My Ex Wife

My Ex Wife
Kepedulian Nita



Happy Reading.


Nathan segera mengangkat telepon dari istrinya setelah sedikit menjauh dari ketiga orang tadi.


"Halo, sayang? Ada apa?"


Di sebrang telepon Nita masih terdiam tidak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan dari sang suami. Pertanyaan yang sangat sederhana namun lidah Nita seakan kelu untuk menjawabnya.


Wanita itu berusaha menguasai dirinya setelah menatap Silvia yang baru saja mendapatkan penanganan dari dokter.


Kondisi wanita itu semakin memburuk, tentu saja sebagai sesama wanita, Nita tahu kondisi mantan dari suaminya itu saat ini benar-benar butuh seseorang yang sangat berarti di sampingnya. Memberikan semangat untuk tetap bisa melawan penyakit yang menggerogotinya itu.


"Halo, tidak ada, aku hanya rindu," jawab Nita akhirnya sambil menghembuskan napas perlahan.


Di sebrang sana terdengar kekehan dari Nathan, merasa istrinya ini sangat manis sekali, Nathan suka dengan sikap Nita yang posesif terhadap nya.


"Aku juga rindu kamu, sayang, nanti pulang jam berapa? Kamu kan harus jaga malam ini?"


"Aku pulang jam sepuluh malam."


"Baiklah, nanti aku jemput, aku juga akan lembur sampai kamu pulang, kalau begitu nanti di sambung lagi ya, sayang. Aku sedang meeting dengan klien dari Brunei."


"Hemm, semoga berhasil."


"I love you, so much!" Nita menutup panggilannya setelah Nathan memberikan kissing jauh.


Nita mendesah pelan, matanya menatap wanita yang terbaring di ranjang pasien itu, setelah tadi Silvia mengalami batuk yang mengeluarkan darah, akhirnya kondisinya drop kembali.


Nita teringat tentang ucapan Silvia mengenai keinginan nya untuk meminta Nathan merawatnya di saat-saat seperti ini. Tapi apakah Nita rela jika ia mengizinkan suaminya merawat dan menunggui wanita yang tidak lain adalah mantan kekasih suaminya sendiri?


"Apakah aku terlalu jahat kalau aku tidak bisa mengabulkan permintaan mu, Silvia," gumam Nita.


Dia harus egois, dulu Nita sudah banyak mengalah dengan membiarkan Nathan masih berhubungan dengan Silvia saat ia masih menjadi istri sah Nathan.


Bahkan seringkali Nita menahan kecemburuan yang besar saat mendengar Nathan mengobrol mesra lewat video call dengan Silvia. Lalu apakah sekarang dia pantas di sebut egois kalau tidak mengizinkan Silvia bertemu dengan suaminya.


Nita memilih segera pergi dari tempat tersebut karena memang dia harus segera kembali ke rumah sakit miliknya.


Ah, mengingat rumah sakit miliknya itu, sebenarnya belum resmi berpindah tangan padanya dan Rara. Nita bahkan belum bisa di sibukkan dengan penelitian ataupun segala macam yang menyangkut tentang rumah sakit.


Tapi dia juga tidak berhenti begitu saja memikul tanggung jawab yang besar di pundaknya. Nita tetap harus selalu belajar dan belajar agar semakin mantap untuk menjadi penerus di keluarga nya.


Akhirnya wanita itu menelepon Rara yang sepertinya sedang tidak sibuk, karena tadi kakaknya itu mengatakan bahwa ia sedang ada waktu luang setelah beberapa hari lembur untuk membuat gaun pengantin yang Rara desain sendiri.


###


"Jadi kamu jenguk si Mak lampir itu? Apa kamu sehat, Nit? Gak seharusnya kamu pergi menemui si Mak lampir hanya karena ingin tahu kondisi nya!! Aris aja udah aku larang, kok kamu berani banget sih datengin dia?? lagian kan dia juga udah hampir ko'it! Masih juga gak tau diri!" cecar Rara.


Nita hanya bisa diam tanpa mampu membalas ocehan kakaknya yang panjang kali lebar kali tinggi itu. Nita bahkan tidak berani membuka ceritanya mengenai kondisi Silvia kepada sang kakak.


