My Ex Wife

My Ex Wife
Begitu Sempurna



Happy Reading.


Rara dan Aris tengah beradu mulut di dalam mobil. Bukan beradu mulut seperti pada umumnya, mereka sedang menyesapi bibir satu sama lain, memainkan lidah di dalam mulut pasangan dan mengerang perlahan ketika salah satu dari mereka saling menyesap kuat.


"Euugghh!" lenguh Rara saat Aris melepaskan ciumannya, hanya menjeda untuk Rara mengambil napas, setelah itu Aris meneruskan ciuman itu dengan sedikit tekanan di tengkuk Rara.


Memagut dengan sangat menuntut, Aris semakin menekan dan memperdalam ciumannya, merasakan rasa manis dari bibir Rara. Masih dengan saling memainkan lidah, bahkan udara di sekitar mereka sudah sangat panas, seperti kegiatan mereka yang semakin panas.


"Eumm, udah! Jangan di terusin!" sentak Rara mendorong tubuh Aris agar melepaskan ciuman mereka.


"Ra! Sayang!" ujar Aris menatapnya dengan tatapan memelas dan memohon. Menahan hasrat yang bergelora karena sudah di ambang batas.


Rara menggeleng. "Jangan! Nanti aku bisa minta lebih, gimana? Jangan mancing-mancing janda, ya? Kamu tau sendiri kan akibatnya," jawab Rara merapikan dress-nya yang sudah berantakan.


"Sengaja mancing, biar kamu ingat gimana rasanya milikku memenuhi milikmu," mulai sudah otak Aris yang mesum. Gara-gara malam panjang mereka waktu itu, Aris suka sekali menggoda Rara dan sebenarnya ia ingin mengulang kembali malam itu bersama Rara.


"Aww! Sakit!!" Aris memegang keningnya yang mendapat jitakan dari sang calon istri.


"Habisnya mesum terus!"


"Tapi kamu suka, kan?" Aris menarik pinggang Rara sampai wanita itu duduk di atas pangkuan Aris.


Rara sedikit terpekik dan langsung mengalungkan tangannya ke leher calon suaminya itu, tangan Aris juga tidak tinggal diam, ia langsung melilit pinggang Rara yang masih ramping tersebut dengan kedua tangannya.


"Ehmm, udah gak sabar sih, sebenarnya, aku juga udah nemuin orang yang tepat, mungkin menikah lagi kali ini bisa membuat perubahan dalam hidup ku," ujar Rara. Bertahun-tahun menjanda membuatnya begitu sulit untuk membuka hati.


Tapi ternyata Tuhan masih begitu baik dengan mempertemukan kembali dengan sang mantan tercinta.


"Kamu tau gak, sih? Kalau kita tuh sebenernya udah di takdir kan untuk bersama?" bisik Aris.


"Gak tau dan gak nyangka," jawab Rara asal.


Aris terkekeh dan kemudian mencium bibir Rara, ******* lembut bibir yang sudah menjadi candunya itu. "Kamu itu jodohku, udah di tulis sejak kita lahir," jawab Aris mengusap sudut bibir Rara yang basah akibat ulahnya.


###


Di sisi lain.


Nita memarkirkan mobilnya di halaman rumah di samping mobil Nathan. Ternyata suaminya itu sudah berada di rumah.


Nita segera keluar membawa tas kecil yang berisi dompet dan ponselnya. Kemudian menutup pintu mobil dan segera berjalan masuk ke dalam rumah.


Nita melihat Nathan yang turun dari tangga masih memakai pakaian yang kerjanya, berjalan ke arah sang istri sambil tersenyum.


"Dari mana, yank?" tanya Nathan saat sudah di depan sang istri.


Nita mengambil tangan Nathan dan mencium punggung tangan suaminya, membuat pria itu begitu berbunga dan merasa sangat di hormati. Nathan tidak mau kalah dari Nita, pria itu langsung menghujami pipi Nita dengan ciuman.


"Ehmm, baru dari apotik, persediaan obat di kotak P3k udah habis," jawab Nita sambil memperlihatkan gigi-giginya.


