My Ex Wife

My Ex Wife
Perih



Happy Reading.


Nita bersama Nathan mendatangi seorang WO yang sudah menunggu mereka di restoran milik sahabat Nathan.


"Siang Almira," sapa Nathan pada wanita yang sudah cukup dewasa itu.


"Siang Bapak Nathan dan Ibu Nita, silahkan duduk," jawab Almira sopan.


Memang Almira sudah datang lebih dulu beberapa menit lalu karena kebetulan dia sedang berada tidak jauh dari restoran baru tersebut.


"Eh, jangan panggil Bu, donk! Berasa tua banget, panggil Nita aja, mbak," ujar Nita pada Almira.


"Kalau begitu saya panggil Mbak Nita saja, ya?"


"Oke deh, asalkan jangan Bu," jawab Nita tertawa kecil.


"Ayo sayang, duduk dulu," Nathan menarik sebuah kursi untuk istrinya duduk, kemudian dia menarik kursi sampingnya dan mendudukkan diri di sana.


"Sebelumnya aku pesan makanan dulu," ujar Nathan melihat seseorang yang tidak lain adalah sahabatnya, pemilik restoran ini.


"Andre, bre! Gue beneran dateng, nih, mau nagih janji lo!" seru Nathan memanggil sahabatnya yang baru saja keluar dari dapur karena kehadiran Nathan di restoran nya.


"Wah, sebuah kebanggaan tersendiri bagi gue karena kehadiran CEO Nathan dan istrinya ke restoran ini, bangga banget gue, bre!" pria seumuran Nathan itu terkekeh, berjalan ke meja Nathan dan Nita yang berada di bagian tengah ruangan.


"Gue mau pesen menu andalan di restoran lo, bre. Buat istri sama tamu gue," ucap Nathan setelah mereka berpelukan ala pria.


Andre juga menyalami Nita dan Almira. Pria berambut ikal tersebut tersenyum manis kepada dua wanita itu.


"Oke, gue punya menu andalan spesial launching perdana hari ini, tuna fillet sambat goreng petai dan bandeng presto saus mentega," ujar Andre.


Sahabat Nathan ini memang kuliah di jurusan Master chef karena sudah hobi memasak sejak remaja, teman SMA Nathan itu tidak satu kampus karena Andre kuliah di Melbourne Australia. Dia kembali ke Indonesia setahun belakangan ini dan kembali bertemu Nathan.


"Wow, sepertinya enak, berarti harus ada nasi, kan menunya lauk ikan semua?" seru Nita yang perutnya sudah meronta.


"Betul sekali, cantik!" jawab Andre mengeringkan matanya ke arah Nita. Sedangkan Nathan mendengus tidak suka, dari dulu tingkah playboy Andre memang tidak berubah.


"Istri gue, bre! Awas mata lo, jangan jelalatan!" Andre tergelak melihat sahabatnya yang sedang cemburu.


"Oke-oke, gue ke dapur buat bikinin makanan spesial untuk para tamu spesial," ujar Andre yang kemudian berlalu dari hadapan Nathan, Nita dan Almira.


Selagi menunggu pesanan makanan mereka, Nathan dan Nita membicarakan masalah persiapan resepsi pernikahan mereka dengan Almira.


"Sepertinya konsep outdoor lebih bagus, resepsi kita yang kemarin sudah indoor di hotel, jadi kali ini aku mau outdoor di pantai atau di taman gitu, gimana yank?" tanya Nathan menatap Nita antusias.


Nita bisa melihat kalau suaminya lebih antusias dengan pernikahannya kali ini di banding dengan pernikahan mereka lima tahun lalu.


Ya, tentu saja berbeda, Lima tahun lalu mereka di paksa menikah, dan belum saling mencintai, bahkan saat itu Nathan masih memiliki kekasih. Tapi kalau sekarang seakan semua keadaan berbanding terbalik, pantas saja Nathan sangat menginginkan resepsi pernikahan kali ini karena baginya ini adalah pengalaman pertama berurusan secara langsung dengan persiapan resepsi pernikahan itu.


"Kalau aku nurut kamu saja, sayang, apa pun yang kamu mau aku pasti juga akan menyukainya," jawab Nita tersenyum.


