
Happy Reading
Aris dan Rara memutuskan untuk makan sate kambing di pinggir jalan. Rara tidak mau makan di restoran mewah ataupun kafe dengan menu makanan yang mahal.
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin makan sate kambing?" tanya Aris saat mereka sudah duduk lesehan di warung sate tersebut.
Sedikit heran karena tiba-tiba Rara mengajak makan sate kambing karena setahu Aris, Rara tidak menyukai hewan kambing apalagi yang berkaitan dengan masakan berbahan dasar daging itu.
Apakah selera makan Rara sudah berubah?
"Pengen aja, tiba-tiba di pikiran terlintas sate kambing yang menggugah selera," jawab Rara.
Aris menatap wajah calon istrinya itu dengan meneliti, apakah ada yang salah dengan Rara yang tiba-tiba seleranya berubah?
"Silahkan es tehnya," seorang pelayan mengantarkan pesanan minuman sebelum menu utama sate kambing mereka disajikan.
"Terima kasih," jawab Aris dan Rara bersamaan.
"Yank, kok kamu aneh, sih?" tanya Aris masih menatap lekat wanita yang memiliki mata hampir sama dengan adiknya itu.
"Aneh kenapa?" tanya Rara meminum es tehnya yang terlihat begitu segar.
"Ya aneh aja, kamu gak lagi ngidam kan?" Rara menyemburkan minumannya mendengar ucapan Aris.
"Aduh yank, hati-hati donk, jadi basah kan!" Aris mengambil tissu dan langsung membersihkan mulut dan wajah Rara
Rara mengambil tissu lagi untuk dia bersihkan sendiri meja di depannya yang sedikit basah, tapi untungnya tidak terlalu banyak Rara menyemburkan air itu.
"Maaf," cicit Rara.
"Kenapa kaget gitu?"
"Habisnya pertanyaan mu itu benar-benar tidak masuk akal!" jawab Rara.
"Gak masuk akal gimana? Kan aku cuma nanya kamu ngidam gak? Tingkah kamu itu udah seperti wanita ngidam, aneh dan sedikit janggal, makanya aku nanya kek gitu," jawab Aris.
Belum sempat Rara membalas ucapan kekasihnya itu, dua porsi sate kambing dan juga dua ****** nasi datang dan langsung di tata di atas meja mereka.
"Monggo di makan," ujar sang penjual sate yang memiliki kumis tebal melengkung ke atas.
"Iya, terima kasih, Cak!"
Mata Rara berbinar kala melihat seporsi sate kambing miliknya yang sudah memanggil untuk segera di masukkan ke dalam mulut.
"Keliatannya enak banget, apalagi pake irisan bawang merah dan cabe rawit, duh jadi gak sabar," gumam Rara yang masih bisa di dengar oleh Aris.
"Ilernya itu loh, yank!" ucap Aris yang langsung di tanggapi oleh Rara dengan mengusap bibirnya kasar.
"Mana ilernya?? Gak ada?" sungut Rara membuat Aris langsung tertawa.
"Ih, kamu ngerjain aku, yah!! Awas aja, gak dapet jatah!"
"Eh, jangan donk! Masa gak dapat jatah, tapi ngomong-ngomong jatah apa, ya?"
Rara tidak menggubris omongan Aris, dia langsung mengambil satu tusuk sate dan memakan nya tanpa menatap kekasihnya itu.
Aris hanya melongo saat melihat Rara makan seperti orang kesurupan, bukan maksudnya orang kelaparan. Dugaan Aris semakin menguat karena Rara sama sekali tidak ilfeel sama bau daging kambing, bau yang selama ini tidak di sukai Rara karena bau kambing itu sangat menyengat.
"Ini beneran kami udah baikan sama kambing, yank?" tanya Aris masih sibuk mengamati cara makan calon istrinya.
"Iya, kan pas lebaran kemarin udah maaf-maafan, jadi udah baikan, deh!" Aris memukulkan tangannya ke kepalanya sendiri berkali-kali.
'Ini kenapa calon bini gue jadi kek gini?' batin Aris.
"Napa kok gak di makan? Kalau kamu gak mau biar aku aja yang makan, ya?" ucap Rara.
