My Ex Wife

My Ex Wife
Lega



Happy Reading.


Glodak!


"Ups, gagal lihat adegan uwuwuw gara-gara nyenggol manekin," gerutu seorang wanita muda yang tidak lain adalah Nia.


Sebenarnya tadi dia tidak sengaja melihat adegan Rara yang sedang berciuman dengan sang kekasih, ciuman yang sedikit hot tentunya.


Ceritanya, wanita yang masih single itu ingin melihat lebih dekat, tapi naas karena tidak konsentrasi akhirnya kakinya menyenggol manekin yang terpajang di samping pintu ruang kerja Rara.


Nia gelagapan dan segera merapikan manekin itu lagi, kemudian ia langsung berlari ke arah ruang depan di mana dia selalu menerima tamu agar tidak ketahuan kalau sedang mengintip.


Sedangkan di dalam ruangan, Rara dan Aris langsung segera bergegas menuju pintu untuk melihat siapa yang ada di luar. Hujan deras begini siapa yang berkunjung di butik, atau jangan-jangan ada pencuri masuk dan akan mengambil barang-barang yang ada di butik Rara.


Cepat-cepat Rara membuka pintu yang terbuat dari kaca itu, ruangan Rara bisa terlihat dari luar dengan jelas tanpa membuka pintu sudah bisa terlihat apa yang ada di dalam.


Rara celingukan ke kanan dan ke kiri, tidak melihat siapapun di sana.


"Siapa, yank?" tanya Aris ikut melongok melihat keadaan yang ada di luar.


Bukannya keluar dan mencari tahu apa yang terjadi, Aris hanya berani melihat dari balik punggung Rara. "Eh, kenapa kamu malah di belakang? sana lihat ada siapa diluar!" bentak Rara membuat Aris menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja menjadi gatal.


"Ayo kita lihat sama-sama, yank! kamu di depan dan aku di belakang jagain kamu, siapa tahu ada yang mau nerkam kamu dari belakang, kan aku harus jaga-jaga biar kamu selamat dan baik-baik saja," Rara berdecak kesal.


"Bilang aja kalau kamu takut," Aris nyengir kuda, tentu saja dia bukan takut beneran, tetapi memang modus ingin nempel-nempel dengan Rara seperti di belakangnya saat ini.


JEDER!!


Suara petir menggelegar, Rara langsung memeluk Aris mengalungkan tangannya di leher sang kekasih. Tentu saja hal itu langsung di manfaatkan oleh Aris dengan memeluk Rara erat.


"Eh, mbak Rara, udah dateng, to?" Nita berjalan ke arah Rara, bertanya salah tingkah karena baru saja melihat ciuman panas itu.


"Loh, Nia? kapan kamu datang?" tanya Rara. Berusaha melepaskan diri dari pelukan Aris.


"Belum lama sih, mbak, baru aja masuk dan gak sengaja nabrak manekin, kok mobil mbak Rara gak ada? aku kira tadi mbak Rara belum datang?" ucap Nia melirik Aris yang masih senyam senyum di belakang Rara.


"Oh, iya, tadi baru pulang melayat sama Aris, terus dia anterin aku sekalian ke sini, kalau gitu coba kamu cek manik-manik yang ada di kotak paling bawah, kek-nya kemarin tinggal dikit, sekalian kamu pesan sama yang buat gaun malam resepsi pernikahan ku nanti," ujar Rara.


"Siap mbak, kalau gitu aku permisi dulu," Rara mengangguk setelah Nia berpamitan.


"Yank, kesini donk!" Aris menarik Rara untuk kembali keruangan.


"Kamu gak ke kantor?"


Aris menggeleng. "Masih hujan, tadi aku udah telepon sekretaris ku kalau aku berangkat nya terlambat, lagian gak ada meeting penting kok hari ini," jawab Aris.


"Besok kita ajak Nita sama Nathan ketemu mbak Sofi, semuanya udah siap tinggal milih desain undangannya," ucap Rara mendudukkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya.


"Iya, tapi Nathan kan, masih berduka," Rara melotot mendengar ucapan Aris.


