
Happy Reading.
Daniel duduk dengan lesu di sisi ranjang, setelah mendengar ucapan dari kakeknya, dia benar-benar merasa tidak bisa tenang.
Apa yang sebenarnya kakek inginkan dengan acara seperti itu, syarat yang akan menjadi direktur utama rumah sakit harus menikah dulu. Apakah kakek mencoba membuat hubungan nya dengan Nita semakin renggang. Ataukah sebenarnya kakek sudah tahu kalau Daniel menyukai Nita dan berusaha membuat peraturan seperti itu?
Tapi misalkan dia mengajak nikah Nita bagaimana? meskipun mereka sepupu tapi mereka tidak ada hubungan darah sama sekali. Dia mencintai Nita tulus dari hati, tapi sepertinya Nita memang hanya menganggapnya sebagai saudara.
'Apa Nita akan mau kalau aku ajak nikah? Aggrrk! Pasti dia gak bakal mau, gimana kalau Nita malah mau balikan sama mantan suaminya yang masih mengejarnya itu?' batin Daniel.
Pria itu mengacak rambutnya frustrasi, dia masih belum bisa menyingkirkan perasaannya pada Nita, bahkan dia tetap tidak bisa mengambil hati wanita itu meskipun sudah menjadi janda sekalipun.
'Apa aku harus mundur dari perasaan ku ini?' tapi aku sangat mencintai nya!'
Terdengar ketukan pintu kamar Daniel yang sedikit nyaring. Pintu pun terbuka dan menampilkan sosok wanita paruh baya sedang berjalan masuk ke dalam.
"Mama dengar rencana Kakek untuk para cucu-cucunya, dia ingin melihat cucunya menikah terlebih dahulu sebelum jabatan tertinggi di rumah sakit diberikan, jadi bagaimana Dan? Apa kamu tidak ingin menjadi direktur utama?" tanya sang Mama.
Daniel menggeleng pelan, dia benar-benar bingung harus bagaimana, tapi pastinya dia tidak mau menikah kalau bukan dengan Nita.
"Nak, kamu harus secepatnya menikah, Mama dan Papa hanya bisa bergantung padamu," ucap Lilik, Mama angkat Daniel.
"Tapi Daniel masih belum ingin nikah, ma!" seru pria berkulit putih itu.
Lilik mendekati putra angkat nya, mengelus lengannya perlahan.
"Apa kamu tidak ingin jabatan direktur utama itu? Kakek akan segera pensiun dan jabatan direktur utama akan langsung di berikan kepada cucu-cucunya, dan di antara ketiga cucunya itu belum ada yang langgeng pernikahannya, kecuali kamu yang memang masih lajang, jadi kapan kamu akan menikah? Lihatlah, kamu tampan dan juga punya segalanya, pasti banyak wanita di luar sana yang menginginkan mu?"
Daniel melepaskan tangan Mamanya, dia benar-benar tidak suka kalau di paksa untuk cepat-cepat menikah, kalau memang keinginan Kakek seperti itu, lebih baik ia tidak pernah menjadi direktur utama sekalian dari pada harus menikah dengan wanita yang tidak di cintainya.
"Aku gak mau, Ma!"
"Daniel! Apa maksudmu?"
"Maksud Daniel udah jelas, Ma!" Daniel berjalan pergi ke arah kamar mandi untuk menghindari Mamanya.
"Kamu harus nikah, Daniel! Apa kamu tidak dengar!!" seru Lilik.
"Mama akan carikan calon istri yang baik buat kamu!" Daniel yang masih di ambang pintu mendengar itu langsung menoleh.
"Ma.. tolong jangan ikut campur dengan urusan privasi ku! Aku akan menikah dengan wanita yang kucinta, jadi Mama tidak perlu mencarikan ku calon istri, karena aku pasti akan membawa calon istri ku ke rumah ini!"
