
Happy Reading.
Kedua sejoli yang tengah di mabuk asmara namun halal itu masih melakukan kegiatan mereka sampai larut malam. Tepat pukul dua belas malam Nathan telah mengeluarkan amunisi keduanya ke dalam goa yang sempit itu.
Setelah dirasa cukup lelah, Nathan mengecup kening Nita dan menidurkan tubuhnya di samping sang istri. Nita juga sudah terlihat sangat lelah. Dia bahkan langsung tertidur pulas setelah pelepasan terakhir mereka.
Nathan tersenyum dan mengelus pipi sang istri. "Makin hari kamu makin cantik aja, makin bersinar, ternyata di sini sudah ada malaikat kecil kita, terima kasih sayang untuk hadiah ulang tahun ku yang ke dua puluh sembilan tahun seminggu lagi, kamu memang wanita terbaik," ucap Nathan membelai perut rata istrinya.
Kemudian pria itu segera ikut merebahkan diri, mencari posisi yang nyaman di samping Nita. Memeluk sang isteri adalah posisi yang tepat.
Kebetulan Nita sangat suka tidur di peluk seperti ini, jadi tidak masalah kalau semalaman mereka tidur sambil berpelukan semalaman, bahkan tanpa menggunakan penutup apapun, kedua kulit mereka saling menempel satu sama lain dan hal itu sangat di sukai oleh Nathan.
Akhirnya setelah beberapa menit Nathan sudah berselancar ke alam mimpinya.
###
Nita membuka matanya perlahan setelah mendengar alarm di ponselnya berdering sampai beberapa kali, mengaung sampai ke telinga Nita, membuat wanita itu segera bangun dari tidurnya yang menurutnya belum cukup lama itu.
"Aku masih ngantuk! tapi harus cepat bangun!" perlahan Nita memindahkan tangan Nathan yang masih setia melilit di perutnya, namun tidak terlalu kencang.
Matanya mengerjab, membuka dan tertutup kembali, rasanya benar-benar masih mengantuk. Nathan menggeliat ketika Nita duduk bersandar di kepala ranjang. Mengambil ponsel Nathan untuk mematikan alarm yang tertunda.
Waktu masih menunjukkan pukul 05.10 WIB. Nathan memang selalu menyalakan alarm di ponselnya karena dia harus bangun pagi-pagi sekali.
Pada saat Nita akan meletakkan ponsel sang suami di atas nakas, tiba-tiba muncul sebuah notifikasi pesan dari aplikasi berwarna hijau di ponsel Nathan.
Nita tahu kalau ponsel Nathan memang tidak pernah di kunci, tapi apakah dia harus membuka pesan milik sang suami di mana pesan itu benar-benar membuatnya penasaran.
Apalagi melihat nama sang pengirim yang tidak lain adalah dari sang mantan 'Silvia'.
'Kenapa Silvia mengirim pesan di jam seperti ini? Kenapa dia masih mengganggu suamiku? Apa yang sebenarnya dia inginkan?' gumam Nita.
Nita melihat hanya awalan saja yang nampak dari pesan itu.
Silvia : Nathan, please! Aku butuh kamu, waktuku tidak...
Tiba-tiba Nita teringat tentang telepon kemarin siang yang Nathan terima, suaminya itu mengatakan bahwa Silvia Kolaps, kesadarannya menurun dan Ayu sang manager yang memberi tahu Nathan.
Nita tidak mau membuka pesan itu, dia tidak ingin berpikir lebih, karena dia akan membuktikan sendiri dengan mengunjungi Silvia.
Biarlah Nathan membaca pesan dari sang mantan, Nita hanya menunggu apakah Nathan akan bercerita kepadanya perihal pesan itu atau tidak.
Dan juga Nita ingin tahu kondisi Silvia sekarang, apakah Silvia baik-baik saja atau sebaliknya.
Setelah berperang dengan pikirannya, akhirnya Nita langsung bergegas ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
###
"Nanti siang aku jemput, jangan berangkat ke rumah sakit mengendarai mobil sendiri, mulai sekarang sebaiknya kamu tidak menyetir sendiri, sayang, aku akan mencari sopir untukmu," ucap Nathan saat akan masuk ke dalam mobil untuk berangkat bekerja.
