My Ex Wife

My Ex Wife
Insecure



Happy Reading.


Aris benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi membujuk Rara supaya mau periksa ke dokter, alih-alih merasa curiga karena perubahan bentuk tubuhnya, Rara malah lebih curiga kalau Aris mengira dirinya di sangka terkena penyakit, bahkan Rara sudah sangat menyangkal kalau dirinya hamil karena menurutnya tidak mungkin.


Ya, tentu saja tidak mungkin, dia masih ingat dulu saat masih bersama almarhum suaminya, selama dua tahun sebelum sang suami meninggal tidak terhitung sudah berapa ratus kali mereka bercocok tanam agar bisa cepat mendapatkan momongan.


Tapi nyatanya sampai musibah meninggal nya sang suami Rara belum juga hamil. Padahal saat mereka memeriksakan diri tidak ada hal-hal yang perlu di khawatirkan. Mereka dinyatakan sehat-sehat saja.


Lalu kali ini dia hanya melakukan sekali bersama Aris dan langsung dicurigai bahwa ia tengah hamil, tentu saja tidak semudah itu bukan? mengingat dulu dia begitu sulit untuk mendapatkan kehamilan.


Itulah persepsi Rara, dia tidak percaya dengan dugaan Aris itu, menurutnya dia tidak mual-mual juga. Karena menurut Rara biasanya orang hamil itu pasti mengalami mual dan muntah-muntah.


"Harus aku bilang berapa kali, sayang, gak perlu mual dulu untuk membuktikan kalau kamu hamil, terkadang bisa di lihat dari telat datang bulan atau ya mungkin perubahan fisik kami," ucap Aris frustasi.


"Kok kamu jadi rewel, sih? lagian kalau aku hamil kenapa, kalau gak, kenapa?" tanya Rara.


Aris benar-benar sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, akhirnya dia memilih duduk di atas sofa sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Ya udah terserah kamu aja, yank! lagi pula sebentar lagi kita juga akan nikah, misal kamu hamil ya Alhamdulillah, kalau gak ya, kita berusaha lagi," ucap Aris.


Rara duduk di samping sang calon suami dan menyentuh bahunya. "Apa kamu senang kalau aku hamil?" Aris menatap Rara dan langsung mengangguk.


"Tentu saja, sayang, aku malah berharap kalau kamu beneran hamil," jawab Aris berbinar.


"Tapi bagaimana kalau aku gak bisa hamil?? bagaimana kalau aku akan mengecewakanmu? aku adalah janda yang tidak memiliki keturunan!!" seru Rara frustasi.


Aris memaklumi Rara yang tidak memiliki kepercayaan diri saat ini perihal kesuburan kandungan nya. Sudah bertahun-tahun dia tidak memeriksakannya lagi. Padahal dia dulu di pastikan kandungannya baik-baik saja tapi tetap tidak ada perubahan sampai Tomy meninggal.


"Kamu gak perlu khawatir berlebihan, aku pastikan bahwa bibit ku ini unggul, jadi bisa langsung tumbuh tuh kecambah nya di perut kamu, kamu jangan terlalu merasa insecure, pasti semuanya bisa di lalui," ucap Aris memeluk Rara.


Mencium kening wanita itu lama kemudian memeluknya lagi.


"Tapi aku takut ... Aku takut gak bisa ...!"


"Ssttt!! Udah, gak usah ngomong seperti itu lagi, kalau kita berusahalah pasti bisa, apa kamu mau coba bercocok tanam lagi biar benih-benih aku ini segera tumbuh di ladang milikmu?" ucap Aris menggoda Rara.


Wajah menyebalkan Aris tidak lama karena tiba-tiba sebuah dering ponsel mengagetkan mereka.


Aris langsung segera mengangkat panggilannya saat tahu bahwa Papanya menelpon.


"Iya, Pa! ini lagi di butik Rara, tadi aku mau langsung ke kantor tapi hujannya deres banget."


"Sekarang udah gak begitu deras, jadi kamu bisa langsung ke kantor, Papa udah tunggu sejak tadi kan gak enak."


