My Ex Wife

My Ex Wife
Perdebatan



Happy Reading.


Aris dan Rara sudah berada di toko perhiasan untuk memesan cincin pernikahan mereka. Masih berdebat karena pilihan cincin mereka yang beda selera.


Rara menginginkan cincin couple polos untuk dirinya, terbuat dari emas putih murni tanpa ada ukiran ataupun bertabur berlian.


Sedangkan Aris ingin cincin couple berhias kan berlian di tengah untuk Rara, sedangkan miliknya ada sedikit garis yang berwarna emas di bagian tengah.


"Pokoknya aku tetep mau yang polos, titik!" Aris akhirnya mengalah dengan pilihan calon istrinya itu.


"Oke, terserah kamu aja, yang penting seneng," jawab Aris saat melihat tanduk dua tanduk di atas kepala Rara.


'Untung cinta!'


####


Nita melihat Nathan yang masih berdebat lewat telepon, padahal dia sudah sangat lapar tapi suaminya ini benar-benar belum mengakhiri teleponnya.


Nathan benar-benar kesal dengan Ayu yang tidak bisa di ajak bicara.


"Sayang ... Sayang, kamu mau kemana!" seru Nathan melihat istrinya pergi.


"Sayang, jangan marah gitu, donk!" Nathan mengejar Nita yang pergi meninggalkannya di samping mobil SUV miliknya itu.


Setelah mendengar nama Silvia yang di sebutkan oleh Nathan pada waktu berbicara lewat telepon tadi, membuat Nita sedikit kesal.


Entah kenapa dia benar-benar malas jika harus berurusan dengan masa lalu, hatinya menjadi sedikit sensitif apalagi setiap kali bertemu dengan Rara yang ada pasti selalu menggoda nya. Menikah lagi dengan sang mantan, padahal Rara sendiri juga memilih mantan sebagai calon suami.


'Duh, pasti dia marah!' batin Nathan.


"Aku gak marah, tapi aku laper, kamu malah asik-asikan telepon sama mantan kamu!!" Nita mencak-mencak berkacak pinggang, dia tidak tahu kenapa akhir-akhir Nita tidak bisa mengendalikan emosinya.


Nathan menghela napas kemudian menarik tangan istrinya lembut.


"Kamu jangan salah paham dulu, donk yank! Tadi tuh yang telepon Ayu, katanya Silvia Kolaps, tapi aku udah nolak dia mentah-mentah untuk datang ke rumah sakit, please percaya sama aku, ya?" ujar Nathan selembut mungkin agar tidak salah berucap di hadapan istrinya. Nita menghembuskan nafas kasar, menekan rasa cemburu di hatinya.


Seharusnya dia memang tidak perlu sampai bersikap kekanakan seperti ini, bagaimana pun juga dulu Silvia pernah menjadi pasien nya, dia juga seorang dokter yang tidak boleh menempatkan urusan pribadi dengan pekerjaannya karena mereka juga bekerja di bawah sumpah setia. Meskipun pasien yang dia tangani adalah selingkuhan suaminya sendiri, tapi di bawah sumpah itu seorang dokter harus rela memberikan pertolongan pertama kepada seseorang yang mungkin akan menghancurkan biduk rumah tangga kita.


Nita seharusnya empati terhadap Silvia yang sedang mengalami kolaps. Nita paham akan semua itu.


Tapi bukankah sekarang Silvia sudah di pindahkan ke rumah sakit lain, dan sudah bukan pasien Nita. Tapi tetap saja mengingat bagaimana Silvia yang sudah mendapatkan semuanya dari Nathan dan juga Aris kemarin rasanya sudah cukup untuk tidak mengurusi kehidupan orang lain.


"Kalau kamu mau, kamu boleh jenguk dia, Nathan. Bukankah pernah kamu bilang kalau Silvia sudah tidak mempunyai orang tua dan keluarga nya jauh di Sulawesi, berarti dia tidak memiliki siapa-siapa, aku tahu seharusnya aku tidak bersikap cemburu seperti ini, biar bagaimanapun Silvia pernah menjadi bagian dari masa lalumu, pergilah, beri dia semangat, hanya sebagai teman, tidak lebih!" ujar Nita berusaha tersenyum.


Nathan menggeleng. "Tidak, sayang! Aku sudah tidak ada urusan apa-apa lagi sama dia," di saat Nita akan menjawab, tiba-tiba dia mendapatkan telepon dari pihak wedding organizer yang akan mengurus perihal resepsi pernikahan mereka.


"Sepertinya kita harus bertemu dengan Almira sambil makan siang, dia menghubungi ku," ujar Nathan memperlihatkan sebuah nama di layar ponselnya.


Akhirnya Nita mengiyakan ajakan sang suami, sebenarnya dia sendiri juga masih bingung bagaimana menghadapi kondisi Silvia yang semakin parah itu.


'Mudah-mudahan masih ada keajaiban untuk kamu sembuh, Silvia' batin Nita.


Bersambung.