"Berduka kenapa? Kalau karena meninggalnya Silvia aku rasa Nathan udah ikhlas banget, tuh,. Sebenarnya aku juga sudah ikhlas, kok!"


"Lah, emangnya apa hubungannya dengan kamu dan Silvia?"


Rara mendesah kasar. "Kamu tahu gak, dulu Nita sama Nathan udah pernah nikah di saat Nathan masih menjalin hubungan dengan Silvia?"


"Di situ aku gak suka sama Silvia karena wanita itu gak mau melepaskan Nathan yang sudah nikah, jadi kek nikah kontrak gitu, gara-gara si Nathan udah punya janji sama Silvia mau nikahin dia setahun setelah ia menikah sama Nita," mengalir cerita Rara begitu mudah.


Meskipun semua itu hanya masa lalu tapi tetap saja Rara masih merasa kesal dengan Silvia karena membuat Nita menderita.


"Aku paham, jadi seperti itu ceritanya?" Aris manggut-manggut.


"Hemm,,," Rara mengambil kertas dan pensil dan mencoret kertas yang di ambilnya tadi membentuk pola abstrak.


"Jadi mereka cerita balikan sama mantan, persis kek kita," ucap Aris terkekeh mendengar ucapan nya sendiri.


Rara tidak menyahut, dia sudah asyik dengan kertas dan pensil membuatnya nampak serius. Coretan demi coretan itu membentuk pola abstrak dan lama-kelamaan terlihat sebuah gambar bunga yang hidup.


"Yank, kamu sibuk, ya?" tanya Aris yang merasa di cuekin tiba-tiba.


"Hemm"


"Ck, padahal aku di sini mau berduaan denganmu, loh! Masa iya sekarang dicuekin sama kertas dan pensil?" Rara masih diam saja dan fokus terhadap gambarannya.


Karena bosan sejak tadi berusaha mencairkan suasana, akhirnya Aris memilih menyerah tidak mau bertanya lagi.


Pria itu merasa kesal lalu keluar dari ruangan Rara. Tapi sebelum Aris menutup pintu, tiba-tiba Rara memanggilnya.


"Eh, mau kemana?!"


"Mau keluar, liat hujan udah reda belum," jawab Aris jutek.


Rara yang tahu kalau kekasihnya itu sedang marah akhirnya meletakkan kertas dan pensilnya.


"Ya udah, sini kita ngobrol, tapi nanti kalau aku udah sibuk, kamu sebaiknya ke kantor aja, ya? Mentang-mentang anak yang punya perusahaan semaunya masuk kantor," ucap Rara.


"Iya-iya, aku tahu kamu sibuk, makanya aku mau pergi keluar, tapi kalau sekarang kamu ngajak aku ngobrol berduaan tentu aja aku gak nolak," jawab Aris membuat Rara menggeleng kan kepalanya.


####


Nathan menyerahkan surat yang sudah di bacanya kepada Nita, dia merasa lega akhirnya Silvia mau meng-iklaskan nya untuk bersama Silvia bahkan mendoakan kebahagiaannya.


"Ehmm, gimana perasaan kamu?" tanya Nita.


Nathan tersenyum dan langsung menggenggam tangan sang istri.


"Aku merasa sangat lega, rasanya semua beban di pundak ku terangkat, apalagi Silvia juga udah tenang di sana, aku merasa kasian kalau dia harus menahan sakit di akhir hidupnya, jadi sepertinya kepergiannya adalah yang terbaik, karena dia sudah tidak merasakan sakit lagi," jawab Nathan tanpa beban.


Nita sampai melongo mendengar ucapan sang suami yang malah seakan-akan merasa lega karena Silvia meninggal.


Ya, lega karena mungkin sudah tidak ada yang menganggu mereka. Mungkin Nathan merasa sedikit takut kalau suatu saat nanti Silvia akan datang mengganggu rumah tangga mereka, meskipun Nathan akan tetap mempertahankan kapal yang terkena badai.


"Jadi kamu gak nyesel, kan?"


"Nyesel kenapa?" Nathan mengerutkan keningnya.


"Ah, bukan apa-apa, yang penting sekarang kamu ke kerja, aku jaga malam," jawab Nita tertawa kecil.


Bersambung.