"Iya, ini langsung otewe, bye Pa."


Terlihat Aris sedang menghela napas, setelah itu mengembalikan ponselnya ke saku celana, Rara bisa melih ekspresi tak terbaca dari raut wajah kekasihnya itu.


Rara hanya bisa mengangguk pasrah, padahal dia sangat ingin di temani oleh Aris saat ini.


Akhirnya Aris melangkah keluar butik dan berjalan menuju mobilnya. Setelah mobil Aris tidak kelihatan, Rara masuk kembali ke dalam butik.


"Kak!"


Tiba-tiba seorang pria muda datang ke butik dengan membawa paper bag yang entah apa isinya. Penampilan nya sedikit formal karena pria itu menggunakan setelan jas berwarna abu-abu. Sudah seperti opa-opa yang ada di chanel langganan Netflix itu.


Rara mengernyit melihat penampilan pria muda yang ada di hadapannya saat ini. Lalu tiba-tiba mendengus sebal setelah sadar kalau ternyata yang datang mencarinya itu adalah mantan adik iparnya yang tidak lain adalah Andra.


"Halo kak, apa kabar? Aku bawain makanan kesukaan kakak, nih!" Andra menyodok paper bag yang dia bawa.


"Ngapain sih lo ke sini lagi?" ketus Rara.


Mengabaikan paper bag yang masih menggantung di tangannya.


"Ck, yaelah kak, aku ke sini tuh mau ketemu kakak, sambil pe de ka te, ternyata bener kata Bang Tomy, kalau kak Rara itu jutek dan galak, tapi ya gimana donk, aku udah terlanjur suka," ucap Andra dengan begitu enteng tanpa beban.


Rara benar-benar tak habis pikir dengan pria muda di depannya ini, bisa-bisanya dengan sangat percaya diri mengatakan sedang PDKT dengan nya, padahal Rara sudah memiliki calon suami?


"Kak, sekarang aku udah kerja, udah ada banyak uang, udah tambah kaya, jabatan ku juga lumayan, kata Bang Tomy, aku harus kerja keras buat bikin Kak Rara bangga dan senang," ucap Andra membuat Rara mual.


Yup, tiba-tiba perutnya memang benar-benar terasa mual, entah karena mendengar ucapan Andra yang menurutnya terlalu lebay atau memang dia benar-benar merasa sangat mual.


"Sebaiknya lo balik ke rumah, deh! Ngapain ke sini? Gak ada kerjaan aja, emang lo mau pesen gaun?" Andra bukannya marah malah tersenyum lebar membuat Rara tiba-tiba merasa merinding.


"Ndra! Sebenarnya apa tujuan lo mulai mendekati gue lagi? Lo gak ada niatan mau merebut warisan gue karena tau kalau sebenarnya gue kaya, kan?" Andra membelalakkan matanya dengan ekspresi terkejut, entah terkejut karena ketahuan niat busuknya oleh Rara.


Atau kah dia terkejut karena di tuduh seperti itu, Rara benar-benar tidak tahu.


"Kak, kok kamu nuduh aku seperti itu? Aku gak ada niatan apa pun sama kak Rara, justru aku kesini karena aku memang benar-benar tulus dan juga karena amanat dari Almarhum Bang Tomy yang ingin aku menjaga kak Rara, aku sama sekali gak ada niatan menguasai harta warisan kakak!" Andra tampak meninggikan suaranya.


Frustasi karena di tuduh oleh Rara padahal ia sama sekali tidak ada niatan seperti itu.


Rara berjalan membuka pintu ruangan nya, seakan menyuruh Andra segera keluar dari ruangan itu. Rara tidak mau pria muda tengil itu mencampuri urusannya.


Andra menatap Rara dengan tatapan kecewa, wajahnya menunduk, terlihat dia sedang berusaha meluapkan emosinya saat ini.


Setelah beberapa saat pria muda itu mengangkat kembali wajahnya dan menatap Rara sambil tersenyum.


Rara sedikit terkejut melihat pria itu masih bisa tersenyum padanya padahal tadi Rara sudah mengusir nya secara terang-terangan.


Bersambung.