
Happy Reading.
Nathan benar-benar kembali ke rumah hanya karena istrinya ngidam minta peluk. Sebenarnya hari ini jadwalnya benar-benar padat dan harus rapat segera dengan para manager perusahaan, tetapi sang istri tiba-tiba telepon dan mengancam Nathan sehingga mau tidak mau membuat pria itu bergegas untuk pulang ke rumah.
Untung saja ada Azam yang sudah sering menggantikan Nathan di saat-saat urgent seperti ini. Azam memang asisten sekaligus sekretaris yang handal dan profesional. Dia selalu bisa menyesuaikan dirinya dan tidak pernah menyangkut pautkan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi.
"Azam, mana atasanmu? Kenapa dia tidak tidak hadir di rapat kali ini?" tanya seorang pria yang tidak lain adalah Romeo, sepupu Nathan.
"Tuan Nathan tidak bisa ikut menghadiri rapat, istri beliau sedang sakit dan meminta Tuan Nathan untuk kembali pulang ke rumah, jadi rapat kali ini saya yang akan meng-handle," jawab Azam tegas.
Romeo terlihat tersenyum mengejek. "Ck, gitu aja jadi seorang CEO, bagaimana bisa dia tidak profesional sama sekali, urusan istrinya yang sakit bisa di urus sama asisten rumah tangga, kan? Kenapa harus Nathan yang urus? Memangnya istrinya itu bisa apa? Bisanya cuma ngabisin duit suami aja sok-sokan, seharusnya Nathan tuh tegas sama istrinya, gak kek gini, di mana harus meninggalkan rapat penting hanya karena istrinya minta dia pulang!!" Romeo menyindir Nathan kemudian tergelak.
Azam terlihat mengepalkan tangannya emosi dengan pria satu ini, kalau bukan karena dia juga ikut menanamkan saham di perusahaan ini tentu saja Azam tidak akan segan untuk memukul nya.
"Sebaiknya anda segera duduk Tuan Romeo, para manager sudah pada datang dan tolong jangan membuat keributan saat rapat," ujar Azam berusaha menekan dan mengontrol emosinya.
Romeo menurut dengan ekspresi yang kesal. Akhirnya rapat itu benar-benar di handle oleh Azam yang memang sudah profesional.
Sedangkan di sisi lain.
Nathan bergegas masuk ke dalam rumah untuk memenuhi panggilan sang istri. Saat akan berlari tiba-tiba Nathan melihat Nita ada di ruangan itu.
"Sayang, aku udah pulang, aku udah ada di sini," ucap Nathan saat melihat istrinya yang duduk di sofa depan TV sambil menonton acara-acara reality show di sana.
Nita menoleh dan mengerutkan keningnya melihat Nathan ada di rumah saat ini.
"Kenapa pulang? Katanya tadi ada rapat?" kali ini Nita bertanya dengan nada yang sangat polos, benar-benar polos seakan tidak tahu situasi padahal tadi dia menelepon suaminya lalu menyuruh pulang saat itu juga karena ingin di peluk.
Nita bahkan mengancam akan memeluk orang lain kalau Nathan tidak segera pulang ke rumah.
Lalu sekarang dengan wajah tanpa dosanya, Nita malah bertanya pada Nathan kenapa dia pulang?
Sungguh kalau bukan istri tercinta tentu Nathan tidak akan mau melakukan hal ini meski di bayar sekalipun.
Demi cinta dan demi keinginan si calon buah hati, Nathan rela jauh-jauh pulang hanya karena istrinya itu ingin di peluk.
Tapi lihat lah, sekarang. Nita bahkan terlihat tidak antusias saat suaminya datang.
'Sabar Nathan, orang hamil memang masih labil,' batin Nathan mengelus dadanya.
Nathan melangkah duduk di samping istrinya kemudian mencium pipi Nita sekilas. "Tadi katanya nyuruh pulang, mau di peluk, jadi gak?" tanya Nathan menatap Nita.
