
Happy Reading.
Aris sejak tadi tersenyum lebar ketika mendengar jawaban dari Rara. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata Rara bisa bercanda di saat seperti ini. Perlahan Aris mendekatkan duduknya, mendempet Rara yang tengah memalingkan wajahnya ke arah berlawanan.
"Sayang, apa tadi yang lo bilang?" Aris mencoba untuk menggoda Rara, menoel dagunya dengan gemas.
"Gak jadi, gak usah nanya, udah kadaluarsa!"
"Oke-oke, aku sempat denger kalau kamu bilang ingin merasakan enaknya bercin ... eeummmh!!" Rara membungkam mulut Aris dengan telapak tangannya.
Merasa malu karena kejujuran yang dia ucapkan.
Rara sendiri sebenarnya merutuki kebodohannya karena berucap seperti itu, tapi jujur saja dia sebenarnya sudah merasa nyaman dengan Aris dan segala perhatiannya. Tapi kalau seperti ini jadinya dia merasa seperti wanita yang haus akan belaian. Ah, menjanda bertahun-tahun membuatnya merasa bahagia ketika mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari seorang pria, meskipun pria itu adalah mantan.
Justru mungkin mantan itulah yang bisa membuatnya merasakan sebuah perasaan yang namanya saling memiliki dan berbagi, mengisi kekosongan hatinya yang selama bertahun-tahun ia biarkan tertutup.
Merasakan kehangatan akan sebuah hubungan yang di dasari oleh cinta, Rara memang telah menutup hatinya semenjak meninggalnya sang suami, dia memilih fokus bekerja sebagai designer dan merintis karir.
"Ehgem, aku cinta kamu!" Aris mencium pipi Rara dan memeluk wanita itu dari samping.
"Sangattt cinta!!" lagi, Aris mencium pipi yang mulai terlihat merona.
"Apaan, sih!! Gak usah aku-kamu deh, aneh banget dengernya!" seru Rara menggeser duduknya. Sebenarnya dia merasa senang di goda seperti ini, tapi ya tentu saja gengsinya di gedein.
Aris melihat Rara yang salah tingkah menjadi semakin ingin menggoda kekasihnya itu.
"Sayang ,, sayang, aku mau kok ngulang yang tadi malam ... " Aris meringis kala mendapatkan cubitan dari Rara di perutnya.
"Gue laper, mau makan di warung soto depan," Rara bangkit dari duduknya dan melangkah cepat meninggalkan Aris di ruang tamu yang ada di butiknya.
Sedangkan Aris hanya tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Rara yang menurutnya sangat menggemaskan itu.
###
"APA!!" Nita dan Nathan sama-sama kompak terkejut.
"Ssstttt! Slow donk, gak usah sok kaget gitu!" ujar Aris menatap kedua pasangan di depannya.
"Gak Bre! Gue sama Rara udah nglakuin itu di alam bawah sadar kita, gue takut kalau Rara hamil dan itu berdampak buruk buat semuanya, gue mau bikin kejutan buat Rara untuk bawa dia ke depan penghulu, kaya waktu lo kasih kejutan ke Nita pas waktu nikahin dia itu, tapi cewek gue itu susahnya minta mau, malu-malu mau dia!" ujar Aris.
"Kakak gue emang gitu, dia tipe cewek yang susah buat di ajak serius, ada aja alasannya, makanya gak ada cowok yang deketin dia lagi setelah suaminya meninggal, jadi lo harus tegasin ke dia kalau hubungan ini harus secepatnya di resmikan," ucap Nita.
Sepertinya dia memang perlu membantu Aris untuk meyakinkan Rara agar segera mempercepat pernikahan, agar tidak ada hal-hal lagi yang nantinya tidak di inginkan terjadi.
###
Rara menatap adiknya yang saat ini tengah berusaha membujuknya. "Kenapa kamu gak mau nikah sama Aris, Ra?" tanya Nita yang sejak tadi sore pulang ke rumah mereka.
Rara menghela napas, ada suatu hal yang sebenarnya sangat menggangu hati dan pikirannya akhir-akhir ini. Terlepas dari masalah dia dan Aris yang melakukan hubungan malam itu, sebenarnya ada hal yang lebih rumit di dalam pikirannya.
"Apa gue musti jujur sama kalian?"
"Emang ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" tanya Nita terkejut.
Rara mengambil buah apel di atas meja dan langsung menggigit nya. Mengunyah pelan sambil berpikir apakah sebaiknya dia membicarakan masalah ini pada sang adik.
"Mungkin memang sebaiknya aku cerita sama kamu, Nit. Ada saatnya aku gak bisa bersikap sok tegar seperti ini, jujur aku masih mencintai Aris setelah dia ngejar aku kembali, tapi ada suatu hal yang membuatku sedikit ragu untuk cepat menerima nya," ujar Rara.
"Aduh, langsung cerita aja donk, Ra! biar aku gak penasaran!" Nita menggoyangkan lengan kakaknya itu, merasa benar-benar penasaran dengan apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh Rara.
"Sebenarnya ini ada sangkut pautnya dengan Silvia dan juga Aris," jawab Rara.
Deg!
Nita benar-benar terkejut, kenapa nama Silvia juga di sebutkan oleh Rara, sebenarnya ada masalah apa? dan apa yang mereka sembunyikan sebenarnya.
"Ada apa dengan mereka berdua, Ra? please jawab! jangan bikin aku penasaran!"
Bersambung
Ada apa dengan Silvia dan Aris??