
Happy Reading.
Nathan dan Nita sudah meninggalkan rumah yang pernah mereka tinggali bersama itu, sekarang Nathan mengajak sang calon istri untuk ke rumah orang tuanya.
Tadi mereka sudah membersihkan diri setelah bernostalgia di tempat tidur (tapi tidak melakukan hubungan suami istri) hanya ciuman dan pelukan hangat.
Sepanjang perjalanan, Nathan selalu menggenggam tangan Nita dan menggunakan satu tangannya untuk menyetir.
Bahkan Nita sampai merasakan tangannya berkeringat karena genggaman Nathan begitu erat. Sebenarnya wanita cantik itu ingin sekali melepaskan tangannya, rasanya sudah seperti kesemutan. Tapi sepertinya Nathan lebih paham dan selalu mengelus punggung tangannya dengan ibu jari.
"Bagaimana kabar Papa dan Mama?" tanya Nita mengalihkan tangannya yang terasa sudah pegal.
"Alhamdulillah, sehat ... masih sama seperti dulu, suka bercanda dan resah ketika melihat putra semata wayangnya belum nikah juga," jawab Nathan terkekeh.
"Kenapa mereka resah? bukankah kamu mau nikah kan pada waktu itu?" Nathan mengehela nafas.
"Mereka sudah ingin menimang cucu, tau sendirilah dulu Mama memaksaku nikah muda, karena Mama dan yang sudah tidak sabar ingin gendong bayi, tapi ya karena janjiku dulu dengan Silvia, membuat ku harus melepaskan mu, hah! naif banget, kan?" Nathan menoleh ke arah Nita sekilas hanya untuk melihat ekspresi wajahnya.
"Mungkin kalau aku gak pernah kirim WA dan jujur tentang perasaanku, kamu pasti sekarang udah punya anak dan Mama Papa udah nimang cucu dari kamu," jawab Nita datar.
Ya, dia tidak akan pernah tahu apa yang terjadi kalau seandainya dia tidak jujur.
"Jangan bicara gitu, mungkin ini memang takdir, takdirku adalah kamu, jadi kalau misalkan kamu gak kirim chat sama aku, mungkin aku juga tetep gak akan nikah sama Silvia," ucap Nathan menoleh kembali.
"Kok bisa yakin banget? emang kamu tau?" Nathan mencium pipi Nita.
"Ya, kalau gak yakin, jalan hidupku dan kamu juga gak akan kaya gini, jadi intinya memang kita harus berpisah dulu dan kembali bersama setelah hati kita sama-sama berada dalam kemantapan hati," jawab Nathan yakin. Nita diam tidak menjawab.
Tidak berselang lama, mereka sampai di rumah orang tua Nathan yang tidak lain adalah mantan mertuanya.
"Ayo, sayang, Mama udah nunggu kamu," ucap Nathan.
"Jangan manggil sayang donk, di kira kita punya hubungan spesial," sewot Nita.
Nathan melongo, kalau mereka tidak punya hubungan spesial lalau apa arti ciuman mereka.
"Jadi kamu anggap aku apa, Ta?"
"Ehmm, tergantung nanti," Nita melengos pergi masuk ke dalam rumah setelah di buka oleh asisten rumah tangga.
"Assalamualaikum, Ma!" sapa Nita saat melihat Mama Nathan yang sudah menyambutnya di depan pintu.
Sepertinya Mama Nathan memang sudah menanti kehadiran mereka.
Nathan baru saja masuk dan melihat adegan yang membuatnya terharu. Nathan sadar bahwa selama ini Mamanya tidak pernah bisa bersikap seperti ini terhadap Silvia, karena ternyata Nita memang se-spesial itu di hati Mama dan Papanya.
'Ternyata kamu memang wanita yang benar-benar spesial, Ta!'
####
Aris sejak tadi tidak berhenti tersenyum lebar karena usahanya untuk mengajak Rara pergi keluar akhirnya berhasil. Meski dengan jurus 1000 rayuan yang dia berikan hampir saja tidak bisa memikat Rara, dan jurus ke 1001 akhirnya wanita itu menyerah.
"Lo mau bawa gue kemana?" tanya Rara kesal. Pandangannya sejak tadi lurus ke depan tanpa mau menoleh ke arah pria di sampingnya yang sedang mengemudi.
"Ntar lo juga bakalan tau, gue cuma pengen buktiin ke elo, kalau gue ini serius, dan lo juga seharusnya percaya sama gue," kali ini ucapan Aris sanggup membuat Rara meliriknya.
"Maksudnya apa coba?" gumam Rara. Wanita itu masih menganggap kalau Aris ini adalah cowok yang sedang patah hati karena di khianati oleh calon istrinya sendiri.
"Gue gak tau harus gimana lagi bikin lo percaya sama gue, Ra. Dibohongi dan di khianati cewek brengsek itu bener-bener gak ada apa-apanya di bandingkan diputusin sama elo," ucapan yang sama yang selalu Aris katakan, kalau dia sekarang sama sekali tidak patah hati.
Rara tidak menjawab, dia memang tidak terlalu memikirkan masalah sang mantan yang gagal nikah tersebut, dia bahkan sama sekali tidak merasa kasihan, hanya saja ucapan Aris yang selalu mengatakan bahwa Rara harus menerimanya kembali membuat wanita itu benar-benar pusing. Sejujurnya memang Rara belum ingin menjalin hubungan kembali dengan seorang pria. Tapi entah kenapa pertemuannya dengan pria yang pernah menjadi kekasihnya itu berhasil mencairkan hati Rara yang sempat beku karena di tinggal mati oleh suaminya.
"Ra, kali ini gue gak akan lepasin lo, gue pengen kita bersama selamanya," ucap Aris menggenggam tangan Rara.
"Kenapa lo yakin banget sama gue, lo udah gue tinggalin dulu, apa lo gak sakit hati dan benci sama gue?" tanya Rara.
Aris menggeleng. "Gue hanya kecewa sama elo, apalagi gue tahu kabar bahwa lo akhirnya nikah sama cowok lain, yang pasti pada saat itu gue cuma merasa kalau lo emang bukan jodoh gue,, tapi ternyata doa gue di kabulin, kita ketemu lagi dan sekarang gue gak akan lepasin elo lagi," jawab Aris membuat jantung Rara merasa di remas.
Ada setitik rasa bahagia disudut hatinya, tapi masih terkalahkan dengan rasa takut, entah kenapa, tapi Rara tidak bisa menerjemahkan perasaan nya sendiri.
Rara melihat Aris membelokan mobilnya ke sebuah pekarangan rumah yang sangat besar. Rara masih belum bisa menduga, rumah siapa itu, apakah rumah Aris atau rumah sahabatnya, karena memang dulu dia belum pernah berkunjung ke rumah pria tersebut
"Ini rumah siapa?" tanya Rara penasaran saat Aris menghentikan mobilnya di depan garasi yang besar.
"Ini rumah orang tua gue, gue mau bawa lo ke mereka," jawab Aris melepaskan sabuk pengamannya.
"Kenapa lo bawa gue ke sini?" Rara masih tidak paham.
"Biar lo kenal sama keluarga gue, mereka kira gue sedih karena di bohongi sama Nana, padahal gue sama sekali gak sedih, karena akhirnya gue bisa dapetin lo, Aura!"
Bersambung.
Marhaban ya Ramadhan. Terangkai kata dengan Bismillah, terucap salam mengiring doa. Kuhaturkan maaf atas salah untuk menyambut Ramadhan penuh berkah. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 2022 Untuk aka reader semuanya 🥰🥰
Salam sayang dari Navizaa