
Happy Reading.
Nita merasa sedikit gugup saat akan keluar dari taksi yang ia pesan. Melihat cermin untuk memastikan penampilannya masih terlihat baik dan cantik.
Setelah sedikit berdebat dengan pikirannya sendiri, akhirnya Nita memutuskan untuk pergi menjenguk Silvia di rumah sakit khusus tersebut.
Tentu saja dia harus berpenampilan rapi, menarik dan tentunya tidak kalah cantik dari Silvia yang di ketahui oleh Nita memang wanita itu sangat cantik dengan bodynya bak gitar spanyol.
Meskipun sebenarnya Nita tahu kalau penampilan nya itu akan sia-sia karena yang akan di temuinya adalah orang yang sedang sakit, dan bisa di pastikan bagaimana perubahan penampilan Silvia kalo ini.
Tapi tetap saja Nita harus tampil lebih baik dari sang mantan kekasih suaminya, bukan?
"Ini mang ongkosnya," Nita menyerahkan uang untuk sopir taksi tersebut.
Setelah membayar taksi itu, Nita segera bergegas keluar dan segera masuk ke dalam rumah sakit yang cukup besar itu.
Nita tidak membawa apa-apa untuk ia bawa, dia tidak sempat berpikir untuk membawakan oleh-oleh khas orang yang sedang menjenguk pasien.
'Ah, sudahlah, dia pasti juga tidak mengharapkan kehadiran ku, kalau aku bawa sesuatu pasti nanti juga akan mubadzir, kan?' batin Nita.
Setelah bertanya kepada resepsionis di rumah sakit tersebut, dengan Nita yang mengatakan bahwa ia adalah anggota keluarga Silvia, akhirnya ia mendapatkan informasi kamar di mana Silvia di rawat.
Setelah keluar dari lift di lantai tiga dan berjalan lurus tanpa berbelok, Nita bisa melihat nama ruangan yang nampak tenang di sudut sana.
Wanita yang tengah hamil muda itu menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Sepertinya Nita sudah cukup mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan sang mantan dari suaminya.
Nita membuka handle pintu dan langsung masuk saat melihat di dalam tidak ada siapa-siapa. Ruangan itu cukup besar dan Nita bisa melihat wanita yang sedang tertidur di ranjang pasien dengan di bantu alat seadanya.
Perlahan Nita melangkah kan kakinya masuk ke dalam. Dia bisa melihat Silvia di ranjang pasien nya, mungkin wanita itu sedang beristirahat.
"Ayu, lo udah balik? Gue bilang jangan ke sini kalau lo sibuk, gue berani sendiri, kok!"
Nita sedikit terkejut ketika mendengar ucapan Silvia, mungkin wanita itu berpikir bahwa yang sedang masuk ke dalam ruangan nya adalah Ayu.
"Eghem, ini aku," Silvia membulat kan matanya kala mendengar suara wanita yang sangat familiar di telinganya.
Wanita yang terlihat pucat itu menggerakkan kepalanya untuk menoleh ke samping, semakin membulat kala melihat Nita sudah berdiri tidak jauh di sisi ranjang nya.
"Mau apa lagi?" tanya Silvia sedikit kasar. Dia benar-benar tidak menyangka bisa melihat Nita di depannya saat ini.
"Mau jenguk kamu, lihat keadaan mu sekarang bagaimana," jawab Nita pelan.
"Heh, apa kamu mau lihat bagaimana menderita nya aku? kamu senang kan kalau aku seperti ini? Sampai kamu ke sini buat jenguk aku," alih-alih merasakan sakit hati karena di perlakukan seperti ini oleh Silvia, Nita lebih memilih prihatin melihat keadaan wanita pucat di depannya ini.
"Bagaimana keadaan mu?"
Silvia berdecih. "Seperti yang kamu lihat, aku makin parah!" Silvia tertawa sinis.Tapi tiba-tiba wajahnya berubah menjadi kesakitan.
