
Happy reading.
Rara menelan ludahnya ketika bertemu dengan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu menatapnya dengan tatapan tajam. Bukan hanya itu saja, di sampingnya juga ada seorang pria yang bisa Rara simpulkan kalau itu adalah Ayahnya Aris dan wanita itu adalah ibunya.
'kenapa gue berasa di sebuah lapas dan sedang di interogasi oleh sipir?' batin Rara.
Melihat kedua orang tua Aris yang menatapnya seperti itu membuat Rara benar-benar gugup setengah mati.
'Ngapain juga gue harus gugup, kan gue gak tau apa-apa, lagian gue juga siapa-siapanya Aris!' lagi, Rara hanya bisa membatin.
Aris mengajak Rara duduk sambil tersenyum lebar. "Ma, Pa, Aris bawa calon mantu," ujar pria jangkung itu hingga membuat Rara langsung menoleh seketika.
Rara ingin protes, tapi dia tidak seberani itu ketika melihat tatapan tajam dari kedua orang tua pria tampan dan tinggi yang kini tengah nyengir di sampingnya.
'Awas aja loh yah, Ris! lo udah bawa-bawa gue ke dalam masalah ini!' batin Rara menjerit.
"Ris, apa kamu berusaha mengelabuhi kami, atau kamu sedang main-main lagi?" suara bariton keras itu membuat Rara terkejut.
"Tidak yah, Aris tidak sedang main-main, karena saat ini Aris benar-benar serius!" jawab pria jangkung itu dengan mantap.
Rara benar-benar tidak bisa bicara apa-apa, karena entah kenapa melihat tatapan Wanita paruh baya yang masih cantik itu menatapnya seakan meneliti.
'Mampus gue, habis ini tunggu aja pembalasan dari gue, Ris!! elo udah lancang bawa-bawa gue ke dalam masalah elo!'
"Siapa dia?" tanya Mama Aris masih menatap lekat ke arah Rara.
"Namanya Aura, dia cinta pertama Aris dan juga mantan kekasih saat masih kuliah," jawab pria itu jujur.
"Apa maksud kamu, nak? jangan bersikap seperti ini, dengan mudahnya kamu membawa wanita lain ke sini! kamu sudah tahu sendiri bagaimana kecewa dan malunya kami karena pernikahan mu gagal, belum juga surut berita itu, sekarang kamu malah membawa wanita yang kamu sebut sebagai calon mantu?!" geram Mama Aris dengan tatapan sendu.
Rara bisa melihat kalau sepertinya Wanita itu tengah di landa kesedihan dan kekecewaan yang mendalam.
"Aris tau udah bikin keluar besar Subagyo malu, membawa calon istri yang tidak baik dan membuat malu keluarga besar, tapi semua itu juga bukan sepenuhnya salah Aris, bukankah lebih bagus pernikahan ini batal dari pada tetap berjalan tapi ternyata ada orang jahat yang masuk keluarga kita?"
Ya, memang benar apa yang di katakan oleh Aris, kalau perkara Nana memang lebih baik diketahuinya sebelum pernikahan itu terjadi.
Rara masih bingung harus bagaimana, wanita cantik itu merutuki kebodohannya karena mau saja ikut Aris yang katanya akan mengajaknya ke sebuah tempat.
Tapi nyatanya tempat itu adalah tempat horor yang membuat Rara merinding yaitu rumah orang tuanya.
"Lalu kamu akan membuat keluarga kita lebih malu lagi dengan kamu tiba-tiba membawa wanita kain? hah?" Papanya benar-benar terlihat marah.
Entah kenapa melihat situasi ini ada sedikit kelegaan di hati Rara, pasalnya terlihat sekali kalau kedua orang tua Aris tidak menyukainya. itu artinya dia tidak di terima di keluarga ini, bukan?
"Ya kenapa Aris membuat malu Papa? Aris hanya ingin memberitahu pada Mama dan Papa kalau Aris sekarang mau nikah sama Rara dan ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan gagalnya pernikahan itu, bahkan Aris sangat berterima kasih kenapa Nana, karena dia akhirnya Aris bertemu dengan Aura," Aris menatap Rara yang terlihat sangat bersemangat saat ini.
'Percuma aja lo ngotot, lihatlah, orang tua lo tetep gak bakal nerima gue kok! gue bantu sekalian ya biar mereka semakin bimbang sama gue, Ris!!'
"Saya juga mau mengatakan kepada Bapak dan ibu, kalau sebenarnya saya ini janda, loh!" ucap Rara lantang, membuat Rima dan Edi langsung menatap Rara dengan melotot kan matanya.
Bersambung.
Maaf ya akak reader baru up lagi, kemarin naskahku yang ini tiba-tiba hilang,😠bikin mood langsung down, mau nulis lagi jadi agak nyesek. 🥺🥺🥺