My Ex Wife

My Ex Wife
Ngidamnya Istri



Happy Reading.


Hari ini Nita merasakan perutnya bergejolak lagi, setelah tadi pagi sudah muntah dua kali dan tidak bisa masuk sesuap nasi pun, hanya minum susu dan secuil roti tawar, sekarang saat baru saja mengantar Nathan keluar rumah tapi tidak ikut menuju mobilnya karena masih hujan, Nathan baru saja berangkat ke kantor, tiba-tiba perutnya mual lagi.


Padahal biasanya si dedek kalau ada Ayahnya pasti anteng-anteng saja dan tidak rewel.


"Duh, ternyata benar yang di katakan para ibu-ibu yang lagi hamil muda kalau morning sickness itu benar-benar menyiksa," gumam Nita membasuh wajahnya di wastafel.


Menatap dirinya di cermin, terlihat pucat sekali, Nita memang tidak sakit, tapi saat perutnya mual seperti ini tiba-tiba kepalanya menjadi pusing dan badannya langsung lemas.


Perutnya masih terasa di aduk-aduk, mual itu datang lagi dan kali ini Nita sudah tidak bisa memuntahkan isi perutnya karena sudah habis tidak tersisa.


Hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya, rasanya benar-benar pahit. Biasanya dia hanya akan mual saat pagi hari dan kalau waktu sudah menunjukkan siang mual nya sudah tidak terlalu terasa.


Padahal hari ini dia harus shift malam dan artinya dia harus berangkat ke rumah sakit saat pukul 10 malam.


"Apa aku ambil cuti dulu, ya?"


"Ah, gak-gak, mentang-mentang sekarang jabatan nya naik terus bisa cuti seenaknya, meskipun gitu tangung jawab ku tinggi," Nita bermonolog sendiri.


Terdengar suara ketukan pintu kamar dan kemudian suara Bik Sum juga terdengar.


"Nyah!! Apa anda baik-baik saja, tadi bibik denger nyonya seperti muntah-muntah!" seru Bik Sum dari luar kamar.


Nita berjalan keluar dari kamar mandi dan langsung menuju pintu.


Ceklek!


Bik Sum langsung terkejut saat pintu terbuka dan melihat keadaan wajah Nita yang nampak begitu pucat.


"Nyonya sakit? Ya Allah, Nyah, kita ke dokter ya buat periksa," Bik Sum panik dan memapah Nita untuk duduk di atas ranjang.


"Gak perlu, bik, bibik lupa kalau aku juga seorang dokter," jawab Nita terkekeh.


"Oh iya, Nyah, bibik lupa, terus kalau Nonya dokter bisa ngobatin diri sendiri, gitu ya, Nyah?" Nita tersenyum.


"Tolong bibik ambilkan kotak p3k yang ada di lemari itu, di sama ada beberapa obat dan juga tolong ambilkan tas yang besar di sana," tunjuk Nita di sebuah lemari kaca khusus dia menyimpan tas-tasnya.


Bio Sum langsung bergegas mengambil kotak p3k dan juga tas besar milik Nita yang berada di lemari khusus.


"Ini, nyah!"


"Terima kasih, bik," Nita membuka kotak tersebut dan mengambil obat pereda mual dan juga obat penambah darah, tidak lupa asam follat dan calsium yang harus di konsumsi ibu-ibu hamil.


Tadi pagi Nita belum sempat minum obat-obatan nya karena terburu ke rumah duka setelah mendapat kan kabar bahwa Silvia meninggal.


Mungkin juga karena belum meminum obatnya, mual nya menjadi lebih sering dan juga agak sedikit pusing. Kemarin setelah di cek HB juga rendah, Nita kekurangan darah dan bisa jadi itu yang mengakibatkan nya pusing.


Bik Sum mengambilkan air putih hangat di dapur untuk Nita minum obat. Biasanya Nita memang lebih suka minum air tawar yang hangat, kalau dingin dia bisa mual dan muntah.


"Bik, ngidam tuh rasanya kek gini, ya? Aku sering di kasih tahu sama temanku bidan atau dokter obgyn tentang apa saja yang di alami seorang ibu pada masa-masa kehamilan, yang paling susah saat trimester pertama, bibik dulu juga seperti itu?" tanya Nita pada Bik Sum.


