My Freya

My Freya
BAB 52



♥️Mengambil kembali♥️


"Freya tenanglah,.... Kau tidak akan kemana-mana, kau akan tetap bersamaku di sini." Ucap Daffin masih mencoba menenangkan keadaan Freya.


Namun Freya menolak dan berkata "Tidak Daffin aku ingin ikut dengan orang tuaku dan nenekku pergi, jangan halangi aku" ucap Freya pada Daffin.


"Freya Istighfar... Kau akan tetap bersamaku di sini." Ucap Daffin sedikit menekan perkataannya.


"Aku tidak mau, aku mau bersama keluargaku" ucap Freya teguh penuh keyakinan.


"Freya...." Bentak Daffin yang terbawa emosi.


Seketika Freya pun terdiam dan di detik berikutnya Freya pun pingsan tak sadarkan diri.


"Ya ampun dia pingsan" ucap ibu Ratih kaget.


"Ya Alloh Neng bangun..." ucap Ambu Nuri.


"Freya... Ya ampun maafkan aku..." ucap Daffin merasa bersalah karena telah membentak Freya hingga tak sadarkan diri.


"Ratih... Ambil minyak angin.. Cepat..." Pinta Ambu Nuri.


"Iya... Téh sebentar." Jawab ibu Ratih, dia bergegas masuk ke dalam kamar yang di tempati Ambu Nuri dan Abah Salim untuk mencari minyak angin.


Sementara itu Daffin terus menepuk-nepuk pelan pipi Freya berharap gadis itu bisa cepat sadar.


"Daffin di bawa aja ke kamar atuh, sok cepet." Pinta Ambu Nuri.


"Iya... Ambu" jawab Daffin cepat, lantas dia pun memangku tubuh Freya dan membawanya masuk ke dalam kamar miliknya.


"Maaf pak Halim apa perlu memanggil Dokter?" tanya Ibu RT.


"Tunggu sebentar lagi bu, kalau menantu saya masih belum sadar, kita bawa saja ke rumah sakit langsung." Jawab Abah Halim.


"Baiklah kalau begitu." Jawab ibu RT.


Ibu Ratih yang sudah menemukan botol minyak angin, dengan cepat memberikannya pada Daffin.


Dengan perlahan dan penuh kelembutan Daffin mengoleskan minyak angin di kepala Freya, dia juga mendekatkan aroma minyak angin tersebut di dekat hidung Freya.


Gadis itu merespon perlahan dia membuka matanya seraya memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Alhamdulillah..." ucap Daffin, Ambu Nuri dan Ibu Ratih bersamaan kala melihat Freya terbangun dari pingsannya.


"Akhirnya kau bangun Freya, maafkan aku karena telah membentakmu tadi." Ucap Daffin menyesal.


Freya menggelengkan kepalanya perlahan seraya berkata "Tidak Daffin, ini bukan karena dirimu." Jawab Freya.


"Kita keluar" pinta Ambu Nuri pada ibu Ratih.


Ibu Ratih pun menganggukkan kepalanya tanda setuju, mereka berdua pun keluar dari dalam kamar tanpa pamit, guna memberikan ruang bagi pasangan pengantin baru untuk berbicara dari hati ke hati.


"Bagai mana Ambu ke adaan si Eneng? (panggilan untuk Freya yang artinya anak perempuan dari suku sunda)" tanya Abah pada Ambu Nuri.


"Udah sadar Alhamdulillah Abah..." Jawab Ambu Nuri.


Abah Halim pun nampak lega mendengarnya.


"Alhamdulillah" ucap Abah Halim.


Sebelum pernikahan Ambu Nuri membeli makanan berat untuk perasmanan dari salah satu penjual rumah makan di sebrang apartemen milik Daffin, dengan memesannya melalui telepon.


"Silahkan atuh di cicipi, ini juga ada mie ayam bakso, kalau bapak-bapak sama ibu mau boleh di bawa pulang." Ucap Ibu Ratih yang memang sebelumnya membawa sebagian dari jualannya untuk di hidangkan di acara Nikahan dadakan Daffin dan Freya.


