My Ex Wife

My Ex Wife
Memperjuangkan



Happy Reading.


Rara mendorong tubuh Aris yang mencoba untuk memeluknya. "Seberani itu ya sekarang lo sama gue!"


"Ra, gue udah bilang kalau lo bukan pelarian! Sejak dulu perasaan cinta gue ke elo gak bakal berubah kalau bukan elo yang mutusin gue dan nikah sama cowok lain! Bahkan saat kita bertemu lagi, dan lo udah jadi janda, rasa itu ternyata masih ada! Ya, gue akui kalau waktu itu gue mau kubur perasaan ini, perasaan cinta yang masih melekat harus segera gue kubur karena gue juga mau nikah, gue laki-laki apa coba kalau bukan di sebut laki-laki baik-baik, gue berusaha tetep setia sama Nana sampai pada akhirnya ternyata gue di khianati seperti itu! gue dibohongi, Ra!" ujar Aris menggebu. Rasanya dia juga tidak terima kalau Rara menyebut nya sebagai pelarian.


"Dan sekarang gue mau perjuangin cinta gue, karena emang sejatinya lo itu cinta gue, Ra! Ternyata Tuhan baik kan sama gue, disaat gue udah ikhlas, ternyata sebuah fakta kebenaran terungkap, dan yah, ini kesempatan gue buat ngejar lo lagi, gue gak akan lepasin lo, Ra! Gue tau kalau lo masih cinta sama gue, kan?" lanjut Aris dengan wajah serius membuat Rara memalingkan wajahnya.


"Tatap mata gue, Ra!"


"Bodoh!" Aris terkejut saat Rara mengatainya bodoh.


"Ya, gue emang bodoh, gak bisa move on dari lo!" Aris terkekeh dengan jawabannya sendiri.


"Lo tuh bodoh bin bego! Udah tau gue sakitin tapi masih belum move on! Emang keras kepala lo, ya!!" tunjuk Rara ke dada pria itu.


"Bodoh, bodoh! Kenapa lo masih cinta sama gue yang udah ninggalin elo!" Rara mendorong tubuh Aris dengan tangannya.


Bukannya marah, Aris malah tertawa melihat tingkah laku wanita di depannya itu.


"Yang jelas, lo tuh bukan pelarian, karena sejak dulu sampe sekarang nama lo masih ada, gue yang susah move on, kalau kita gak ketemu paling gue bisa minum racun dan mati bunuh diri, di bohongi kek gitu ma Nana, apalagi kalau udah nikah beneran, tapi karena gue ketemu sama elo, hidup gue jadi berarti lagi!"


###


Nita mengamati dua orang yang terlihat seperti berdebat. Bukan berdebat, lebih tepatnya si pria sedang membujuk si wanita yang tengah marah.


Ya, mereka adalah Aris dan Rara, sudah sejak setengah jam yang lalu mereka keluar butik karena Rara yang terlihat kesal dengan kedatangan Aris dan kemudian menarik pria itu keluar butik.


Nita menghela napas, sepertinya dia tidak perlu ikut campur urusan kedua orang tersebut. Dia akan membuat teh panas guna mengusir kebosanan.


Nita berjalan menuju pantry untuk menyeduh teh melati yang tersedia di sana. Setelah itu si janda perawan alias janda bersegel tersebut duduk di sebuah kursi sambil membuka ponselnya yang sejak tadi belum ia buka sama sekali. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Nathan dan juga beberapa pesan dari orang-orang penting.


Tidak lama dia membuka ponsel tiba-tiba layarnya berganti sebuah panggilan masuk.


Nathan memanggil ...


Nita mengerutkan keningnya, tetapi akhirnya dia menggeser layar tersebut.


"Halo?"


"Halo, Ta. Kamu di mana sekarang?"


"Aku lagi di butik Rara, emang mau ngomong apa?"


"Aku on the way sekarang, ya!"


Nathan langsung mematikan panggilannya. Nita melihat Rara dan Aris sudah masuk kedalam, sepertinya perdebatan itu di menangkan oleh Aris karena pria itu berhasil masuk kembali ke dalam butik.