"Tapi kapan!!" Daniel tidak menjawab karena langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Lilik mendengus dan keluar dari dalam kamar putra angkat nya, dia harus bisa membuat Daniel menikah secepatnya, karena keinginannya adalah bisa mendapatkan harta warisan dan menguasai penuh memegang kendali kekayaan Ayahnya.
###
Nita tidak bisa memejamkan matanya, sejak makan malam tadi dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Rara dan Nita memang menginap di rumah kakek karena terlalu malam untuk mereka pulang.
Rara sejak tadi mendesaknya untuk segera menikah dengan Nathan, karena memang hanya Nita yang pantas menjadi direktur utama rumah sakit itu.
Nita bekerja di rumah sakit itu dan juga seorang dokter di sana makan sama pantas jika nikah yang menjadi direktur rumah sakit.
'Aku tidak bisa mengajak Nathan buat nikah, lagian aku belum bisa memastikan apakah Nathan benar-benar serius dengan ku!' batin Nita.
Tapi dia juga tidak bisa memungkiri bahwa perasaan cinta itu masih ada sampai sekarang, bahkan perasaan itu semakin besar ketika Nathan benar-benar menerobos dinding pertahanan yang selama ini ia bangun.
Drrtttt!
Ponsel Nita yang berada di tangannya bergetar. Tertera nama Nathan di sana, seharian ini pria itu memang tidak menelepon atau mengirimkan chat karena sibuk.
Ada sedikit rasa bahagia di sudut hati Nita kala melihat Nathan meneleponnya, padahal saat ini sudah hampir jam 11 malam.
"Halo?"
"Halo, sayang, apa kamu belum tidur?"
"Ehm, belum, aku baru saja memejamkan mata."
"Apa berarti aku mengganggumu?"
"Tidak-tidak, maksudku, aku memang baru akan tidur, jadi aku sama sekali tidak terganggu," jawab Nita menghela napas sepenuh dada.
Entah kenapa dia menjadi gugup.
"Baiklah, aku hanya merindukanmu, ehmm,, sebenarnya aku ingin bicara panjang lebar, tapi malam ini bukan waktu yang tepat, ehmm apakah kamu besok masuk shift pagi?"
Nita menggeleng meskipun Nathan tidak melihat.
"Aku masuk shift siang, memangnya mau ngomong apa?"
Terdengar helaan napas di sebrang.
"Aku akan ada perjalanan ke eropa dalam waktu dua bulan ini," jawab Nathan.
"Memangnya kenapa harus selama itu?" tanya Nita mengerutkan keningnya.
Dua bulan dalam perjalanan bisnis itu memang sangat lama. Sebenarnya apa yang akan di lakukan oleh Nathan?
"Di sana bukan hanya 1 negara yang ku kunjungi tapi ada enam Negara, jadi tidak akan selesai kalau hanya satu bulan, mungkin bisa dua bulan lebih." Nita hanya diam dan menelaah ucapan Nathan.
Dua bulan dia akan di tinggal pergi ke
Eropa oleh pria yang akhir-akhir membuatnya merasa nyaman. Lalu bagaimana dengan nasibnya yang baru beberapa minggu ini sudah mulai menerima Nathan kembali.
Apalagi keinginan dari kakeknya yang menginginkan cucu-cucunya untuk segera menikah. Entah apa yang di inginkan kakek Abimanyu, mungkin memang alasan ingin segera memiliki cicit sangat tepat mengingat saat ini usia ketiga cucunya sudah sangat matang untuk menikah.
"Ehm, aku.. eh sebenarnya ada yang aku ingin bicarakan, tapi mungkin sebaiknya besok saja, kita ketemu langsung," ucap Nita.
"Baiklah, sayang. Lagian ini juga sudah larut malam, kalau gitu cepat tidur, mimpiin aku, ya? Miss u!"
Nita mengakhiri panggilan itu dan segera merebahkan kepalanya ke atas bantal.
Apakah dia akan mengatakan keinginan kakek pada Nathan?
Bersambung.