
Happy Reading.
Rara mendesah pelan ketika melihat raut wajah Aris saat ini. Pria yang semalam meminta dirinya pada sang kakek terlihat begitu muram. Bukan karena sang kakek yang tidak menerima lamaran Aris, tapi karena kedatangan seseorang yang mengaku sebagai adik dari Almarhum suami Rara.
"Aku udah gak ada hubungan apa-apa lagi dengan keluarga Almarhum suamiku, tidak ada yang bisa mengikat kami karena memang tidak ada anak yang ku lahirkan di pernikahan sebelumnya, makanya setelah suamiku meninggal, aku dan keluarga nya pun hidup sendiri-sendiri, kalau masalah Andra yang tiba-tiba datang kemari, kamu jangan terlalu masukin dalam hati, aku dan Andra udah gak ketemu beberapa tahun, dia gak berhak untuk mengatur siapa yang akan menjadi suami ku dan juga tidak berhak mengatur keinginan ku," ujar Rara memegang tangan Aris.
Masalahnya di sini mantan adik ipar Rara itu tiba-tiba mendatanginya di rumah membawa kakak laki-lakinya yang juga mantan kakak ipar Almarhum suami Rara. Meminang Rara dengan tiba-tiba karena wasiat dari Almarhum Tomy yang meminta sang adik harus menikahi Rara jika sudah bekerja dan mapan.
What the hell! Apa-apaan ini?
Pikir Rara semua ini sangat tidak masuk akal. Andra saja baru berusia dua puluh tiga tahun dan baru mulai membuka bisnisnya di bidang kuliner. Rasanya sangat jauh bila di bandingkan dengan Aris.
"Aku ingin kita segera menikah, kalau bisa kita turuti usulan kakek yang menginginkan pernikahan kita bareng sama resepsi pernikahan Nathan dan Nita," ucap Aris.
Pria itu merebahkan kepalanya dipangkuan Rara. Mendusel-dusel perut ramping Rara untuk mencari kenyamanan di sana.
"Bukankah itu terlalu cepat, tinggal sebulan lagi, loh! Bagaimana dengan persiapan keluarga kamu?" tanya Rara menunduk menatap Aris yang juga tengah menatapnya.
"Keluarga ku sudah siap, mereka masih bisa memakai jasa wedding organizer yang dulu aku sewa, lagian kita juga bisa langsung nikah dulu, kan? Masalah resepsi dan semuanya kita serahkan pada para orang tua dan juga kakek Abimanyu," Aris bangun dan duduk tegak menghadap Rara.
Keluarga nya memang sudah menyetujui pernikahan mereka, tinggal keputusan mereka untuk kapan segera meresmikan hubungan ke jenjang pernikahan.
"Tapi apakah kamu sudah benar-benar siap untuk menikah dengan ku?" tanya Rara tanpa menatap Aris. Matanya lurus menatap ke arah depan dengan pandangan kosong.
Aris tertawa mendengar ucapan Rara. Kenapa malah Rara menanyakan hal itu padanya, bukankah selama ini Aris yang mengejar-ngejar Rara dan menginginkan sang mantan menjadi istrinya.
"Kenapa kamu menanyakan hal yang kamu sendiri sudah tahu jawabannya?" ujar Aris setelah berhenti tertawa.
Pria itu menarik Rara ke dalam pelukannya, setelah tadi moodnya benar-benar buruk karena kedatangan seorang pria muda yang ingin mempersunting Rara, tapi lihatlah sekarang, Aris sudah terlihat lebih bahagia karena ucapan kekasih nya itu.
Membuat Aris semakin percaya diri untuk membawa Rara ke pelaminan.
"Aku sangat, sangat dan sangat siap untuk menjadikanmu pendamping hidup ku, kamu adalah milikku sampai kapanpun, dan aku juga milikmu, hanya milikmu, calon ibu anak-anakku!" Aris mencium bibir Rara dan di sambut oleh wanita itu dengan antusias.
Perasaan Rara menjadi semakin bertambah besar pada pria yang sedang menc*mbunya tersebut. Sepertinya dia semakin yakin bahwa Aris adalah pelabuhan terakhirnya.
####
"Jadi kalian mau menggabungkan akad nikah dengan resepsi pernikahan kami?" tanya Nita pada dua pasangan yang sedang di mabuk asmara itu.
"Apa kalian keberatan? Bukankah kakek juga sudah mengatakan bahwa sebaiknya acara resepsi kita adakan bersama?" Rara menjawab.
Nita menatap sang suami yang berada di sampingnya. Apakah itu rencana bagus, sedangkan Nita sendiri masih merasa belum bisa mempersiapkan diri untuk acara resepsi pernikahan keduanya dengan Nathan.
"Sepertinya kamu tidak perlu terlalu berpikir, sayang. Menurut ku memang sebaiknya kita adakan resepsi pernikahan kedua kita, karena aku ingin semuanya tahu bahwa aku bukan pria single lagi," ujar Nathan memberikan istrinya semangat.
"Bukankah sejak dulu semua orang tahu kalau kamu tidak single, ya?" cibir Nita membuat Nathan menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Lima tahun setelah berpisah dari Nita, diakan langsung kembali sama Silvia, dan ...!"
"Gak usah bahas-bahas wanita itu!" Nathan menyela ucapan Rara, yang menurutnya bisa menyulut emosi sang istri.
"Rekor donk kalau gitu! gak pernah single dari tahun ke tahun!" ucap Nita memainkan ponselnya membalas pesan dari seseorang.
Bersambung.