Riana memanggil dirinya.


"Deg.... Deg.... Deg...." Suara detak jantung Freya yang mulai berdetak kencang.


"Tenang Freya kau pasti bisa, ini kesempatanmu untuk memelas mereka."


"Kau harus kuat, jangan takut, jangan takut." Pinta Freya pada dirinya sendiri.


"Cari dia di setiap ruangan." Pinta Riana pada anak buah yang dia sewa.


Mereka pun mulai menyebar dan mencari Freya tiga dari mereka mencoba menaiki tangga untuk mencari Freya di lantai dua rumah nenek Liliana.


Perlahan Freya pun keluar dari dalam kamar neneknya dia mengintip ada tiga orang yang hampir mencapai anak tangga bagian atas di lantai dua.


Setelah mengumpulkan keberaniannya Freya pun mulai mengunci senjata laras panjangnya lantas di detik berikutnya Freya pun membidik target dan...


"Dor... Dor... Dor... "


Tiga tembakan Freya arahkan ke jalur tangga dan dengan inplusif Freya menembak tiga penjahat bawahan Riana yang hendak memasuki area lantai dua.


Paman Marvin, Riana, dan Gisel pun terduduk seraya memegangi telinga mereka masing-masing, karena merasa terkejut bahwa Freya ternyata memiliki senjata api, sebagai perlindungan.


Badan Freya gemetar hebat, jantungnya berdetak kencang, tangannya berkeringat dingin. Ini Kali pertama Freya menggunakan senjata dan menembakkannya pada seorang manusia yang bernyawa.


Dengan penuh keberanian Freya melihat korban dari tiga peluru yang ia tembakan dari senjatanya ternyata hanya satu dari mereka yang terluka sisanya masih selamat.


Satu orang penjahat yang tertembak pun bahkan terlihat meringis kesakitan, karena dia tertembak di bagian perut dan terjatuh menggelinding dari atas tangga penghubung lantai dua.


"Kurang ajar kau Freya." Ucap Riana lantang.


Lantas Riana pun marah besar dan menembaki dengan asal setiap sisi di lantai dua, dari lantai satu.


"Dor... Dor... Dor.... "


Melihat itu Freya dengan cepat bersembunyi dari tembakan yang Riana arahkan secara sembarangan ke arah lantai dua.


"Keluar kau Freya." Ucap Riana marah.


"Keluarlah, jangan bersembunyi."


"Bibi hanya berniat mengantarkanmu dengan cepat untuk bertemu ke dua orang tua mu dan nenekmu."


"Jadi keluarlah Freya.... Jangan malu" ucap Riana dengan nada mengerikan.


Freya berusaha mengumpulkan keberaniannya dengan sekuat tenaga, dia benar-benar bertekad untuk menghabisi keluarga pamannya.


"Apa yang kalian lakukan di sana cepat cari dia" pinta Riana pada dua orang bawahannya yang masih berdiri di atas tangga."


" Baik Bos." Ucap dua orang penjahat yang masih berdiri di atas tangga.


Freya pun kembali membidikkan senjatanya dan...


Dor... Dor...


Satu orang kembali tertembak,


Dan kini Freya mulai bisa mengstabilkan detak jantungnya.


" Kurang ajar kau" ucap satu Penjahat yang masih selamat.


Laki-laki itu bahkan berhasil naik ke lantai dua dan berlari ke arah Freya.


Freya kembali menembakinya dengan sejatanya hingga dia pun terkapar di atas lantai.


"Dor.. Dor..." Suara tembakan dari peluru yang Freya tembakkan.


Freya begitu Fokus pada satu penjahat yang ada di hadapannya hingga Freya tak menyadari bahwa pamana Marvin, bibi Riana Gisel dan tiga anak buah mereka lainnya, yang masih tersisa sudah berhasil naik ke lantai dua.


"Kurang ajar kau Freya." Teriak Riana marah.


Freya yang ketakutan melihat Bibi Riana, paman Marvin dan Gisel berhasil naik ke lantai dua rumah neneknya, dengan tangan gemetar Freya mengarahkan tembakannya dengan tak tentu arah.