"Kalian ini kenapa?" tanya Nita saat melihat Rara duduk dengan wajah cemberut plus bibir maju lima centi.


"Gak apa-apa kok, kakakmu yang cantik ini lagi ngambek, mau gue bikinin susu kambing dulu, biar semangat!" jawab Aris kemudian mengambil gelas untuk membuatkan susu Rara.


Nita mengedipkan mata saat bertatap dengan Rara. Seakan berbicara lewat tatapan dan hanya berakhir Rara menggelengkan kepalanya.


"Bang Aris, beneran pacarnya Rara?" tanya Nita yang tidak mendapatkan jawaban sama sekali.


Aris sudah selesai membuat susu dan langsung memberikan kepada Rara, susu kambing hangat spesial.


"Eh, siapa lo, pegang-pegang kepala calon istri gue!" seru Nathan langsung menarik tangan Aris.


"Woi, apa-apaan lo! Eh, Nathan!!"


"Aris!"


"Astaga, sakit bre! tangan gue elo pelintir kek gini!" Aris mengibaskan tangannya yang tadi memang sempat di pelintir oleh Nathan.


"Sorry bre, abisnya lo pegang-pegang celon bini gue, kan jadi emosi jiwa," Rara dan Nita hanya bisa saling berpandangan melihat kedua pria itu seakan memang sudah akrab.


"Eh, apa lo bilang? Nita calon bini elo? " Nathan mengangguk mantap.


Nita yang merasa sejak tadi di omongkan langsung berdiri. "Eh, siapa yang calon siapa? Gak ada calon-calonan! Yang ada dia tuh cuma mantan, Abang gak usah percaya sama dia!" Nita langsung mengambil posisi berjajar dengan Aris, merasa ada yang melindungi sekarang.


Bukankah tadi Aris bilang kalau dia juga lagi ngejar Nita, yang artinya dia punya calon kakak ipar sekarang.


Nathan yang melihat hal itu langsung menarik tangan Nita lembut dan membuat Nita beralih di samping Nathan sekarang.


"Jangan panggil dia abang, sayang! dia udah mau nikah, jangan deket-deket, ya!" ucap Nathan lembut.


Rara hanya diam saja sambil meminum susu kambing nyang di buatkan oleh Aris tadi.


"Gue gak jadi nikah sama Nana, bre! Dia udah khianati gue, bohongi gue dan main sama selingkuhannya di apartemen yang gue kasih ke dia, ngenes kan!" ucap Aris membuat Nathan membelalakkan matanya.


"Serius bre??" Aris mengangguk mantap.


"Gue turut berduka cita, ya!"


"Eh, gue belum mati! Untung gue ketemu sama soulmate gue, Rara! Jadi hidup gue kini benar-benar berarti!" Rara yang mendengar hal itu langsung tersedak karena susu kambingnya.


Aris langsung menghampiri Rara dan mengelus bahunya. "Aduh, Ra! Maaf-maaf!"


"Tadi katanya mau ngajakin aku?" tanya Nita. Nathan menoleh dan langsung mengangguk sambil tersenyum.


"Ayo, aku mau ngajak kamu ke suatu tempat!" Nathan menggandeng tangan Nita untuk pergi dari butik.


Sepertinya Nita memang sengaja pergi agar bisa membuat Aris dan Rara berduaan, menguraikan benang kusut yang memang sepertinya belum usai.


"Aku cinta kamu!" bisik Nathan membuat Nita menghempaskan tangannya.


"Udah dapat restu, emang?" cibir Nita.


"Udah donk, emang sejak awal Mama sukanya sama kamu, dari pada Silvia," lirih Nathan. Merasa tidak enak dengan mengucapkan nama mantannya itu.


"Bodoh! Jelas-jelas orang tua itu lebih tau dan peka feeling nya!" Nathan mengangguk paham.


"Tapi aku belum kasih jawaban, loh!"


"Gak apa-apa, Ta! Aku mau ngejar kamu, mau perjuangin kamu, aku ingin kamu bisa lihat kalau aku tulus cinta sama kamu!"


Bersambung.


Ada yang suka mereka cepet nikah?