"Kalau begitu mari kita makan bersama" ajak pak Penghulu.


"Silahkan pak duluan.." tolak Abah Halim.


Para tamu yang terdiri dari tiga orang pun kini telah menyantap hidangan perasmanan seadanya, sembari di temani Ibu Ratih, Bapak Medi dan Edwin.


"Abah... Sigana kita harus nyekar atuh ka makam orang tua si Eneng." Ucap Ambu Nuri.


"Kalau itu mah sudah pasti harus atuh Ambu." Jawab Abah Halim.


"Apa lagi barusan si Eneng sampai berhalusinasi melihat keluarganya, ini mah benar-benar pertanda kita memang harus pergi ke makam mereka." Ucap Abah Halim.


"Kapan atuh kiranya kita akan pergi ke makam orang tua si Eneng?" tanya Ambu Nuri lagi.


"Nanti kita bicarakan lagi sama si Daffin, setelah semua membaik." Jawab Abah Halim.


♦️BELGIA♦️


"Mohon maaf Tuan Marvin hari ini kita ada rapat penting." Ucap seorang wanita yang di ketahui sebagai Sekretaris Paman Marvin.


"Undur saja, saat ini saya ada urusan penting." Jawab paman Marvin terburu-buru.


"Tapi Tuan kita sudah menunda rapat ini terlalu lama, dan kita tidak bisa menunda rapat ini lagi." Ucap sekretaris.


"Kamu kan sekretaris saya, kamu harus Pinter dong menghendel semua pekerjaan saya." Ucap paman Marvin mencoba mencari alasan untuk tidak menghadiri rapat hari ini.


"Tapi Tuan..."


"Ah.. Sudahlah saya mau pergi..." potong paman Marvin sembari berlalu pergi dari dalam ruang kerjanya meninggalkan sekretarisnya dalam kekesalan.


"Sial lama-lama perusahan ini bisa bangkrut kalau di pimpin oleh laki-laki itu." keluh sekretaris wanita tersebut.


Paman Marvin pergi ke tempat sebuah perjudian terbesar di belgia, di sana mereka juga menyediakan banyak wanita-wanita malam yang sudah pasti ingin memeras uang para pelanggannya selembar demi selembar.


Sedangkan Bibi Riana, dia kini sedang berkumpul dengan wanita-wanita sosialita, sembari memamerkan barang-barang terbarunya, mulai dari perhiasan mahal, Tas mahal, baju bermerek, Sepatu keluaran terbaru dan semua yang dia kenakan saat ini.


Di sisi lain Gisel pun kini sedang menikmati liburan panas bersama dengan kak Jhon, di salah satu pulau yang sengaja Gisel sewa untuk dirinya dan Jhon.


Mereka semua nampak sedang berbahagia, bersenang-senang dengan uang dan harta milik Mommy dan Daddy Freya.


Satu hal yang menjadi kebodohan Paman Marvin, Bibi Riana, dan Gisel. Mereka tidak tahu cara mempertahankan atau menjaga harta rampasan dari keluarga Freya, tapi mereka hanya tau cara menghabiskan Uang hasil rampasan dari keluarga Freya.


Miris tapi itulah yang sedang mereka lakukan saat ini.


"Kuras habis semua harta mereka." Ucap seorang laki-laki misterius yang sekarang menjadi Patner Tuan Anthony (Asisten pribadi Daddy Emmanuel) dan Tuan Gilbert (Pengacara Daddy Emmanuel).


Taun Anthony dan Taun Gilbert adalah dua orang kepercayaan Daddy Emmanuel, saat ini mereka berdua sedang berusaha mengambil kembali harta milik Tuan besar mereka, dan menyelidiki dalang dari kematian Tuan besarnya dan keluarga Tuannya.


"Baik Tuan" jawab semua bawahannya melalui sambungan telepon.


"Tidak akan aku biarkan kalian bersenang-senang terlalu lama menggunakan harta milik Emmanuel..." ucap Laki-laki misterius itu.


"Aku tidak akan membiarkan harta Emmanuel jatuh di tangan orang-orang serakah seperti kalian" ucap Laki-laki misterius itu lagi.