
Kita tinggalin yang sedih-sedih dulu ya, di bab ini fokus ke cerita Rara dan Aris, kita intip ke-uwuan mereka dulu.
Happy Reading.
Aris mengantarkan Rara ke butik setelah pulang dari takziah dan melihat prosesi penguburan jenazah Silvia.
Dalam perjalanan menuju butik nampak keheningan yang melanda. Entah kenapa akhir-akhir ini mood Rara benar-benar berubah-ubah.
Tadi dia ikut Aris untuk melayat setelah mendapatkan kabar bahwa Silvia meninggal dunia. Merasa sedih juga karena belum sempat menjenguk sahabat dari calon suaminya itu.
Tapi setelah melihat dan menyaksikan proses pemakaman itu, tiba-tiba Rara menjadi pendiam dan wajahnya pun sedikit muram.
Apa karena tadi Aris sempat terlihat sangat sedih saat melihat pemakaman Silvia? Yang jelas Aris hanya diam saja dan selalu membacakan doa di dalam hati agar dosa-dosa Silvia di ampuni dan di lapangkan kuburnya.
Bukan karena apa-apa, tapi Silvia sudah sangat berjasa untuk hidup Aris. Bahkan tadi Ayah dan ibu Aris juga sempat melayat. Tentu saja mereka tidak akan melupakan jasa Silvia yang menyumbangkan tulang sumsum untuk putra mereka.
Rara hanya membuang muka keluar jendela, sebenarnya dia hanya diam saja karena merasa sedikit menyesal dengan kata-kata nya kemarin pada Nita terkait Silvia.
Ada sedikit rasa bersalah yang menyeruak di hatinya. Apakah kelakuannya kemarin itu dengan mengatainya mak lampir itu terlalu jahat??
Tentu sebenarnya dia bukan orang yang suka menjelekkan orang, hanya saja kehidupan dan masa lalu adiknya membuat Rara menjadi tidak begitu menyukai Silvia.
Aris juga diam dan hanya sesekali menoleh ke arah kekasihnya itu. Dia tidak ingin terlalu banyak bertanya tentang kenapa Rara diam saja sejak tadi.
Waktu masih menunjukkan pukul 8 pagi, dan langit juga tidak bersahabat sama sekali. Hujan deras tiba-tiba mengguyur kota Jakarta. Membuat aktivitas di luar rumah atau di jalanan banyak yang tidak terlihat.
Mereka sampai di butik dan langsung keluar setelah Aris mengambil payung di jok belakang.
Nampaknya butik Rara juga belum buka, biasanya salah satu pegawai yang menjadi kepercayaan nya datang lebih awal untuk membuka butik. Tapi sepertinya hari ini mungkin karena hujan deras membuat Nia salah satu pegawai Rara terlambat datang.
Rara memutuskan untuk segera masuk ke dalam ruangannya karena bajunya sedikit basah dan akan mengganti atasan baju dengan kemeja yang tersedia di lemari khusus baju miliknya.
"Eh, kenapa ngekor aku?" tegur Rara saat Aris akan ikut masuk ke ruang kerjanya.
"Aku mau ikut kamu masuk donk, masa gak boleh? Pasti bolehkan? Ini di luar dingin banget loh yank, kalau aku sakit karena kedinginan gimana?" ujar Aris membuat Rara memutar bola matanya malas.
Lebai. Batin Rara.
Kekasihnya ini sudah dalam mode on sepertinya, karena sejak tadi Aris banyak diam bahkan sampai di dalam mobil sekalipun.
"Baiklah, masuk, aku akan ganti baju dulu di dalam kamar mandi, kamu tunggu di ruangan ku," Rara mengambil baju atasan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Aris mendudukkan dirinya di sofa dan langsung menyandarkan punggungnya. Sungguh dia tidak ingin melihat Rara marah padanya, pria itu merindukan Rara yang cerewet bawel, Rara yang terkadang manja dan Rara penuh kasih sayang.
Akhir-akhir ini sikap Rara berubah-ubah, apa benar kalau Rara lagi hamil? Seperti dugaan Aris selama ini? Apakah dia harus membawa Rara ke dokter kandungan. Meneliti dari sikap Rara yang aneh bisa jadi dia memang sedang dalam fase ngidam, seperti ngidam sate kambing kemarin.
