My Ex Wife

My Ex Wife
Menyesal



Happy Reading.


Langit di atas sana hari ini nampak seperti sedang bersedih, tidak ada sinar matahari yang terlihat sedikitpun. Hanya sebuah gumpalan awan hitam yang menyelimuti langit kota Jakarta yang sebentar lagi pasti akan menumpahkan airnya di balik gumpalan awan tersebut.


Angin sepoi-sepoi pun berhembus, terkadang sedikit kencang hingga mampu membuat rambut sebahu seorang wanita berlambai-lambai.


"Lo gak apa-apa, kan? Ra, jangan bikin gue gak tenang lihat lo yang kek gini!" ujar Aris yang sedari tadi berusaha untuk membujuk Rara agar mau menatap ke arahnya.


"Please, Ra!! semua ini pasti salah paham!!" pria berperawakan tinggi itu masih berusaha membujuk Rara, wanita yang saat ini sudah memenuhi relung hatinya.


Tidak ingin kesalah pahaman ini semakin larut, Aris benar-benar frustasi di diamkan seperti ini oleh Rara, wanita yang belum lama menerimanya kembali.


Kenapa begitu sulit untuk bisa membuat Rara percaya padanya, semua itu mungkin hanya salah paham, hanya kecelakaan kecil. Aris sendiri benar-benar tidak mengerti kenapa semuanya menjadi seperti ini.


"Ra!! tolong percaya sama gue, gue gak mungkin nglakuin itu, lo percaya, kan sama gue?"


Wanita itu menoleh sekilas kepada pria di sampingnya ini, pria yang sejak tadi pagi gelisah tak menentu. Rara menghela napas, mengeluarkan segala rasa sesak di hatinya, kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke depan, ke arah luar kaca pintu butiknya yang kini nampak basah jalanan di depan butik karena hujan mengguyur.


"Gue gak bisa tenang, Ris! gue bukan cewek lugu yang gak tau apa-apa, gue janda dan gue udah paham dengan semuanya yang gue lihat! Apa lo masih mau nyangkal?" ujar Rara berusaha menyembunyikan emosinya.


Tangannya terkepal kuat, sangat kuat sampai terlihat otot-otot lengannya yang menandakan bahwa Rara saat ini benar-benar berusaha mengontrol segenap emosi jiwa yang membuncah.


"Gue minta maaf, gue bener-bener gak ingat apa-apa, Ra!"


"Oh, jadi lo ngelak semua itu dengan alasan 'Gak ingat apa-apa' terus kalau ada orang yang minta tanggung jawab sama lo, dan lo bilang gak ingat?? apa semua bakal beres?? jadi lo juga gak mau ngaku kalau kita gak nglakuin itu semua tadi malam?" ujar Rara masih datar dan dingin.


Aris tergagap, salah tingkah dengan ucapan kekasihnya ini, dia harus bilang apalagi coba, bilang khilaf dan menikmati, atau mengatakan bahwa dia memang sama sekali tidak ingat? sungguh sekarang hatinya benar-benar dilema.


"Gue-gue kan udah bilang kalau gue bakalan tanggung jawab, kalau emang kita benar-benar nglakuin hal itu, tapi elonya kekeh gak mau, gue juga sama sekali gak ingat malam tadi, Ra! Sumpah!" seru Aris mengangkat tangan kirinya.


Lagi-lagi Rara hanya bisa mendengus kesal karena kejadian yang benar-benar membuatnya jijik dengan dirinya sendiri.


Malam itu Rara dan Aris menghadiri pesta salah satu teman Aris di sebuah klub malam. Kenapa juga harus di klub malam? akhirnya keduanya di suguhi minuman yang Rara juga tahu kalau sebenarnya itu minuman beralkohol.


Tapi demi menghargai yang punya acara, baik Rara maupun Aris akhirnya menerima gelas itu, dan juga gelas-gelas berikut nya.


Akhirnya setelah semalaman mereka mabuk berat, Rara dan Aris tiba-tiba bangun di sebuah kamar yang di sediakan di klub tersebut dengan keadaan yang sama-sama tanpa busana.


Dan sialnya lagi, ada bekas cairan kental di area sensitif Rara yang terasa lengket. Entah berapa kali Aris melakukan hal itu, menumpahkan benih di ladangnya yang sedang masa subur.


Rara benar-benar tidak ingat apa-apa, hanya sebuah ciuman panas dan rasa nikmat tiada tara dari sentuhan seorang pria yang ia yakini itu memang Aris, karena semalaman pria itu benar-benar menempel terus padanya seperti perangko. Takut-takut kalau ada orang yang menggoda Rara, Aris siap pasang badan.


"Jadi lo udah ngaku kalau lo dengan sengaja nglakuin hal itu ke gue? agar semua rencana lo bisa cepat terkabul?" Aris langsung menggeleng cepat.


"Enggak, Ra! sumpah! Ya Tuhan!! pikiran dan otakku gak sebej*t itu, sayang!!"


"Tapi gue masih belum kepikiran buat nikah!!" Aris duduk di samping Rara, memegang bahu wanita itu untuk mengarahkan ke hadapannya.


"Apa lo nyesel, Ra?" tanya Aris kali ini benar-benar terlihat serius.


Rara masih diam tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Aris.


"Please, jawab, Ra? lo nyesel udah nglakuin itu sama gue?" Rara mengangguk.


"Iya, gue nyesel!" jawab Rara tegas.


Tangan Aris langsung merosot, ada sedikit kekecewaan di sudut hatinya, jadi Rara gak suka kalau dia nglakuin itu? apa karena mereka belum menikah? atau karena Rara tidak suka menjadi ibu dari anak-anaknya.


"Maaf!" cicit Aris menunjukkan pandangan nya, tidak berani menatap wajah Rara yang sedari tadi masih nampak datar dan dingin.


Sebenarnya dia samar-samar ingat dengan kelakuan nya, mencium Rara yang sudaha mabuk, dia juga mabuk tapi masih bisa mengangkat tubuh wanita itu untuk berpindah tempat.


Rara juga begitu agresif dengan menciumnya bertubi-tubi, padahal niat Aris awalnya hanya ingin mengajak Rara istirahat di kamar yang di sediakan di klub malam milik sahabatnya itu.


Tapi melihat Rara yang perlahan membuka pakaiannya satu persatu membuat pertahanan Aris langsung lemah seketika. Rara memang mabuk berat, wanita itu terlihat tidak kuat untuk minum. Dan dengan ketidak berdayaannya Aris mengambil kesempatan tersebut.


Menjamah Rara bahkan bercinta dengan wanita yang sangat di cintai nya itu. Rara benar-benar membuatnya melayang ke langit ketujuh tadi malam.


"Ris!" Rara memanggil Aris di sertai helaan napas kasar.


"Gue nyesel nglakuin itu sama lo, nyesel karena tadi malem gue gak bisa ingat apa-apa, jadi gue gak ingat gimana rasanya," ujar Rara memainkan ujung bajunya.


Aris langsung menegakkan wajahnya yang tadi di tekuk. "Apa? coba lo ulangi lagi donk, Ra!"


"Gak ada siaran ulang!"


Bersambung.


Minal aidzin wal Faidzin ya akak2 semuanya 🥰🥰🥰