Jadwal masuk Nita hari ini siang hari, dia ada janji dengan Dokter Albian jam 09.00 WIB. Jadi Nita sekalian memutuskan untuk langsung berangkat dari pada bolak balik rumah - rumah sakit.
"Terserah kamu, aku tahu kamu pasti khawatir sama dedek, padahal aku masih bisa nyetir sendiri, loh!"
Setelah itu Nathan masuk kedalam mobil sambil melambaikan tangannya ke arah Nita.
'Apa Nathan belum membaca pesan dari Silvia? Kenapa dia belum cerita apa-apa sama aku?' gumam Nita melihat mobil Nathan keluar dari gerbang.
Nita memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumah setelah mobil Nathan menghilang dari pandangan.
###
Nathan menyisihkan waktunya untuk sekedar menemani sang istri periksa ke dokter obgyn untuk yang pertama kali. Keduanya sudah sampai di ruangan Dokter Albian.
"Selamat siang Dokter Nita, Bapak Nathan, silahkan duduk," sapa dokter muda yang cukup tampan itu.
Albian masih muda, mungkin seumuran dengan Nita, tapi dia sudah cukup terkenal di rumah sakit Medikal Center dan pasien nya juga tidak sedikit. Mungkin para ibu-ibu muda ingin di tangani oleh dokter muda dan tampan tentang kehamilan mereka. Nathan menatap tidak suka kala dokter tersebut tersenyum manis kepada Nita.
Apakah Nathan cemburu hanya karena dokter obgyn itu masih muda dan tampan? Bukankah seharusnya Nathan harus bisa menekan perasaan cemburu tersebut.
'Ayolah Nathan, istri kamu sedang periksa pertama kali, jangan buat menjadi kacau,' batin Nathan.
Setelah melakukan pemeriksaan dan tentunya Nathan selalu setia di samping Nita, sekarang saatnya Albian melakukan USG untuk melihat apakah letak kantung janin sudah tepat.
Albian membuka baju Nita dan menyelimuti kakinya, setelah itu dokter muda itu mengambil sebuah gel dan kemudian di oleskan di perut Nita.
Nathan tidak pernah melepaskan matanya dari gerakan Albian, pada saat dokter muda itu menempelkan sebuah alat di perut Nita, tiba-tiba wanita itu berteriak kecil, tangannya menarik-narik lengan baju Nathan untuk memberitahu gambar yang tertera di layar itu.
"Wah, selamat ya Dok, di sini ada dua kantung dan posisinya berada di dalam rahim yang artinya bisa dipastikan kalau janin di dalam perut Dokter Nita ada dua alias kembar," jelas Dokter Albian menatap layar Led itu.
Mata Nathan juga nampak berbinar, dia tidak percaya kalau akan di berikan dua malaikat sekaligus di dalam rahim sang istri.
"Sayang, Tuhan benar-benar memberikan kita rezeki yang berlimpah, lihatlah, baby twins," ucap Nita dengan mata berkaca-kaca.
Nathan langsung memeluk Nita dan mencium keningnya lama, seakan mengatakan bahwa ia begitu bersyukur dan sangat beruntung dengan semua keadaan yang di jalani saat ini.
"Terima kasih, sayang!"
Dokter Albian tersenyum sambil bersedekap dada, sudah menjadi pemandangan yang biasa terjadi ketika melakukan euforia saat kedua pasangan tengah berbahagia karena berita kehamilan sang istri.
###
Akhirnya Nathan segera kembali ke kantornya setelah menemani Nita periksa kandungan dan sedikit berlama-lama dengan sang istri di ruangannya.
Nita sejak tadi tidak pernah melepas senyuman di bibirnya, sambil mengelus perutnya yang masih datar karena usia kehamilannya baru menginjak empat Minggu.
Ada dua kantung janin di rahim nya dan hal itu tentunya saja membuat nya benar-benar bersyukur atas karunia yang di berikan Tuhan untuknya.
Di saat rasa bahagia itu membuncah di hatinya, tiba-tiba Nita terpikirkan masalah Silvia dan akan menjenguknya sebelum jam kerjanya di mulai.
"Sebaiknya aku memang harus menemui Silvia secara langsung, agar tau keadaan wanita itu dan apa yang ia inginkan dari suami ku," gumam Nita.
Dia memang tahu di mana Silvia di rawat, karena kepindahannya juga atas rujukan dari rumah sakit Medikal Center sendiri.
Bersambung.