
Happy Reading.
Nita merebahkan kepalanya pada dada bidang Nathan, mencari kenyamanan di sana sambil bermain ponsel. Sedangkan Nathan hanya melihat sang istri yang sedang berbalas pesan kepada Rara sambil tangannya memeluk bahu sang istri.
"Sayang, tadi Silvia datang ke sini," ujar Nathan membuat Nita menghentikan jemarinya yang tengah mengetik balasan terhadap sang kakak.
Nita sudah tau tapi dia memang sengaja diam tidak menanyakan apa-apa kepada sang suami mengenai kedatangan mantan kekasih suaminya itu.
Nita menunggu Nathan bercerita sendiri, atau suaminya itu tidak akan cerita apapun kepadanya. Tapi ternyata Nathan memilih untuk bercerita.
'Suami yang jujur!' batin Nita.
"Sayang, kenapa diam?" tanya Nathan yang tidak mendapatkan respon dari sang istri. Padahal tadi jelas-jelas dia sudah mengatakan tentang Silvia.
"Eh, memangnya aku harus berkata apa? Kan aku nunggu terusan cerita dari kamu?" jawab Nita.
Nathan tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya, mendengar nada bicara istrinya yang sedikit ketus membuat dia senang.
Itu berarti artinya Nita cemburu, kan?
"Tadi pas aku baru keluar dari mobil dan mau masuk rumah, tiba-tiba Silvia memanggil, dia minta tolong sama aku, katanya mau pinjam uang," Nathan menjeda ucapan nya, ingin melihat reaksi Nita.
"Terus, kamu pinjemin?"
"Aku mau kasih pinjam tapi harus melalui persetujuan mu dulu, padahal Silvia itu punya tabungan banyak, dulu gajinya hampir tidak pernah dia pakai karena urusan makan dan kebutuhan lainnya aku yang penuhi, ehmm maaf sayang .... !"
"Kenapa minta maaf, itu kan hak kamu," sela Nita.
Iya, tapi sekarang semua pendapatan ku hanya untuk istriku ini, aku akan memberikan semua gaji ku padamu, sayang," ujar Nathan mengambil good card di dompetnya dan langsung memberikannya pada Nita.
Bahkan dua kartu kredit lainnya juga dia serahkan pada istri tercintanya.
"Ini semua kartu kredit ku, dan yang gold card ini khusus untuk kamu, mulai sekarang kamu yang kelola keuangan rumah tangga kita, jadi kalau ada orang yang meminta atau minjam uang sama aku, mereka aku suruh minta izin sama kamu dulu," ujar Nathan. Dia sudah mulai belajar membaca situasi yang tadi baru dia temui.
Nita tersenyum setelah mendengar ucapan sang suami. "Terima kasih, kamu udah mempercayakan semuanya sama aku, tapi kalau semua kartumu di kasih ke aku, nanti gimana kamu mau bayar bensin, bayar parkir, atau pas ada kebutuhan mendadak, jadi ini buat kamu, sebenarnya aku juga udah punya banyak uang dan kartu kredit, tapi karena kamu mempercayakan semuanya padaku, dengan senang hati aku menerimanya," ujar Nita tersenyum.
"Aku hanya ingin di antara kita tidak ada rahasia apapun, sayang. Seperti dulu," ucap Nathan memeluk pinggang istrinya.
"Iya, seperti dulu, dari dulu kamu memang orang yang sangat jujur, sampai pada waktu malam pernikahan kita yang pertama, kamu memberikan sebuah kejujuran yang menyakiti hatiku," jawab Nita sendu.
"Maafkan aku, sayang. Aku benar-benar menyesal, aku pria bodoh yang sama sekali tidak pernah memikirkan perasaan mu, maafkan aku," Nathan langsung merengkuh Nita dalam pelukannya.
Pria itu benar-benar menyesali semua perbuatannya pada sang istri, tapi dia merasa Tuhan masih sangat menyayanginya karena sebelum semuanya terlambat dia sudah memantapkan hatinya untuk Nita.
"Sudahlah, aku juga udah lupa semua masa kelam itu, tidak perlu merasa bersalah," Nita mencium bibir Nathan.
Membuat pria yang baru saja merasakan kesedihan luar biasa itu menyunggingkan senyumnya.
"Terima kasih, istriku! terima kasih!"
Bersambung.
Taqabbalallaahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin, selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 1443 Hijriah. (semoga Allah mengabulkan atau menerima amal ibadah amal ibadah Ramadhan kita semuanya)