
Happy Reading.
Cup!
Nathan mengecup bibir Nita sekilas, mereka sudah sampai di depan rumah Nita, setelah acara makan malam di rumah orang tua Nathan selesai, Nita memutuskan untuk langsung pulang.
"Besok aku akan ada klien penting, sepertinya akan sibuk, jadi jangan kangen ya kalau aku gak bisa chat atau telepon seharian?" ucap Nathan mengelus sudut bibir Nita.
"Hemm, ya udah pulang sana, besok aku juga masuk pagi," Nita membuka sabuk pengaman dan segera keluar dari dalam mobil.
Nathan melajukan mobilnya setelah Nita masuk ke dalam rumah. Sepertinya rencana dia untuk mendapatkan hati Nita sudah mendapatkan dukungan penuh dari kedua orang tuanya.
#####
Nita baru saja selesai memeriksa pasien di UGD dan melepaskan snelli-nya (snelli adalah doctor’s white coat alias jas dokter)
Ada-ada saja pasien hari ini yang dia hadapi, pagi tadi dia menangani pasien seorang remaja labil yang tangannya tergores cukup dalam di bagian urat nadi. Setelah mendengarkan penjelasan dari sang ibu, putrinya itu melakukan percobaan bunuh diri karena di putus oleh pacarnya yang lebih memilih cewek lain.
Dan baru saja dia mendapatkan pasien seorang wanita dewasa yang minum cairan disinfektan karena di tinggal sang mantan menikah. Wanita itu merasa frustasi karena tidak bisa melupakan sang mantan dan ingin mengakhiri hidupnya.
Untung saja adiknya yang baru pulang dari les melihat sang kakak yang sudah habis meminum cairan pembersih itu dan langsung menyeret nya ke rumah sakit.
Nita benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan dua wanita yang berbeda umur itu, sama-sama patah hati karena mahluk yang namanya 'pria' dan berpikir ingin menghabisi nyawa sendiri demi menghindari dari rasa sakit hati.
Hey! apakah mereka tidak pernah berpikir kalau mati itu lebih sakit! ck, Nita berdecak sebal. Dulu dia juga pernah merasakan di posisi yang sama dengan mereka berdua, tapi dia tidak pernah berpikir untuk bunuh diri, sayang donk nyawanya, bahkan dia belum pernah merasakan di perawani meskipun sudah pernah menikah.
"Astaga!! apa yang kupikirkan! kenapa jadi ngelantur gini, sih!" Nita memukul kepalanya sendiri yang menurutnya sudah tidak waras, usianya masih cukup muda dan dia tidak pernah menyesal belum pernah merasakan malam pertama.
Lagian itu juga tidak akan berpengaruh terhadap apapun, dia masih belum bisa memastikan kapan akan menikah kembali, meskipun saat ini mantan suaminya sudah mengejar nya kembali.
Nita melihat jam di pergelangan tangannya dan memutuskan untuk pulang, dia merasa begitu lelah dan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.
Nita berjalan santai di lobi rumah sakit, tak sedikit orang menyapanya dengan sopan, meskipun Nita sudah melepaskan Jas dokternya, tapi memang wanita itu begitu dikenal di area rumah sakit sebagai cucu pemilik rumah sakit ini.
Pada saat sampai di parkiran, ponsel Nita tiba-tiba bergetar, wanita cantik itu segera mengambil ponsel dan mengangkat panggilannya.
"Halo, Ra. Ada apa?"
"Udah pulang belum? aku lagi di rumah kakek, malam ini dia ingin kita berkumpul, kemarin malam kan kita gak ada yang dateng, kakek meneleponku dan sengaja mengerahkan supirnya untuk menjemputku di butik, sebaiknya kamu langsung ke sini."
Nita menghela napas, dia sangat malas kalau harus ke rumah kakeknya karena pasti akan ada acara makan malam keluarga dan tentunya dia akan bertemu dengan Daniel. Mengingat sepupunya itu membuat Nita sangat malas.