"Baiklah, jadi keputusannya nanti akan memakai tema outdoor dengan konsep santai dan tidak formal tapi tetap dengan kesan meriah dan elegan," ucap Almira yang langsung di angguki Nathan dan Nita.


"Rara dan Aris setuju gak kalau konsepnya outdoor seperti ini?" tanya Nathan pada sang istri.


"Kalau Rara pasti nurut sama kita, pasti Aris juga setuju, kamu tenang aja, ya?" Nita mengangguk.


Setelah beberapa saat, Andre kembali ke meja mereka bersama dua pegawainya yang memakai seragam sama sambil membawa pesanan mereka.


"Keliatan nya enak banget ini," ucap Nita berbinar.


"Iya mbak, liat bentuknya aja udah bikin memeleh nih liur," Almira ikutan memuji.


"Sama-sama, mudah-mudahan rasanya enak dan kalian suka," jawab Andre salah tingkah karena di puji oleh dua wanita cantik sekaligus.


"Yank, kok kamu manggil Andre dengan sebutan 'Mas' sih? Sama aku aja manggilnya gak pake sebutan itu," Nathan mode cemburu.


"Yaelah, suamiku kenapa jadi posesif gini, ya?"


"Saya juga manggil Mas Andre dengan sebutan 'Mas' loh, Pak Nathan," kali ini Almira yang bicara, ikut menengahi agar tidak semakin panas.


"Hahaha, udah-udah, Nathan ternyata kalau cemburu benar-benar bikin gue ilfeel, ya!" Andre tergelak.


"Apaan, loh! Awas aja lo, kalau godain istri gue lagi, gue jadiin lo perkedel cincang!" ancam Nathan.


Andre semakin tergelak, dia suka sekali menggoda Nathan yang sepertinya sekarang sudah bucin abis dengan sang istri.


"Bertahun-tahun kenal Nathan, baru kali ini gue lihat dia seposesif ini sama wanita, hahaha, ternyata Nathan yang dingin dan cuek bisa juga bucin!" Andre masih terus meledek Nathan yang kali ini sudah diam saja dan hanya memainkan tangan Nita di atas pahanya.


"Makan dulu, yuk? Aku udah laper banget!" ucap Nita segera mengambil tuna fillet dan nasi setelah dia meladeni sang suami.


Andre juga pamit ke belakang karena pasti tidak akan mengganggu mereka makan, bisa-bisa moodnya Nathan turun dan dia tidak mau makan di restoran nya lagi kalau terus ia goda.


####


Acara makan siang Nathan dan Nita akhirnya selesai, Almira juga langsung pamit untuk kembali ke tempatnya bekerja. Mereka menghabiskan waktu satu jam lebih untuk makan siang dan membahas mengenai konsep resepsi pernikahan mereka nanti.


Akhirnya memang di putuskan untuk memakai konsep outdoor, Rara dan Aris juga langsung setuju dengan ide Nathan dan Nita.


"Sebaiknya aku harus segera kembali ke rumah sakit, tadi aku meminta Dokter Dian mengganti kan ku sementara," ujar Nita saat mereka berada di luar restoran.


"Oke sayang, aku antar," Nathan menggandeng tangan Nita melangkah menuju ke arah mobil mereka.


"Nathan! kamu Nathan Gabriel, kan?" tiba-tiba dari Arah depan ada seorang wanita yang memanggil.


"Riska, kamu ada di sini?" jawab Nathan membuat Nita memandang sang suami.


'Mungkin sahabat Nathan,' batin Nita.


"Dia siapa?" tunjuk wanita bernama Riska ke arah Nita.


Nita yang merasa di tunjuk pu langsung tersenyum ramah.


"Perkenalkan, ini Nita, istriku," ujar Nathan merangkul bahu Nita.


"Oh, jadi ini wanita yang merebutmu dari sisi Silvia? aku tidak menyangka ada ya seorang wanita bermartabat tapi merebut Kekasih orang lain, padahal orang itu sedang sakit? padahal dia sendiri seorang dokter? ck, seharusnya anda tau diri, donk! sudah merebut kekasih orang sekarang melarang Nathan untuk menemui Silvia?! di mana hati nurani anda sebagai seorang dokter!!" seru wanita tersebut sambil menunjuk Nita.


Deg!


Bagaikan di tusuk sebilah pedang yang langsung mengenai ulu hatinya, Nita merasa perih.


Bersambung.