"Eh, aku makan kok, ini mau di makan," Aris langsung mengambil satu tusuk sate dan langsung melahap semua sate yang ada.
Rara tersenyum menatap wajah tampan sang kekasih, sebenarnya dia sendiri juga bingung kenapa tiba-tiba tidak alergi pada olahan daging kambing. Tapi kalau melihat hewannya pasti dia masih trauma.
Bagaimana tidak trauma, Rara masih sangat ingat dulu saat masih kelas Lima SD Rara ada pengalaman buruk dengan hewan yang biasanya di pakai untuk Qurban itu.
Rara pernah di seruduk kambing jantan sampai di larikan ke rumah sakit. Mulai saat itu, Rara sangat takut dan alergi dengan hewan tersebut.
###
Nita menatap jam di pergelangan tangannya masih menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Rumah sakit sudah tampak sepi dan lenggang. Banyak para penunggu pasien yang rawat inap sudah pada istirahat.
Nita juga sudah selesai visit sejak sejam yang lalu, kegiatannya mengontrol para pasien sebelum mereka beristirahat. Saat ini seharusnya dia berjaga di Unit Gawat Darurat. Tapi karena ada koas yang sedang piket jaga, akhirnya Nita memilih kembali ke ruangan nya karena perasaannya sejak tadi tidak menentu.
Nita termenung di meja kerjanya, alasan hatinya menjadi sangat gelisah adalah karena sang suami belum membalas pesannya sejak tadi, padahal terakhir kali Nita mengirim pesan dua jam yang lalu.
Pikirannya sudah melayang entah kemana, memikirkan hal-hal yang tidak-tidak tentang Nathan.
Apakah pria itu menemui Silvia tanpa sepengetahuannya? Kalau iya berarti sekarang Nathan masih sibuk bersama Silvia dan tidak sempat membalas pesan darinya.
Tapi sedetik kemudian Nita menggeleng cepat, mengenyahkan pikirannya dari hal-hal negatif yang bercokol di kepala.
"Apa mungkin Nathan sibuk?"
"Gak biasanya dia abai sama pesanku!" Nita bermonolog sendiri.
"Mungkin saja masih sibuk lembur di kantor, kan?" wanita itu tidak boleh terlalu berpikiran buruk tentang suaminya.
Diapun lebih memilih menenangkan diri dan mengirim pesan untuk Rara. Kakaknya itu membalas pesannya bahwa dia sedang jalan-jalan bersama Aris.
"Duh, yang mau nikah, kencan terusss!"
Nita benar-benar ikut bahagia ketika melihat Rara yang kini sudah mau membuka hatinya dan sebentar lagi akan menikah, yang terpenting Rara menikah dengan pria yang di cintai dan mencintai nya.
Tiba-tiba Nita teringat dengan ucapan Rara siang tadi, mengenai kondisi Silvia yang tidak seharusnya ikut dia khawatirkan. Tapi tentu saja Nita harus bicara pada Nathan mengenai permintaan Silvia tadi dan ingin mengetahui reaksi suaminya.
Dan juga kenapa Nathan sampai sekarang tidak bercerita perihal pesan dari Silvia yang di ketahui oleh nya. Apakah Nathan mengira bahwa dirinya tidak tahu?
"Ya Tuhan, kenapa sih sulit hilang semua pikiran tentang Silvia dan Nathan? Seharusnya aku gak perlu berpikir jauh seperti ini!! Ingat Nita, kamu sedang hamil, gak baik kalau banyak pikiran, abaikan sesuatu yang tidak menyehatkan hati, percayalah bahwa suamimu itu pria yang baik dan setia!" Nita segera menghubungi ponsel Nathan karena dia tidak ingin menduga-duga dan bertanya-tanya.
Nita harus bisa lebih terbuka dengan Nathan, bukankah selama ini Nathan juga sangat terbuka kepadanya.
"Halo, sayang? Maaf tadi ponselnya ketinggalan di mobil, aku udah di rumah mau siap-siap jemput kamu, aku gak jadi lembur karena akhirnya kerjasama ku dengan Pak Halim berjalan dengan lancar, makanya aku mau langsung ketemu sama kamu, sayang," Nita tersenyum kala mendengar suara Nathan dan ucapan dari pria itu yang begitu panjang.
Bersambung.