"Iya, Nyah, saya malah tepar sampai Lima bulan gak bisa ngapa-ngapain, Nyah! Teler bibik, untung suami bibik siaga, dia yang urus semuanya saat bibik gak bisa ngapa-ngapain, tapi Alhamdulillah sekarang anak bibik udah jadi orang yang berguna, sudah punya anak satu," cerita Bik Sum.


"Katanya sih, kita harus menikmati masa-masa seperti ini, karena masa-masa ini gak akan terulang lagi kalau kita gak hamil, jadi di nikmati aja, ya bik?" Bik Sum mengangguk.


"Tapi Nyonya tidak boleh telat makan, nanti mau makan apa, nyah? Hujan-hujan gini biasanya seger yang kuah-kuah," ucap Bik Sum menawarkan menu makan siang untuk Nita.


Nita terlihat berpikir, mungkin sop iga sapi sedikit lezat kalau di makan pas hujan-hujan seperti ini.


"Kalau sop iga aja gimana, bik?" tanya Nita.


"Wah, kebetulan Nyah, kemarin bibik baru belanja iga sapi, baiklah Nyah, bibik tak masak dulu, nyonya istirahat saja," Bik Sum kemudian keluar dari kamar Nita setelah membereskan barang-barang yang tadi ada di atas nakas.


Sedangkan di sisi lain.


Nathan baru saja mendapatkan pesan dari Bik Sum yang mengatakan bahwa istrinya baru saja muntah-muntah, setelah kepergian Nathan ke kantor.


Sebenarnya dia ingin sekali menghubungi sang istri dan menanyakan bagaimana keadaannya, tapi urung karena Nathan akan ada rapat sebentar lagi.


Nathan hanya memberi pesan pada Bik Sum agar menjaga Nita dan tidak boleh sampai telat makan. Sebenarnya tanpa di ketahui oleh Nita, Nathan selalu memantaunya lewat Bik Sum, karena jadwalnya dengan Nita yang berbeda-beda lantaran terbentur shift untuk Nita, membuat Nathan harus berpisah lebih lama lagi dengan sang istri.


Tapi mau bagaimana lagi, itulah pekerjaan Nita sebagai dokter umum yang memang harus bekerja tiga shif dalam waktu seminggu.


Nita bukan dokter spesialis yang bisa membuka praktek sendiri di rumahnya, istri Nathan itu lebih memiliki memantau rumah sakit secara langsung, meskipun saat ini Nita sudah menjadi kepala rumah sakit.


"Permisi, tuan, anda sudah di tunggu di ruang rapat, hari ini Tuan Romeo datang menghadiri rapat, entah kenapa tiba-tiba orang itu hadir di perusahaan," ucap Azam.


"Romeo, mau buat ulah apa lagi, dia!" Nathan segera berdiri dan berjalan keluar ruangan bergegas menuju ruang rapat karena ingin melihat ulah apa lagi yang akan dilakukan oleh sepupu jauhnya itu.


Sebenarnya Romeo dan Nathan memang tidak memiliki masalah serius apalagi yang pribadi, dia memiliki 5% saham di perusahaannya. Sepertinya mungkin pria yang lebih tua darinya setahun itu ingin mengembangkan saham atau mau menembakkan lagi, Nathan tidak tahu apa yang dipikirkan pria itu.


Pada saat berjalan menuju ruang meeting, tiba-tiba ponselnya yang ada di dalam saku bergetar. Nathan memang memode silent saat akan rapat seperti ini.


Melihat istrinya yang menelepon Nathan langsung mengangkat nya.


"Halo, iya sayang?"


"Sayang, aku pengen di peluk!"


Nathan melongo mendengar permintaan sang istri.


"Tapi aku sedang ada rapat penting, nanti ya setelah rapat."


"Gak mau, maunya sekarang di peluk sama kamu, gimana donk? aku gak bisa nahan!"


"Tapi ..."


"Ya udah deh, kamu rapat aja, aku mau di peluk sama orang lain, aja!"


Nathan segera menutup panggilannya dan langsung berjalan dengan sedikit tergesa keluar dari kantor setelah mendengar ucapan sang istri.


Bersambung.