My Ex Wife

My Ex Wife
Ayo Nikah!



Happy Reading.


Nathan mendatangi Nita ke rumahnya sebelum jam makan siang karena dia ingin mengajak Nita pergi keluar. Tadi malam Nita memang mengatakan ingin bertemu dengan Nathan karena ada suatu hal yang harus di bicarakan.


Pria itu keluar dari dalam mobilnya sambil membawa sebuket bunga mawar merah segar di tangannya. Dengan langkah lebar pria itu berjalan ke arah pintu dan mengetuk nya.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam," seru Nita dari dalam.


Tidak lama kemudian Nita membukakan pintu dan melihat Nathan menyerahkan bunga mawar merah itu.


"Aku tidak suka mawar," sungut Nita.


"Eh, masa? Maaf, aku kira kamu juga suka sama mawar merah."


"Juga?" Nita mengangkat sebelah alisnya.


Kata-kata Nathan sangat ambigu, apakah pria itu sedang menyamakan dirinya dengan sang mantan kekasih.


"Maksudku biasanya kan setiap perempuan pasti suka sama mawar merah, ya.. aku kira kamu juga suka, kaya Mama, makanya aku bawa ini, tapi karena kamu tidak suka, aku akan membuangnya dan membelikan mu yang putih," jawab Nathan.


Nita menghela napas, kenapa perkara bunga mawar merah jadi membuat percakapan mereka menjadi seperti ini.


"Tidak usah di buang, aku simpan saja di vas bunga itu, Rara keknya suka sama mawar merah," ujar Nita mengambil bunga itu dari tangan Nathan dan menaruhnya di dalam Vas yang sudah berisi bunga anyelir.


"Sayang, maaf, nanti aku belikan mawar putih," bujuk Nathan merasa tidak enak. Pria itu tidak mau membuat Nita marah dengannya.


Nita tersenyum. "Tidak apa-apa, Nathan, sebaiknya kita cepat pergi, bukankah kamu sebentar lagi harus ke kantor?" tanya Nita langsung berjalan ke arah mobil Nathan dan di ikuti oleh pria itu.


"Iya, tapi karena hari ini tidak ada jadwal rapat atau meeting sama klien jadi aku tidak akan kembali ke kantor," jawab Nathan sambil membukakan pintu mobil untuk Nita.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan, sayang," tanya Nathan setelah ia memesan makanan.


Nita menautkan jemarinya yang ada di atas meja sambil menatap Nathan dengan tatapan yang serius. Dia akan menceritakan tentang keinginan kakeknya dan masalah pernikahan yang tiba-tiba di inginkan sang kakek untuk syarat menjadi direktur utama rumah sakit milik Abimanyu.


"Kakek ingin aku dan Rara segera menikah, sebenarnya bukan hanya Rara, tapi juga Daniel. Kakek bilang akan memberikan jabatan direktur utama rumah sakit kepada cucu-cucunya yang lebih dulu menikah, dan ehmmm ... sebenarnya aku tidak terlalu ingin menjadi dirut, tapi karena dulu Papa dan Mamaku pernah berpesan bahwa jangan sampai rumah sakit jatuh ke tangan Tante Lilik dan Om Seno, karena yang lebih berhak mendapatkan nya memang aku dan Rara, jadi..?" Nita menggantungkan kalimatnya.


"Ayo kita nikah, sayang! Kita rujuk, selain karena ini adalah keinginan terbesar ku, aku juga ingin mengabulkan keinginan kedua orang tuamu, aku merasa sangat bersalah pada Ayah dan Ibu kalau sampai tidak bisa mengabulkan permintaan nya, padahal lima tahun lalu aku sudah sangat mengecewakan mereka, kali ini aku tidak akan membuat keduanya kecewa, jadi ayo kita nikah!" Nathan menggenggam tangan Nita dan mengecup punggung tangannya.


Nita terlihat gusar, jujur dia memang benar-benar bingung harus bagaimana saat ini.


"Ehmm,, aku akan tanya sama Rara."


"Gak perlu, dia pasti akan mendukung kita, kamu mau nikah kapan?" tanya Nathan serius.


Sungguh dia memang sangat ingin bisa menjadikan wanita di depannya ini menjadi miliknya lagi, Nathan tidak akan pernah melepaskan Nita kembali seperti dulu.


"Setelah kamu balik dari Eropa aja," jawab Nita.


"Aku gak perlu lamar kamu lagi, kan? Kita cuma rujuk, jadi gimana kalau malam ini kita nikah, aku akan mempersiapkan semuanya," ucap Nathan membuat Nita membulatkan matanya.


"Jangan bercanda, Nathan!"


"Sayang, aku serius, sekarang kita makan dulu, nanti aku akan menghubungi orang ku untuk mengurus pernikahan kedua kita," ujar Nathan tersenyum bahagia.


"Jangan bilang kalau ada konspirasi di sini!"


Bersambung.