
Happy Reading.
Nita membasuh tubuhnya dengan air hangat, dia harus segera menjernihkan pikirannya dari semua hal yang sejak tadi mengusik hatinya.
Mungkin otaknya juga sudah banyak terkontaminasi dengan bakteri sehingga wanita itu selalu berpikir buruk tentang suaminya dan juga mantannya.
'Aku tidak boleh seperti ini!'
Apakah karena efek tadi siang dia menjenguk Silvia di rumah sakit?
Ah, Nita tidak ingin banyak pikiran, ingatkan dirinya bahwa sekarang dia sedang hamil muda dan tidak boleh banyak pikiran apalagi pikiran yang buruk-buruk.
Nathan melihat istrinya yang sudah keluar dari dalam mandi menggunakan piyama kimono. Nita duduk di depan meja rias dan mulai melakukan rutinitas nya yaitu memakai cream malam atau serangkaian produk menjelang tidur.
"Apa kamu sedang kepikiran sesuatu, sayang?" tanya Nathan yang duduk di pinggir ranjang.
Nita menghentikan gerakannya, dia kepikiran tentang Silvia dan juga Nathan, tentu saja dia belum bisa mengatakan perihal Silvia yang semakin parah.
"Tidak ada," Nita menyudahi acaranya dan langsung menuju ranjang di mana Nathan sudah menunggu nya.
Seperti biasa Nathan dan Nita duduk bersandar di kepala ranjang sebelum memulai aktivitas mereka seperti tidur ataupun bercinta. Mereka melakukan pillow talk dan bercerita tentang kejadian hari ini yang mereka alami.
Nita bersandar di dada Nathan dengan lengan pria itu yang merangkul bahu istrinya. Sedangkan tangan Nathan yang satunya mengelus perut Nita yang berbalut baju tidur berbahan satin tipis.
Nita ingat dengan keinginan nya mengajak suami nya menjenguk Silvia bersama-sama, mungkin kalau bersama dengan Silvia, Nathan bersedia untuk datang.
Lagian Nita juga tidak akan pernah mengizinkan suaminya merawat dan menjaga sang mantan.
Bagaimana pun Nathan sudah menjadi seorang suami, dan tidak sepatutnya suami itu menjaga dan merawat wanita lain.
"Ehmm, Nathan!" yang di sebutkan namanya menoleh
"Ada apa, yank?"
"Ehmmm ...." Nathan tersenyum menatap istrinya.
"Bisa gak sih manggil nya itu di bikin mesra dikit," Nita menatap sang suami.
"Apa?"
"Panggil aku sayang," jawab Nathan dengan wajah yang di angkat. Nita tertawa melihat tingkah laku suaminya yang benar-benar narsis itu.
"Iya sayang," jawab Nita sambil mencium pipi Nathan.
Seakan tersiram air surga, hati Nathan benar-benar menghangat ketika mendapatkan perlakuan manis dari sang istri.
Nita adalah kebahagiaannya, Nita adalah kehidupannya, Nita adalah segalanya bagi Nathan dan bisa membuat Nita menerima nya kembali dengan penuh cinta benar-benar membuat Nathan bahagia luar biasa.
Wanita itu pusat dunianya, apalagi setelah Nita benar-benar pergi dan menghilang dari hidupnya membuat rasa penyesalan semakin dalam saat itu.
Nathan sudah bersusah payah mencari keberadaan sang mantan istri kala itu, tapi tidak pernah dia temukan.
Dan sekarang, wanitanya itu sudah berada di sampingnya, dia tidak akan pernah melepaskan nya lagi. Nathan hanya akan menatapnya tanpa menghiraukan yang lain.
"Sayang, yank!" Nita menggoyangkan lengannya, menyadarkan Nathan dari lamunannya.
"Eh, iya sayang, ada apa?"
"Tadi kamu belum jawab pertanyaan ku, loh!" ucap Nita.
Mengingat tadi suaminya itu belum memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan sebelum membersihkan diri.
"Pertanyaan yang mana?" Nathan mengerutkan keningnya menatap sang istri. Dia benar-benar lupa dengan pertanyaan yang di maksud oleh Nita mengenai apa.
"Ih, masa kamu lupa, sih? Berarti kamu gak nyimak omonganku, donk!" Nita melepaskan tangannya yang melingkar di perut Nathan sambil mengerucutkan bibirnya.
