
Happy Reading.
Beberapa bulan kemudian.
"Aduh, capek banget!" seru Nita sambil menyandarkan tubuhnya di sofa, di susul dengan Rara yang juga ikut duduk di sampingnya.
Kedua pria di depan mereka ini hanya geleng-geleng kepala melihat para istri yang baru saja membuat ulah dengan mengajak para suami belanja untuk keperluan dedek bayi.
Kedua perut wanita itu sudah sama-sama buncit, badan mereka juga sudah tidak seseksi saat masih perawan. Usia kehamilan mereka bahkan sama-sama memasuki bulan ke tujuh yang artinya dua bulan lagi mereka akan menyambut kelahiran bayi mereka yang sangat sehat.
Ya, Nita dan Rara tidak terlihat seperti wanita hamil pada umumnya yang ketika usia kandungannya sudah besar, mereka biasanya akan malas untuk pergi keluar sekedar jalan-jalan. Tapi lihatlah kedua bumil tersebut, hoby mereka selain makan adalah shoping, menghabiskan uang suami dan berfoya-foya.
Sungguh tidak ada rasa lelah ataupun kaki bengkak, ibu dan janin sangat sehat dan tentunya bahagia.
Nathan dan Aris langsung duduk di karpet dan meletakkan barang-barang belanjaan istri mereka di atas meja, terlihat mereka lelah sekali harus mengikuti gaya para bumil yang selalu mengajak mereka belanja di hari minggu seperti ini. Tentunya mereka juga harus siap jika di suruh membawa kantung belanjaan para istri yang sangat banyak itu.
Sebenarnya tidak terlalu berat, hanya baju-baju untuk calon buah hati mereka dan juga baju-baju hamil yang sebenarnyaereka sudah punya stok banyak di lemari. Tapi jangan tanya lagi kalau mereka sudah memburu tas-tas branded dan sepatu limited edition, Nathan dan Aris sudah seperti pengawal setia di belakang mereka.
'Mumpung lagi pengen!' kata Rara.
Ya, karena sejujurnya Rara dan Nita bukanlah istri yang boros dan suka menghamburkan uang, meskipun mereka kaya dan punya penghasilan sendiri, Rara dan Nita adalah dua kakak beradik yang suka hidup sederhana.
Meskipun suami mereka kaya tujuh turunan, kedua wanita itu tetap memilih bekerja untuk menghasilkan uang mereka sendiri.
"Minum dulu, sayang," Nita menyodorkan botol mineral yang tadi dia ambil dari kulkas sebelum duduk di sofa.
Nathan dengan senang hati mengambil minuman tersebut dan langsung meneguknya hingga tinggal setengah.
"Kamu juga mau aku ambilin minum?" Rara bertanya pada suaminya yang menatap Nathan sambil meneguk ludah. Seperti orang yang sedang lihat iklan minuman botol di TV. Segaarr! Apapun makanannya, minumnya teh botol Sr*r*. Begitulah ekspresi Aris.
"Eh, aku aja yang ambil, kamu duduk di sini, pasti capek banget, kan udah jalan muter-muter mall,?"
"Bilang aja nyindir?" cibir Nita.
"Tau gak sih, aku ada gosip loh," tiba-tiba Nita berseru senang.
"Istri lo Bre, sukanya gosip," ucap Aris duduk di sebelah Rara sesudah kembali mengambil minuman.
"Ya gak apa-apa dong, bang, ini juga gosip yang panas di kantor suami aku, tapi kamu pasti gak tau kan, yank?" ucap Nita menatap suaminya sambil tersenyum lebar.
Nathan menggeleng. "Memangnya gosip apa? Di kantor aku gak pernah ngrumpi ikut gosip sama karyawan-karyawan aku, yang ada si Azam tuh yang suka banget pergi nimbrung ke Divisi keuangan, bawahan si Firda emang suka gosip katanya," jawab Nathan.
"Nah, itu aku aku maksud, kapan hari itu aku gak sengaja lihat Azam sama manager keuangan kamu yang namanya Firda itu lagi ngobrol mesra gitu di kantor, jangan-jangan mereka ada hubungan spesial," ucap Nita masih tersenyum.
Rara, Aris dan Nathan langsung menatap Nita dengan tatapan horor.
"Kok kamu tahu, yank, kalau mereka ngobrol mesra, kamu ngintip?" Nathan memicingkan matanya.
"Enak aja, aku kan pas ke kantor kamu siang-siang itu, pada waktu mau ke ruangan kamu, gak sengaja lihat mereka di balik dinding pas belokan ke arah ruang kerja kamu, mereka gak tahu kalau aku lewat mungkin, kan di lantai itu cuma orang tertentu yang boleh lewat, aku pake sepatu bulu-bulu juga, jadi gak ada bunyi kaki berjalan," jelas Nita panjang lebar.
"Emang mereka ngobrol apa? Sampai kamu bisa bilang 'ngobrol mesra?' setahuku Azam itu belum bisa move on dari kamu, yank!" ucap Nathan membuat Nita melototkan matanya.
"Karma buat si Azam tuh, yang udah bikin adikku yang paling cantik ini sakit hati," ujar Rara merangkul bahu Nita, pura-pura simpati mengenang masa lalunya.
"Ck, apaan sih, Ra! Lebay! aku juga bersyukur udah di selingkuhin sama Azam, karena pada akhirnya aku dapat pria yang lebih baik!" ucap Nita memeluk leher Nathan yang memang masih duduk di karpet bawah kaki sang istri.
"Nathan jadi tersipu, udah di puji istri tercinta!" ledek Aris.
"Ya, gak apa-apa, emang buktinya seperti itu, kan? Aku juga bersyukur bisa dapat istri secantik dan sebaik Nita," ucap Nathan mengecup tangan sang istri.
"Dasar bucin!"
♥️♥️♥️