Tentu dia berbohong masalah membeli obat itu karena Nita punya stok obat dari rumah sakit dan tentu itu masih banyak. Tapi dia juga tidak mungkin memberitahu Nathan tentang alat tes kehamilan itu, Nita belum tahu pasti apakah dia positif hamil atau tidak.


Mungkin ia akan memberitahukan pada Nathan kalau dirinya benar-benar sudah positif.


Kedua pasangan pengantin baru itu berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Nathan sambil melepaskan pakaiannya.


"Ehmm, keadaan? Aku gak apa-apa," Nathan menatap Nita, meneliti wajah istrinya itu untuk melihat apakah Nita masih merasa bersedih dengan peristiwa siang tadi.


Seakan takut kalau istrinya itu pergi lagi seperti dulu dan menghilang bagai di telan bumi. Nathan masih merasa trauma dengan kepergian Nita waktu itu.


"Aku juga cintaaa banget sama kamu, sayang! Tenang aja, aku gak akan pergi dari sisimu lagi," jawab Nita seakan mengerti dengan kegelisahan sang suami.


"Terima kasih, terima kasih!" Nathan mencium bibir Nita sekilas kemudian memeluk istrinya itu.


"Mandi dulu, gih! Nanti abis itu kita makan malam, tadi aku udah nyuruh Bik Sum bikin omlet sayur," ucap Nita mendorong tubuh suaminya.


"Iya, bentar lagi, aku masih kangen, pengen mandangin kamu terus," mulai lagi mode manjanya.


"Masa mau liatin terus, nanti aja kalau udah mandi, udah wangi terus kamu pandang aku sepuasnya," jawab Nita tertawa.


"Oke deh, aku mandi dulu, ya?" Nathan melepas pelukannya kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Nita yang melihat suaminya sudah menutup pintu kamar mandi langsung segera mengambil sesuatu di dalam tasnya.


"Aku akan tes di kamar mandi lain, harus segera di cek biar gak penasaran," gumam Nita kemudian keluar dari dalam kamar dan pergi ke kamar sebelah untuk melihat hasil teh itu.


Setelah menampung air seni di wadah dan kemudian mencelupkan alat tes kehamilan itu Nita benar-benar harap-harap cemas.


"Kenapa aku jadi gugup!" gumam Nita terus-terusan melihat benda yang di bawanya itu.


Nita menunggu harap-harap cemas, hitungan di menit 2 langsung membuat Nita tidak sanggup untuk tidak menutup mulutnya.


Dua garis merah yang tertera di alat itu membuat Nita benar-benar merasa sangat terkejut. Secepat itu dia di beri kepercayaan oleh Tuhan. Tentu saja dia merasa sangat bahagia.


"A-aku benar-benar hamil?" Nita masih menutup mulutnya tidak percaya. Secepat itukah? Rasanya benar-benar seperti mimpi, bahwa dia sekarang sudah menjadi calon ibu.


"Sudah sejak Lima tahun lalu aku menginginkan momen ini, dan akhirnya semua itu benar-benar terjadi," gumam Nita berkaca-kaca.


Tok, tok, tok!


Nita segera menghapus air matanya ketika mendengar pintu kamar di ketuk.


"Sayang!! Apa kamu di dalam!"


"Iya, sebentar,,


"Kenapa lama sekali, sayang!" seru Nathan yang baru saja selesai membersihkan diri. Dia tidak mendapati istrinya di dalan kamar, tentunya dia langsung pergi mencari Nita di kamar sebelah.


Nita tersenyum lebar dan segera membuka pintu kamar mandi itu.


Nathan sedikit terkejut ketika melihat Nita yang tiba-tiba berhambur memeluknya.


"Ada apa, sayang? Apa ada yang nyatikin kamu lagi?" Nita menggeleng.


Dia hanya menyodorkan sebuah benda yang sejak tadi ia genggam. Mata Nathan membulat sempurna kala melihat benda itu.


"Ini-ini?" Nathan memandang Nita yang kali ini mengangguk.


"Aku hamil!" ujar Nita tersenyum.


"Apa! Ulangi sekali sayang,"


"Aku hamil, Nathan sayang," Nathan langsung memeluk istrinya erat. Dia benar-benar merasa sangat bahagia. Merasa kehidupan nya begitu sempurna.


Bersambung.