"Duh, gemesnya,, jadi pengen cium terus," Nathan menarik hidung Nita sampai hidung itu memerah.
"Aku nge-gemesin, ya?" Nathan langsung mengangguk.
"Aku tuh gak bisa jauh-jauh dari kamu, yank! Kalau kamu bisa kerja di perusahaan ku, jadi asisten plus-plus pasti aku seneng banget," ucap Nathan.
"Apaan tuh, asisten plus-plus, dapat darimana kata-kata itu? atau jangan-jangan seperti itu memang hal biasa, ya?" Nita memicingkan matanya.
Nathan tertawa mendengar ucapan sang istri. "Ya kamu kan istri aku, kalau jadi asisten di kantor berarti jadi istri sekaligus asisten, kan apa namanya kalau bukan plus-plus, kamu gak usah berpikir aneh-aneh, yank!"
"Ya biasanya, kan kalau seorang atasan seperti CEO atau direktur itu punya sekretaris, nih! Dengar-dengar mereka pasti terlibat affair atau main belakang, ya, jadi wajar kalau aku berpikiran yang aneh-aneh," jawab Nita.
"Tapikan asisten sekaligus sekretaris ku cowok, yank! Mantan kamu tuh, si Azam," Nita mendengus ketika Nathan mengingat kan rentang siapa Azam.
Nita kesal karena suaminya itu seakan berusaha mengalihkan perhatian atas pertanyaan nya tadi mengenai Silvia.
Sepertinya Nathan memang sengaja.
'Sayangku, suamiku, aku mau tanya sama kamu, ehmm.. sebagai wanita yang dulu pernah menemani mu dan juga pernah kamu cintai, apa kamu tidak ingin menjenguknya?' hanya terucap dalam hati.
Entah kenapa lidah Nita rasanya kelu saat ini, dia tidak bisa mengatakan apa yang ada di dalam hatinya. Ada seperti rasa tidak rela yang menusuk saat nama Silvia ia ucapkan. Apakah mungkin saatnya Nita menyerah untuk membujuk Nathan walau semuanya belum di mulai.
"Sebaiknya kita tidur, ini udah larut banget, besok Sabtu juga jangan lupa kabari Rara sama Aris, kita buat undangan resepsi pernikahan kita dan kita undang banyak orang," ucap Nathan.
Nita mengangguk, wanita itu juga sudah terlihat menguap beberapa kali, Nathan mengajak istrinya untuk merebahkan diri, Nita menurut dan segera mencari tempat ternyaman yaitu lengan suaminya.
Nathan mematikan lampu utama menggunakan remote control, kemudian menarik Nita semakin mendekat ke arahnya.
"Good Night, sayang," Nathan mengecup bibir Nita.
"Good Night," jawab Nita sambil memejamkan matanya.
###
Ponsel Nathan sejak tadi berdering dan sangat menggangu tidur Nathan dan juga Nita.
"Siapa yang telepon di jam segini?" gerutu Nathan mencari ponselnya dengan meraba nakas.
Nita juga ikut membuka matanya dan sedikit bergeser agar Nathan bisa menemukan ponselnya.
"Dari siapa?" Nathan terkejut saat mendapati Nita ternyata juga ikut bangun.
"Belum tahu, yank! Ini juga masih jam 4 subuh," jawab Nathan.
Pria itu membuka layar ponselnya, matanya sedikit menyipit karena pancaran sinar dari ponsel tersebut.
"Ayu yang telepon," ucap Nathan lirih.
'Tuh kan, feeling ku benar-benar tepat sasaran, pasti ada sesuatu sama Silvia,' batin Nita yang sejak tadi merasa perasaannya tidak enak.
"Mungkin penting, kalau telepon lagi coba di angkat, deh," ujar Nita memejamkan matanya.
Nathan menghela napas panjang, tidak lama setelah itu ada notifikasi pesan muncul, dari orang yang sama yaitu Ayu.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un!" seru Nathan tiba-tiba.
Nita langsung membuka matanya kembali dan ingin tahu pesan apa yang di baca oleh Nathan.
"Ada apa? Apakah ada kabar sesuatu yang buruk?" tanya Nita penasaran.
Bersambung.