
Happy Reading.
Tidak ada kata bahagia yang dirasakan oleh dua pasang suami istri yang baru saja sebulan menikah tanpa perayaan tersebut. Masih dengan rasa ketidakpercayaan yang menyelimuti hati mereka ketika melihat dua garis merah di alat tes kehamilan itu.
"Ternyata bibit ku unggul juga, ya?" ucap Nathan tersenyum. Membelai rambut Nita yang saat ini bersandar di dadanya. Nita mengeratkan pelukannya di tubuh sang suami, merasakan kebahagiaan yang begitu besar.
"Gimana gak unggul dan langsung jadi secepat ini, kan minumnya vitamin dan jamu kuat terus, tiap hari bercocok tanam tanpa ada kata libur," sungut Nita membuat suaminya tergelak.
Nathan memang sangat rajin menjaga kesehatan dengan meminum suplemen atau vitamin. tapi setelah menikah dia menambahkan vitamin penambah stamina agar lebih greng lagi dan kuat berlama-lama menggagahi istrinya.
"Kalau sejak dulu kita udah melakukan apa yang selayaknya kita lakukan sebagai suami istri, aku yakin kita pasti udah memiliki dua anak yang lucu-lucu, ganteng kaya aku dan cantik kaya kamu." ucap Nathan.
Nita mendongak berusaha menatap wajah suaminya yang terlihat dari arah bawah, rahang tegas yang ditumbuhi jambang tipis, bibir merah tipis dan sedikit tebal di bagian bawah, serta hidung mancung ala-ala bule turki tidak besar dan tidak terlalu kecil. Memang kenarsisan suaminya ini adalah fakta, karena dia memang begitu tampan.
"Kalau dulu aku gak yakin bisa secepat ini mendapatkan buah hati," jawab Nita membuat Nathan mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
Nita menegakkan badannya, menggeser sedikit tubuhnya agar bisa menatap sang suami dengan jelas. Saat ini mereka sedang berada di kamar, tepatnya di atas kasur king size mereka.
"Ya, karena mungkin kalau dulu kita melakukan kewajiban suami istri dan melakukan hal itu, yang pasti antara aku dan kamu pakai pengaman, atau aku akan memakai alat kontrasepsi seperti minum pil atau suntik KB. secara umurku waktu itu masih dua puluh tahun, terlalu muda untuk usia itu memiliki seorang anak," jawab Nita serius.
Nathan menganggukkan kepalanya. Dulu dia juga masih sangat muda, usianya baru dua puluh tiga tahun, dan mungkin saja apa yang di katakan istrinya ada benarnya. "Tapi kalau sekarang kan, usia kita udah cukup matang untuk memiliki anak, jadi ada sesuatu yang seakan meledak-ledak di dalam hati dan ingin di keluarkan begitu saja, calon baby kita pasti juga sangat senang karena kehadirannya sangat kita nanti," lanjut Nita sambil mengusap perutnya yang masih ramping.
Nathan mencubit hidung lancip istrinya, dia begitu gemas melihat tingkah laku Nita yang menurutnya benar-benar membuatnya ingin selalu mencolek, mencium ataupun memeluk istrinya itu.
"Besok kita ke rumah sakit, ya? kita periksa ke dokter obgyn," ujar Nathan seakan melupakan bahwa Nita memang setiap hari pergi ke rumah sakit kecuali tanggal merah atau pas dapat hari libur.
"Iya, aku juga udah bikin janji sama dokter Albian buat periksa, besok jam 9," jawab Nita.
Lagi-lagi Nathan mengerutkan keningnya.
"Kenapa Dokter Albian? apa gak ada dokter kandungan yang bukan laki-laki?" Nita menggeleng.
"Dirumah sakit Medikal Center sayangnya gak ada dokter kandungan perempuan," jawab Nita kemudian merebahkan kepalanya lagi ke dada sang suami.
Terdengar helaan napas dari Nathan, sebenarnya dia tidak suka kalau Nita di periksa oleh dokter laki-laki, meskipun Nathan tahu kalau dokter kandungan pasti tidak akan berbuat mesum kepada pasien nya, tapi tetap saja tidak suka.