"Aku akan jadi seorang Ayah, hei boy, gilrs, Ayah di sini," gumam Aris sambil membayangkan bagaimana cara dia menggendong calon baby nya. Apakah cewek atau cowok.
Ceklek!!
Pintu kamar mandi terbuka, Rara terlihat keluar sudah memakai kemeja berwarna putih tulang dan juga celana kulot yang sejak dari rumah sudah ia pakai.
Aris benar-benar terpaku melihat Rara saat ini?
Cantik.
"Matanya kok jelalatan, ya?" sindir Rara karena Aris ketahuan tidak berkedip menatapnya.
Merentangkan tangannya kemudian memeluk Rara erat. Jujur Rara juga sangat nyaman berada dalam pelukan sang calon suami.
"Kenapa sekarang sikapmu jadi berubah-ubah, sayang?" tanya Aris.
"Gak berubah kok, mungkin perasaan mu saja," jawab Rara melepaskan pelukannya.
Tiba-tiba Aris mencium bibir Rara, memagut nya dan saling membalas. Lidah mereka bertemu saling bertautan. Rara juga sangat menyukai ciuman dari pria ini.
"Sayang, bagaimana kalau kamu periksa ke dokter kandungan?" Rara mengerut kan keningnya, tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Aris.
"Kenapa aku harus periksa ke dokter kandungan, aku kan tidak hamil," cicit Rara polos.
Aris tersenyum sambil menangkup wajah Rara dengan kedua tangannya.
"Di coba dulu, sayang, lihatlah perubahan yang ada pada dirimu, kamu seperti aneh gitu, moodnya juga gak labil, bawaannya seperti wanita yang sedang hamil" jawab Aris sok tahu.
Rara ingin tertawa mendengar ucapan calon suaminya itu, tapi tentu saja dia tahan karena tidak ingin Aris marah padanya karena ketahuan menertawakannya.
"Apa mungkin dengan perubahan fisik kita dan juga mood yang labil bisa di sebut atau di curigai sedang hamil?" tanya Rara benar-benar menahan tawa.
"Iya, setahuku seperti itu," Rara mengangguk-anggukan kepala berusaha mereda ingin tertawa sejak tadi.
"Tapi misalkan aku gak hamil gimana? Apa kamu akan kecewa?" tanya Rara berubah menjadi serius.
Aris tersenyum dan menggeleng. "Untuk apa aku marah, kan berarti belum saatnya kita di kasih momongan," Rara tidak tahan untuk tidak mencium bibir sang kekasih.
"Kita akan lebih berusaha untuk membuat dedek bayi tapi nanti kalau kita sudah sah menikah," ucap Rara.
Aris tersenyum dan memeluk pinggang Rara. "Padahal pernikahan kita tinggal hitungan minggu, tapi kenapa rasanya lamaaa sekali nunggu hari H-nya?"
"Itu karena kita sudah tidak sabar untuk menanti hari itu, hari dimana aku akan menjadi Nyonya Aris," Rara terkekeh.
Aris yang melihat calon istrinya itu dengan tatapan dengan binar penuh cinta.
Sekali lagi pria itu mencium bibir Rara yang merekah seperti buah Cherry itu.
Rara melenguh kala Aris menurunkan ciumannya ke leher jenjangnya
"Euhhgghh ...!"
Tangan Aris tidak tinggal diam, meraba dan menyentuh tubuh Rara apalagi di bagian sensitif nya.
Tangan kanan pria itu menangkup dada Rara dan yang satunya lagi mengelus punggung Rara yang semakin condong ke arahnya.
Tanpa mereka sadari tiba-tiba ada seseorang yang melihat pemandangan itu. Tentu saja orang itu begitu terkejut melihat dua orang yang sedang berciuman panas di dalam ruangan Rara itu.
Glodak!!
Rara langsung melepaskan diri dari Aris karena mendengar bunyi yang cukup keras di luar pintu ruangannya.
"Siapa?"
Bersambung