Jangan tanya apa yang di pikirkan Freya saat ini, karena nyatanya pikirannya sedang kosong, dan hanya ada rasa ketakutan dan rasa ingin membalas dendam menguasai hatinya.


"Dor... Dor... Dor...."


"Ah..." terdengar suara wanita yang menjerit kesakitan.


Freya berhenti sejenak menarik nafas, dan mengstabilkan nafasnya yang tersengal.


"Gisel Putriku." Ucap Marvin khawatir.


"Daddy aku tertembak, sakit." Ucap Gisel mengadu.


"Tahanlah sayang kita akan ke rumah sakit." Ucap paman Marvin lembut.


"Gisel putriku, kau tertembak. Kurang ajar kau Freya." Ucap Riana khawatir dan marah secara bersamaan.


Terlihat Gisel terluka di bagian perut bawah di sebelah kanan.


"Bagaimana rasanya? sakit Bukan melihat orang yang kita sayangi terluka? tapi tenang saja aku akan pastikan kalian juga akan merasakan sakitnya kehilangan." Ucap Freya marah.


Mata Freya memerah, tangannya memegang senjata begitu kuat dan nafasnya terlihat naik turun tak menentu.


"Aku akan membunuhmu Freya." Ucap Riana.


"Aku tidak akan merasa rugi bibi, jika kau ingin membunuhku, lakukanlah aku ada di sini" ucap Freya menantang.


"Tangkap dia" bentak Riana, pada ke tiga bawahannya.


Dua orang dari mereka menghampiri Freya, Freya berusaha menembakkan kembali sejatanya namun...


"Crak.. Crak... " Senjata laras panjang milik Freya sudah ke habisan peluru.


Melihat itu, Mereka pun mencoba menangkap Freya, dengan sekuat tenaga Freya pun melawan mereka mamun gagal dia kalah.


Satu orang dari mereka berhasil melumpuhkan Freya.


"Kami berhasil menangkapnya bos." Ucap salah satu dari mereka.


"Bagus, habisi dia" ucap Riana bengis.


Freya terjepit satu penjahat berhasil menyandra dirinya dengan tangan perjahat itu dan satu penjahat lagi sedang bersiap menembakkan pistolnya ke arah Freya.


"Apa ini akhirnya?" Tanya Freya dalam hati.


Namun di detik berikutnya Freya melihat laki-laki yang menyandranya membawa sebuah pistol dan dia terlihat sedikit lengah.


Dengan penuh keberanian Freya pun menggigit penjahat yang menyandranya dan mengambil sejatanya milik penjahat tersebut.


Dengan tergesa-gesa Freya menembakkan pistolnya ke arah penjahat yang tadi menyandranya.


"Dor...." Freya berhasil menembak penjahat itu tapi...


"Dor..." Freya pun tertembak di bagian punggung sebelah kanan.


"Ah...." Teriak Freya.


"Sakit." Ucap Freya dalam hati.


"Brug..." Freya pun terjatuh ke lantai dia meringis kesakitan.


Melihat itu Riana sangat senang.


Riana pun menghampiri Freya, dia berjongkok di hadapan Freya dan menjambak kuat rambut Freya.


"Ah..." Ringisan Freya.


"Kau sangat nakal ya, berani sekali kau melawan ku, kau juga begitu lancang menembak putriku" ucap Riana marah.


"Tapi tenang saja aku akan mengakhiri semua ini dengan cepat." Ucap Riana bengis.


"Riana sayang kita harus cepat membawa Gisel ke rumah sakit" ucap paman Marvin khawatir.


"Bodoh lantas kenapa kau masih di sini? cepat bawa Putriku kerumah sakit" jawab Riana marah.


Freya yang melihat Riana lengah dan tidak memperhatikan dirinya, Freya pun berusaha mengambil kembali pistol yang dia rampas dari perjahat tadi, dan dengan penuh kehati Freya berusaha menjangkau senjata tersebut.


Senjata itu tergeletak tak jauh dari jangkauannya.


"Hap" tangannya berhasil membawa senjata tersebut dan di detik berikutnya....


Dor....


Freya pun menembak langsung Lutut Riana dengan pistolnya.


"Ah.... AH........" Teriak Riana kesakitan.