
Happy Reading.
"Aaggrrhh ... Nita!!!" suara erangan keluar dari mulut ke Nathan.
Peluh membasahi seluruh tubuhnya dan juga Nita yang saat ini sedang mengatur nafasnya.
Nathan menarik diri dan bangkit dari atas tubuh sang istri, terlihat bercak merah tepat di bawah Nita saat ini. Melihat hal itu, Nathan tersenyum.
Dia sudah tahu dan bisa merasakan bahwa saat tadi menerobos dinding pertahanan milik Nita, benar-benar terasa kokoh dan sulit. Tapi dengan keperkasaannya, tentu saja Nathan dengan mudahnya menjebol dinding tersebut.
Nathan mengelus pipi Nita, mencium keningnya beberapa detik, kemudian tumbang di sebelah nya.
"Terima kasih, sayang," ucap Nathan memeluk tubuh sang istri.
"Aku capek, tapi harus segera bangun," Nathan mencegah Nita yang akan duduk.
"Istirahat dulu gak apa-apa, Bik Sum udah siapin semuanya, jadi kita tinggal rebahan," ujar Nathan.
Nita menurut, dia juga masih merasa lelah dan sekujur tubuhnya masih agak sakit akibat Nathan yang bermain dengan kasar di akhir, padahal awalnya dia bermain dengan sangat lembut.
Seluruh tubuh Nita penuh dengan tanda cinta yang di buat oleh Nathan. Waktu Lima tahun lalu dia benar-benar menyia-nyiakan tubuh indah sang istri dan di anggurkan selama satu tahun.
Sungguh dirinya dulu begitu bodoh. Tapi dia sudah menebus semuanya setelah bertemu dengan Nita kembali, membawa cinta nya kembali ke dalam genggamannya, tentu saja Nathan merasa sangat beruntung dan bahagia.
"Aku sangat mencintaimu, Nita! Aku bahagia sekali bisa memiliki mu lagi, aku baru sadar setelah kepergian mu, jiwaku terasa hilang, dan setelah kembali, aku akan berusaha menggenggam kembali dan tidak akan pernah ku lepaskan lagi," ucap Nathan memainkan ujung rambut Nita.
Nita hanya bergumam sambil memejamkan matanya, dia merasa begitu lelah, sepertinya dia akan tidur lagi untuk membuat tubuhnya bugar kembali.
Nathan benar-benar merasakan sebuah kenikmatan yang luar biasa semasa hidupnya. Pengalaman pertamanya dengan istri kedua tapi dengan orang yang sama, hanya bersama dengan wanita yang sangat dicintainya. Nathan rela menahan hasrat terpendamnya selama ini.
Sebagai seorang lelaki yang memiliki kharisma dan pesona luar biasa, rupawan tampan dan kaya raya, tentu saja sejak muda pria itu banyak digandrungi oleh wanita cantik di sekitarnya.
Bahkan ketika kekasihnya seorang model internasional dengan body goals-nya yang luar biasa tidak bisa membuat Nathan terjerat begitu saja, Nathan berusaha mati-matian untuk tidak menyalurkan hasratnya karena biar bagaimanapun dia tahu kode etika untuk menghargai seorang perempuan.
Entah bagaimana kalau Nathan sudah sering bercinta dan bergonta-ganti pasangan semasa mudanya dulu, bisa dipastikan dia tidak akan pernah bisa merasakan kenikmatan yang luar biasa seperti baru saja yang ia rasakan.
Nathan sangat bersyukur mendapatkan seorang istri yang setia menjaga kesuciannya sampai di usianya yang menginjak 26 tahun.
Nita menjaga dirinya meskipun pernah tinggal di Amerika selama 5 tahun lamanya, tetapi ternyata Nathan lah pria pertama yang berhasil mengambil keperawanan nya.
Pria itu mendekap tubuh istrinya erat, ikut memejamkan matanya dan berselancar di dunia mimpi bersama dengan Nita.
###
Aris tersenyum manis menatap Rara yang tengah sibuk menggambar desain bajunya. Seakan merasa tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran Aris, Rara tetap fokus dan konsentrasi terhadap coretan nya di sebuah buku khusus.
"Cantik!" celetuk Aris berusaha membuyarkan konsentrasi wanita di hadapannya ini.
"Kapan si cantik ini mau nikah sama aku, ya?"
Hening! Rara masih diam tanpa menoleh. Membuat pria itu mengacak-acak rambutnya.
Aris masih terus berusaha mencari perhatian.
"Biarpun kamu janda, tapi gak apa-apa, karena janda semakin di depan, seperti slogannya merek motor terkenal dari Jepang," ucap Aris terkekeh.
Rara tidak terpengaruh sama sekali dengan celotehan pria berusia 29 tahun tersebut.
Sampai pada akhirnya Aris merebut pensil Rara karena merasa sangat gemas terlalu di cuekin.
"Balikin gak!" tatap Rara datar.
"Gak, sebelum lo ngerespon gue!"
Rara menghela nafas, kemudian ia menarik laci dan mengambil pensil yang ada di dalamnya.
Masih dengan tenangnya Rara meneruskan kembali acara menggambar nya.
Aris benar-benar mendesah frustasi kali ini. Sepertinya dia akan menyerah dan pulang saja kalau terus di abaikan oleh Rara. Oke, Aris tahu kalau Rara sedang bekerja, tapi seenggaknya Rara bisa sedikit merespon nya agar tidak seperti mahkluk tak kasat mata di ruangan yang cukup besar itu.
"Oke, Ra! Gue minta maaf kalau ganggu, ya gue cuma berharap lo tau kalau gue kangen sama elo," Rara mendongak dan menatap Aris dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Gue lagi kerja, lagian apa lo gak sibuk kerja juga?" Aris menggeleng.
"Gue kangen sama elo, semalam waktu liat Nathan mengucapkan ijab qobul, rasanya gue juga pengen ngikat lo ke dalam janji suci pernikahan," ujar Aris dengan wajah sendu.
"Lo beneran serius mau nikah sama gue?" Aris mengangguk cepat.
"Tapi gimana sama bokap nyokap lo?"
"Mereka semua terserah sama gue, kalau gue cinta elo dan hanya lo yang bisa bikin gue bahagia, mereka pasti ngrestuin," jawab Aris semangat.
"Kalau gitu lo jangan lagi ganggu gue!" ucap Rara kembali mencoret-coret kertas putihnya.
Aris melongo mendengar ucapan Rara, apakah tidak ada lagi kesempatan buatnya agar bisa menjadi pendamping Rara? Apakah Rara masih belum bisa move on dari suaminya yang telah meninggal?
"Jadi maksud lo, gue gak boleh dateng ke sini lagi karena gue ganggu lo terus?" Rara mengangguk.
Bahu Aris langsung merosot, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi demi mendapatkan hati Rara.
"Kalau lo ganggu gue terus, gimana kelarnya baju pengantin kita yang gue rancang sendiri? Katanya pengen nikah cepet?" cibir Rara.
Aris melotot sambil membulat kan mulutnya membentuk huruf O. "Baju pengantin kita?"
Rara mengangguk sambil tersenyum.
"Maksudnya? Baju buat siapa? Emang siapa yang mau nikah?" sepertinya otak Aris masih belum berfungsi dengan benar.
Rara melengos kesal terhadap pria yang kurang peka itu. "Yang nikah tukang bubur ayam deket perempatan!! Udah sana, pulang aja sono!"
Bersambung.