"Aku gak bisa, Ra. Males banget kalau harus ikut acara makan malam kek gitu, aku mau tiduran di rumah dan bilang sama kakek kalau aku lagi gak enak badan."
Terdengar helaan napas dari seberang, mungkin Rara sudah tidak akan memaksa Nita lagi karena kakaknya itu sangat tahu tempramen Nita yang keras kepala.
"Tapi kali ini aku gak bisa bantu kamu untuk izin sama kakek, karena kakek pasti menyuruh orangnya jemput kamu di rumah."
Rara mengatakan hal tersebut dengan berbisik, dia saat ini sedang berada di gazebo belakang rumah kakeknya. Tidak sendiri tapi dia bersama dengan seseorang.
"Memangnya ada apa sih? kenapa pake acara-acara makan malam keluarga?"
"Ehm, kakek mau ngomongin hal penting sama kita, jadi kamu juga harus ikut bergabung malam ini."
Setelah mengatakan hal itu Rara menutup teleponnya. Nita tidak bisa berpikir, apa yang di inginkan kakek Abimanyu malam ini.
"Apa kakek mau bagi-bagi warisan sekarang? ah, sebaiknya aku memang harus kesana biar gak mati penasaran," gumam Nita kemudian melajukan mobilnya ke arah rumah sang kakek.
Tapi di tengah jalan Nita berhenti sebentar, dia harus mengganti pakaiannya dengan dress agar lebih nyaman. Nita keluar dari dalam mobil dan masuk ke pintu belakang untuk mengambil dress yang selalu tersimpan di mobilnya.
Ada beberapa dress dan kemeja yang Nita bawa di mobilnya, untuk jaga-jaga kalau tiba-tiba ada urusan mendadak dan ia tidak sempat pulang. Akhirnya Nita memilih dress berwarna Hitam dengan aksen renda di bagian dada. Kemudian gadis itu segera memakainya dan kembali ke bagian kemudi.
Nita melihat dirinya di pantulan kaca spion, dia memoleskan lipstik berwarna nude dan juga memakai parfum di tubuhnya.
"Biar wangi walaupun belum mandi," gumam Nita terkekeh geli.
Biar saja dia tidak mandi, siapa suruh harus segera ke tempat kakek Abimanyu, padahal jarak dari rumah sakit bisa di tempuh kurang lebih 1 jam kalau tidak macet.
Nita tahu kalau pasti dia akan capek sekali. Tapi demi memenuhi keinginan kakeknya, dia pun rela langsung menuju ke sana.
####
Daniel tersenyum melihat Nita yang sudah tiba di kediaman kakek, pria itu mendekat ke arah sepupunya itu dan langsung memeluk Nita.
"Gue kangen sama lo!" Nita refleks mendorong tubuh kekar Daniel.
"Apa-apaan sih! main peluk-peluk!" sungut Nuta kesal.
"Lo lupa kalau dulu kita juga seperti ini, kan?"
"Tapi itu sebelum pikiran lo jadi geser!" jawab Nita kemudian berjalan ke arah pakai Abimanyu dan menyapanya.
"Sebenarnya Kakek ingin bicara sama cucu-cucu kakek yang sudah dewasa, kakek sudah sangat tua dan sudah saatnya memberikan wasiat terakhir," Nita, Rara dan Daniel terkejut.
"Kek, jangan bicara seperti itu!" Nita memeluk lengan Abimanyu dan bersandar di sana.
"Kakek akan memberikan jabatan Direktur pada siapa yang berhak diantara ketiga cucu kakek ini, tapi harus ada syaratnya kalau kalian ingin jabatan tertinggi di rumah sakit itu," ujar kakek.
"Memangnya apa syaratnya?" tanya Daniel.
"Harus menikah terlebih dahulu, siapa yang bisa nikah cepat, dia yang akan mendapatkan posisi direktur utama di rumah sakit," jawab sang kakek.
Nita, Rara dan Daniel saling berpandangan.
"Kenapa syaratnya harus seperti ini?" gumam Nita.
Bersambung.