Nita menoleh, kemudian mengangguk. "Aku kira kamu gak mau dateng, padahal aku tahu kamu sibuk," jawab Nita sudah mode manja. "Padahal tadi kamu gak perlu pulang, aku tahan kangennya sama kamu seharian ini, karena nanti malam aku harus jaga malam di rumah sakit." Ujar Nita.
'Itu tahu kalau aku sedang sibuk, dasar istriku sedang labil," Nathan benar-benar harus ekstra sabar menghadapinya apa yang akan di minta oleh sang istri.
"Sesibuk nya aku kalau demi kamu apa sih yang, nggak sayang?" Nathan merapikan anak rambut Nita yang terlihat sedikit berantakan.
"Makasih banget, yank, jadi makin cinta, deh!" seru Nita.
Nita kemudian memeluk Nathan erat, tuh, kan labil lagi. Nathan benar-benar harus ekstra sabar menghadapi sang istri. Apalagi katanya hormon seorang ibu hamil itu benar' tidak bisa di prediksi.
"Makan siang di rumah, ya? Kasian tuh Bik Sum udah repot-repot bikinan sop iga sapi," ucap Nita yang sekarang mode manja.
Akhirnya acara rapat yang di pimpin Azam berjalan dengan baik. Nathan bisa tersenyum lega mendengar nya.
"Sayang aku balik lagi ke kantor, kamu jaga diri baik-baik, ya? Kalau masih mual istirahat aja gak usah nglakuin aktivitas," ucap Nathan.
"Kok tahu kalau aku tadi mual-mual?" tanya Nita.
"Tadi Bik Sum yang bercerita," jawab Nathan mengecup bibir Nita.
"Ah, Bik Sum pake cerita segala," Nita mengerucutkan bibirnya membuat Nathan benar-benar gemas.
"Aku balik ke kantor, ya? I love you," Nathan mencium bibir Nita.
"I love you too."
####
"Kok aku sekarang jadi gendutan, ya?" Rara menatap penampilan nya di depan cermin dengan pakaian yang tidak terlalu terbuka
Aris menghampiri Rara dan memeluk nya dari belakang. "Kamu cantik banget, aku benar-benar tergila-gila padamu, yank!" Aris mencium tengkuk Nita.
"Eh, lihat ini deh, perutku ada lemaknya," seru Rara yang masih konsentrasi terhadap bagian tubuhnya.
Aris membalikkan badan Rara dan meneliti dari atas ke bawah.
"Iya, yank! Kamu emang agak gendutan, agar berisi, apalagi di sini," Aris menyentuh Area dada Rara yang memang terlihat sedikit besar.
"Awas tangannya! Nanti keterusan!" Rara menepis tangan Aris.
"Ingat, jangan kelewat batas," Rara melotot garang.
"Iya-iya, sayang!" Aris terkekeh dengan tingkah Rara yang semakin menggemaskan di matanya.
Rara kembali mengamati tubuhnya yang di balut gaun malam yang rencananya akan dia pakai untuk resepsi pernikahan nya.
"Aku beneran gendut, deh!" Rara mendesah kasar.
Membuat Aris langsung menarik nya duduk di sofa. Ternyata Aris hari ini benar-benar tidak berangkat bekerja dan stay di butik Rara sampai sekarang.
"Sayang, kamu merasa ada yang aneh gak dengan badan kamu?" tanya Aris kali ini serius.
"Sepertinya dadaku akhir-akhir ini terasa lebih kencang dan agak sakit gitu," jawab Rara.
"Kamu mual-mual di pagi hari gak?" Rara menggeleng.
Aris mengambil ponselnya dan segera mencari informasi tentang ciri-ciri wanita yang tengah hamil muda.
"Gimana kalau kamu periksa ke dokter obgyn aja, yank, siapa tahu ada Aris junior yang bersemayam di sini," Aris mengelus perut Rara.
Membuat wanita itu akhirnya paham dan langsung melotot seketika.
Bersambung.