Rara meremas setir mobilnya, merasa sedikit kesal dengan tingkah laku adiknya itu.


"Apa Nathan tau kalau kamu pergi menemui wanita itu?" tanya Rara lagi.


Lagi-lagi Nita menggeleng, dan hal itu membuat Rara benar-benar semakin meradang.


"Jangan di ulangi lagi, aku gak mau kalau kamu dan Nathan terjadi masalah gara-gara sang mantan, udah buang mantan pada tempat sampah! Dia juga udah dapat uang dari Aris yang lumayan banyak! Kok aku jadi makin greget aja ya sama itu si Mak lampir!!" Rara bersungut-sungut meluapkan amarahnya.


Siapa juga yang tidak kesal melihat Silvia seperti benalu di hidup mereka. Seharusnya wanita itu sadar dan tidak perlu menyusahkan orang lain lagi.


"Keadaannya semakin parah, aku hanya ingin melihat seberapa parah kondisinya sekarang, tapi kamu tahu sendiri kan kalau aku orangnya gak bakal tega melihat kondisi pasien yang seperti itu, Silvia memang membutuhkan orang yang berarti di sampingnya, Ra," ujar Nita.


Rara langsung menoleh ke arah adiknya itu, mengerutkan keningnya semakin dalam karena mendengar kan ucapan Nita yang entah kenapa seakan membela Silvia.


"Kamu beneran sehat, kan Nit?"


Nita menoleh dan mengangguk. "Aku paham dengan pemikiran mu, Ra! Tapi aku juga seorang dokter yang sudah sering kali menangani pasien yang akhirnya meninggal, dan setiap kali pasien itu mengungkapkan atau menginginkan hal-hal yang aneh, kurasa mungkin itu bisa jadi keinginan terakhir nya karena aku juga tahu bahwa umur mereka tidak panjang lagi, mengingat bagaimana kondisi Silvia sekarang, menurut ku dia butuh semangat, dukungan dan juga kasih sayang dari orang-orang sekitarnya, kalau seandainya orang yang di inginkan tidak bisa memberikan semua itu, setidaknya aku bisa memberikan semua keinginan itu untuk Silvia," ujar Nita.


Rara hanya mendengus tanpa menjawab, dia juga tidak mau terlalu mengurusi masalah Silvia lagi, yang dinginkan Rara sekarang adalah fokus untuk mempersiapkan pernikahan mereka yang tinggal beberapa minggu lagi.


###


Rara merebahkan tubuhnya di ranjang king size milik Aris, wanita itu saat ini sedang berada di apartemen sang calon istri. Aris baru saja pulang dari kantor dan langsung di sambut Rara di apartemen nya.


"Kamu udah mandi? Kok cuma tiduran aja, gak ada kerjaan emangnya?" tanya Aris yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


Melihat Rara yang hanya rebahan tanpa melepaskan sepatu flatshoes nya membuat Aris geleng-geleng kepala.


"Aku libur sehari, biar gak terlalu penat dan capek, tapi sepertinya meliburkan diri masih capek juga, aku laper, makan di luar yuk??" ucap Rara bangkit dari tidurnya.


Aris mengambil kaos putih polos di dalam lemari dan memakainya. "Memangnya kamu lapar? Ini baru jam Lima sore, makan malam sebentar lagi, sayang," ucap Aris mengambil CD dan memakainya membelakangi Rara.


"Pake CD di kamar mandi sono, sial!" Rara melemparkan bantal ke arah calon suaminya itu.


"Udah pernah lihat juga, mau di liatin lagi?" Aris membalikkan badannya dan Rara langsung menutup wajahnya dengan bantal.


Aris tertawa melihat tingkah Rara yang sok-sok jual mahal padahal udah nahan, tapi Aris juga udah janji sama Rara kalau dia tidak akan melakukan hubungan intim lagi kalau belum sah menjadi suami istri.


"Jadi makan, gak?" Aris duduk di samping Rara dan mengelus bahu wanita itu.


"Udah pakai bajunya?"


"Iya, udah," jawab Aris membuat Rara berani membuka matanya.


"Ya udah, ayuk makan, udah laper banget nih, bawaannya pengen makan terus," Rara berdiri dan menarik lengan Aris untuk segera keluar mencari makan.


Bersambung.