"Besok akhir pekan Aris sama Rara ngajakin kita buat ketemu sama mbak Novi, katanya mereka mau nentuin desain undangan mana yang akan di pilih," ucap Nita memainkan kancing piyama suaminya.
"Loh, yang mau bikin undangan pernikahan kan mereka, kenapa kita di libatkan?"
"Kan kita juga harus bikin undangan by untuk di resepsi pernikahan kita, kan?" Nathan menepuk jidatnya.
"Iya sayang, kenapa aku bisa lupa perihal undangan," jawab Nathan tertawa kecil.
"Masa kita udah bikin acara meriah tapi gak ada yang datang, karena kita gak ngundang siapa-siapa," Nita ikutan tertawa.
"Makasih sayang, udah jadi istri dan ibu dari calon anak-anakku, aku cinta banget sama kamu," ujar Nathan menyentuh pipi Nita dan mengelusnya.
Nita tersenyum dan mencium bibir Nathan kembali, sungguh dia bahagia dan merasa sangat bersyukur bisa bersatu dengan pria yang sejak dulu sudah ia cintai.
"Aku juga cintaaa banget sama kamu, bahkan sebelum kamu memiliki rasa ini, aku udah cinta kamu duluan," jawab Nita setelah melepas tautannya.
"Andai dulu aku tidak pernah mengatakan perasaan ku yang sejujurnya padamu, mungkin kita tidak akan berakhir seperti ini," lanjutnya.
Nathan menggeleng pelan. "Takdir kita untuk bersama, meskipun kamu tidak pernah menyatakan perasaanmu duluan, tapi aku yakin kita pasti bersama, entah dengan cara seperti apa, tapi takdir kita memang untuk bersama, sampai maut memisahkan kita," jawab Nathan.
Nita tersenyum lebar, dia suka kata-kata sang suami, memang tidak akan ada yang bisa mengalahkan takdir, walaupun kita berusaha mengubahnya, kalau Tuhan tetap tidak akan mengabulkan permohonan kita, takdir itu tidak akan berubah, kecuali dengan campur tangan Tuhan dan usaha kita.
"Papi mau nengokin dedek, boleh?" bisik Nathan di telinga sang istri, kemudian memberikan kecupan-kecupan kecil di telinga Nita membuat sensasi geli di sana.
"Kok Papi? Aku maunya dedek manggil Ayah dan Bunda," ucap Nita menahan kepala suaminya yang kini sudah berpindah di area dadanya.
"Iya deh, terserah kamu saja, mana aja bisa, tapi sekarang aku mau ... Emumm!" Nathan melenguh ketika Nita sudah menghisap lehernya.
Dengan gerakan cepat Nita sudah berpindah ke atas tubuh Nathan dan langsung menghujami ciuman di wajah dan leher sang suami.
Tentu saja hal itu tidak Nathan sia-siakan, sangat jarang melihat Nita yang begitu agresif seperti ini, biasanya dia lebih mendominasi dan Nita hanya pasrah.
Melihat Nita yang sudah membuka piyamanya dengan sekali tarikan ke atas, menyisakan penutup dada dan kain segitiga di bawah benar-benar membuat hasrat Nathan langsung turn on.
"Kamu harus tanggung jawab, sayang!" Nathan bangun dan langsung meraup dada Nita secara bergantian.
Membuang penutup itu dan melemparkannya ke sembarang tempat, Nita membantu Nathan membuka piyamanya.
Sekarang tubuh keduanya sudah sama-sama polos, posisi Nita masih duduk di pangkuan Nathan dan tepat di atas pusaka nya yang sudah berdiri tegak.
Nathan masih memberikan sentuhan pada sang istri, mencium bibir Nita dan mengeksplor nya. Ketika di rasa sudah cukup pemanasan nya karena kedua sudah sama-sama menginginkan, Nathan mengangkat paha Nita dan sedikit menggosok kan pusaka nya pada liang hangat itu.
"Kamu sudah basah," ucap Nathan dengan suara seraknya.
"Lakukan lah," jawab Nita dengan pandangan yang juga sudah berkabut.
Dengan sekali hentakan akhirnya pusaka itu lolos di liang hangat yang sempit itu.
Bless!!
Bersambung.