
Happy Reading.
Nita merasa resah tiba-tiba, sebenarnya siapa yang sedang merencanakan sesuatu untuknya ini.
Nita meremas tangannya sedari tadi, antara resah dan gelisah. Saat ini dia sudah berada di dalam mobil yang tadi menjemputnya di rumah sakit. Di sampingnya sudah duduk Ani, gadis yang mendandaninya dan juga memilih kan kebaya untuk Nita pakai saat ini
"Apa aku boleh tanya?" Ani menoleh ke arah Nita dan tersenyum.
"Iya nona, mau tanya apa?"
"Tapi harus di jawab, ya?" Ani mengangguk.
Nita menghirup napas dalam-dalam sebelum bertanya, dia hanya merasa takut dengan siapa ia akan bertemu. Tidak ada pesan dari siapapun.
Apakah ia akan di culik? ataukah tiba-tiba ada orang yang ingin menjualnya ke bos-bos Mafia? Nita segera menggeleng kan kepalanya. Wanita itu langsung menoleh ke arah gadis berhijab di sampingnya.
"Sebenarnya siapa yang menyuruhmu?" tanya Nita serius.
Ani terlihat mengambil sesuatu dari dalam tas kecilnya. Sepertinya dia sudah menduga kalau pasti akan di tanya seperti ini oleh Nita. Kemudian Ani menyerahkan sebuah benda kecil kepada Nita yang tadi di ambilnya dari dalam tas.
"Nona, ambilah,, ini mungkin bisa menjadi petunjuk, karena benda ini hanya orang yang menyuruh saya yang memilikinya," ucap Ani tersenyum.
Nita menerima benda itu, matanya melotot sempurna ketika melihat benda yang diberikan kepada Ani untuknya. Tiba-tiba dia teringat pada masa lalu, di mana saat itu hatinya terasa sangat sakit tapi dia hanya bisa tersenyum untuk menutupi kesedihannya.
Flashback.
Nita berjalan dengan kaki yang gemetar, seluruh tubuhnya terasa amat sakit meskipun fisiknya terlihat baik-baik saja, tapi tidak ada orang yang tahu kalau sebenarnya dia menyimpan luka dalam di dasar hatinya.
Ingin sekali dia tidak merasa terluka, tapi kenyataannya ia tetap tidak bisa menyembuhkan lukanya sendiri. Andai saja dia tidak jatuh ke dalam jurang yang namanya cinta, tentu saja rasa sakitnya tidak akan sesakit ini.
Nita sadar kalau semua itu adalah salahnya, padahal semuanya sudah di jelaskan sejak awal, tapi Nita melanggar perjanjian itu dengan jatuh cinta kepada suaminya sendiri.
Ya, Nita tahu betul kalau perasaannya tidak bisa di bohongi, semakin dia mengelak, semakin dia mengusir rasa cinta itu, tapi semakin dalam juga cinta nya untuk sang suami.
Salahkah jika ia harus mencintai suaminya sendiri??
"Ta, ada apa?" tanya Nathan yang tiba-tiba Nita duduk di sisinya, Nathan sedang bersiap-siap untuk tidur, karena besok adalah sidang putusan cerai mereka. Jujur hal itu membuat dirinya merasa sedikit tegang.
Tapi berbeda dengan Nita, Nathan melihat kalau sepertinya Nita nampak biasa saja, bahkan senyumnya tidak memudar sepanjang hari. Apakah Nita tidak merasa tegang karena memang semuanya sudah di atur sedemikian rupa?
"Kenapa belum tidur?" tanya Nathan lagi.
Nita masih tidak menjawab, melainkan mengulurkan tangannya pada tangan Nathan, dia meletakan suatu benda di atas telapak tangan suaminya.
Tapi Nathan tahu kalau ekspresi itu hanyalah pura-pura, apakah Nita memang benar-benar sudah siap?
Nathan mengamati benda kecil itu, sebuah liontin berbentuk angsa, berwarna silver atau emas putih, Nathan tidak tahu. Dia juga tidak menanyakan tentang liontin itu, apa maksudnya dan kenapa, tapi Nathan lebih memilih memeluk sang istri dengan perasaan berkecamuk di hatinya.
"Maafkan aku, Ta! mungkin ini yang terbaik, kamu akan bahagia bila hidup tanpa aku, seorang pria pecundang yang tidak bisa menjadi suami yang baik!" ujar Nathan.
Nita mengeratkan pelukannya, dia tidak berkata apa-apa, selain menahan sesak yang memenuhi rongga dadanya, Nita berusaha mati-matian untuk tidak menangis saat itu.
Dia tidak ingin memperlihatkan kelemahannya di hadapan Nathan, ia hanya ingin Nathan tidak menarik keputusannya karena merasa kasian kepadanya, Nita ingin semuanya cepat berakhir karena dia sudah tidak sanggup lagi menjalani rumah tangga yang seperti ini.
Ya, Nathan memang benar, semakin lama mereka bersama, akan semakin membuat hati Nita hancur. Jadi keputusan cerai itu membuat Nita merasa sedikit bebas dan pastinya akan berusaha untuk selalu tersenyum pedih.
💔
Nita menatap seseorang yang berdiri di hadapannya dengan senyuman lebar, auranya nampak begitu bahagia. Setelah ia di bantu turun dari dalam mobil oleh Ani dan mendapati sebuah rumah yang sama sekali tidak asing, Nita sudah bisa menebak siapa yang membawanya ke tempat itu.
"Ayo sayang, kita sudah di tunggu," Nathan menggenggam tangan Nita lembut.
Menuntut wanita yang sebentar lagi akan ia nikahi kembali dengan kata rujuk. Nita hanya diam, meskipun di dalam dadanya kini sudah meronta ingin bertanya lebih tapi melihat gelagat Nathan, Nita tahu apa yang akan di lakukan oleh pria itu.
"Kenapa lama sekali?" ucap Rara yang ternyata sudah berdiri menyambut nya dengan senyuman yang tidak kalah lebar.
"Kok kamu? Ra ... jangan bilang ini..!"
"Sstt!! udah ayo masuk!" Nita pasrah saja saat tangannya masih di genggam oleh Nathan dan masuk ke dalam ruang tamu.
Mata Nita melotot sempurna ketika melihat siapa saja yang ada di dalam ruangan itu. Ada kakek Abimanyu, kedua orang tua Nathan, Aris dan juga kedua orang yang tidak Nita kenal.
"Mereka adalah petugas kantor urusan agama yang akan mencatat pernikahan kita kembali dan juga sebagai saksi," bisik Nathan yang tahu Nita pasti penasaran dengan kedua orang itu.
Nita benar-benar tidak bisa berkata apa-apa, semuanya seperti mimpi yang tiba-tiba datang dengan cepat, bahkan Nita tidak bisa mendengar kan dengan jelas ikrar rujuk ataupun ucapan ijab qobul kembali yang di serukan oleh Nathan.
Yang jelas saat ini kepalanya terasa sangat pusing, ruangan itu terasa berputar-putar, Nita berusaha menyeimbangkan tubuhnya, tapi dia tetap tidak sanggup dan tiba-tiba semuanya menggelap.
Bersambung.
Mimpi apa nyata ya???
💖💖💖💖💖