Nita meringis saat melihat Silvia yang tiba-tiba menahan sakit di bagian perutnya. "Kamu gak apa-apa, kan?"
"Nathan pasti gak tau kan kalau lo ke sini?" Nita menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaan Silvia.
"Apa perlu aku panggil dokter, kamu tahan sebentar, ya?"
"Gak perlu! aku masih kuat, kamu jangan terlalu berakting baik seperti ini di hadapan ku!"
Rasa iba menyeruak di hatinya, apakah dia perlu bertanya pada Silvia apa keinginan nya untuk saat ini.
"Sebaiknya kamu keluar saja, aku tidak butuh kamu!"
"Lalu siapa yang kamu butuhkan?" tanya Nita seketika.
Lagi-lagi Silvia melirik Nita dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kalau aku bilang butuh Nathan kamu bagaimana?"
Nita terkesiap mendengar ucapan Silvia, wanita itu apakah dia tidak berpikir terlebih dahulu dengan ucapannya?
"Tidak bisa mengabulkan? kamu tahu kalau mungkin umurku tidak panjang lagi, aku harus melawan kanker ini seorang diri, dan sepertinya detik-detik terakhir ini aku ingin melewatkan hari-hari ku dengan kebahagiaan, dan kamu tahu siapa kebahagiaan ku?"
Nita masih diam menyimak tanpa menjawab pertanyaan Silvia.
"Kebahagiaan ku saat ini adalah Nathan, aku ingin Nathan bisa menemani hari-hari ku sebelum aku pergi menghadap Tuhan!" kali ini Nita menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
###
Nathan sudah kembali ke kantornya dan kemudian bertemu dengan klien yang memang sudah dijadwalkan oleh Azam siang ini setelah mengantar kan Nita periksa kandungan.
Azam sudah benar-benar mengiklaskan Nita bersama sang atasan, pria itu merasa jika Nita memang sangat pantas mendapatkan pria seperti Nathan yang sudah lama ia kenal.
Azam bahagia melihat Nita yang kini juga nampak lebih bahagia, dia bahkan tidak ada niat untuk merebut Nita dari Nathan karena menurutnya pria yang lebih berhak mendapatkan Nita adalah pria yang seperti Nathan.
Kedua pria itu sedang bertemu dengan klien dari perusahaan besar dari Brunei.
Membahas kerjasama mereka dengan acara makan siang di sebuah restoran ternama di Jakarta Utara. Nathan harus bisa mendapatkan kerja sama ini karena bernilai miliaran rupiah.
"Jadi bagaimana menurut Bapak Halim Al Rasyid? Apakah anda tertarik untuk kerja sama dengan perusahaan kami?" tanya Nathan harap-harap cemas.
Pria yang terlihat sudah cukup tua tersebut hanya manggut-manggut sambil membawa dan mengoreksi berkas-berkas yang ada di tangan saat ini.
Di saat Nathan sedang setia menunggu Kliennya untuk membaca berkas yang dia bawa untuk presentasi, tiba-tiba ponselnya berdering.
Tertera nama 'My Wife' di layar, Nathan sedikit nyengir karena tiba-tiba dia ingin sekali mengangkat telepon tersebut.
Tapi pertanyaan nya sekarang kenapa Nita meneleponnya? Apa ada hal penting? Tapikan ia sedang meeting dengan klien penting. Nathan benar-benar di landa dilema.
"Angkat lah Pak Nathan, siapa tahu ada yang penting," ucap Bapak Halim menatap Nathan.
"Tapi, Pak ... !"
"Tidak apa-apa, tadi saya melihat nama di layar ponsel anda, tidak sengaja dan membaca tulisan My Wife, itu berarti dari istri anda, bukan?" Nathan mengangguk.
"Kalau begitu saya angkat telepon dulu," ucap Nathan setelah mendapatkan persetujuan dari pria yang memiliki kilang minyak di negaranya tersebut.
Bersambung.
Mana nih bunga dan likenya, kasih vote juga mau...