My Ex Wife

My Ex Wife
Kesempatan Kedua



Maaf ya akak reader kemarin banyak kesalahan dalam menulis kata panggilan, Ayah-Papa 😅 pikiran othor lagi blank, badan kurang fit juga🙏🙏🙏 mudah-mudahan masih bisa menikmati jalan ceritanya ya....


Happy Reading.


Rara tersenyum senang ketika melihat ekspresi dari kedua orang tua Aris yang terlihat terkejut. Dia memang tidak bisa di jadikan pelarian seperti ini, menurut nya meskipun Aris mengatakan bahwa ia serius dengan perasaannya tapi bagi Rara masih butuh proses yang panjang untuk saling mendekatkan diri dan mengenal satu sama lain.


Yah, meskipun mereka sudah saling mengenal dan dulu pernah dekat, tapi bagi Rara, untuk mencari pendamping hidup lagi sepertinya tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Meskipun Aris sudah mengatakan isi hati yang sebenarnya, tapi kalau harus melangkah ke jenjang pernikahan harus dengan kesiapan dan perhitungan yang matang.


Dia juga harus hati-hati agar tidak ada kejadian yang tidak di inginkan lagi seperti Nana yang lain.


"Ehm, kamu janda cerai?" tanya Rima membuyarkan lamunan Rara.


"Bukan, tante. Saya janda di tinggal mati," jawab Rara lugas, bahkan terulang senyum di bibirnya.


"Apa kamu sudah mantap sama anak saya? Kamu tahu kalau dia baru saja gagal nikah karena di khianati dan di bohongi oleh calon istrinya?" kini giliran Edi yang bertanya.


'Kenapa malah gue yang di interogasi? Kan niat ngomong kek gitu biar mereka ilfeel sama gue!'


"Tau lah, Pa! Rara orang pertama yang Aris kasih tau,!"


"Papa gak nanya sama kamu!" seru Edi menatap tajam putranya.


"Bagaimana Rara, apakah kamu sudah berpikir dua kali untuk menikah dengan anak saya?" kali ini Rima yang bertanya.


"Ehmm... Sebenarnya saya tidak tahu kalau Aris mengajak saya nikah, Tante. Kalau tau begini kan saya gak mau di ajak pergi, bukannya saya menolak tapi semuanya butuh proses, dan Aris juga baru saja gagal menikah, jadi ya,,, saya gak siap!" jawab Rara dengan tatapan yang tegas.


Membuat Edi dan Rima menatap nya dengan tatapan tidak percaya. Entah kenapa mereka malah merasa bahwa apa yang di katakan Rara memang benar.


"Ra, kok lo ngomong gitu? Apa lo gak mau nikah sama gue?" seru Aris menatap Rara.


"Ehmm, lo gak bisa mutusin gitu aja, biar bagaimanapun kalau masalah mencari pendamping hidup, gue rasa kita harus bisa mendekatkan diri terlebih dahulu," jawab Rara tersenyum.


'Mudah-mudahan dengan begini membuat Om dan Tante alias kedua orang tua Aris bisa mikir dua kali untuk nerima gue, jujur gue belum siap untuk nikah lagi!' batin Rara.


"Rara, kalau memang seperti itu keinginan mu, biarkan Aris melakukan proses pendekatan dengan mu terlebih dahulu, sepertinya Aris memang benar-benar cinta sama kamu," ujar Rima membuat Rara melongo.


Niat hati ingin membuat kedua orang tua Aris tidak menyetujui pilihan putranya tapi sepertinya dugaan Rara salah besar.


Aris tersenyum menatap Rara dengan tatapan yang menghangat, Rara bisa melihat bahwa tatapan itu penuh dengan cinta.


"Gue akan berusaha untuk menjadi pantas buat lo, Ra!"


####


Kediaman Orang tua Nathan.


Tapi lihatlah sekarang, bahkan sejak tadi lengannya sampai terasa kebas karena Soraya menggandengnya tanpa berniat melepaskan. Seakan-akan takut kalau Nita akan pergi lagi.


"Ma, gak usah berlebihan, itu kasian Nita, sejak tadi Mama gandeng terus tangannya," ucap Nathan kesal karena dia tidak bisa berdekatan dengan Nita kalau Mamanya terus menempel seperti itu.


"Loh, kenapa kamu yang protes? Mama tuh kangen banget sama menantu Mama ini, loh!" lagi, Nita hanya bisa tersenyum ketika Soraya semakin membuatnya tidak bisa berkutik.


"Lagian Nita biasa aja kok, ya kan, sayang?" Nita hanya mengangguk saya Soraya meminta dukungan nya.


"Tapi Nita bukan menantu lagi, udah mantan ...!"


"Ssttttt .... Bagi Mama kamu tetaplah menantu yang paling Mama sayang, jadi jangan buat Mama kecewa, ya?" sela Soraya membuat Nita menelan ludahnya kasar.


"Ya, tapi jangan sampai putra Mama masih menganggap Nita istri, karena Mama nganggep Nita masih menantu," ujar Nita membuat Nathan melotot sempurna menatap ke arah mantannya itu dan hanya di balas cengiran oleh Nita.


"Iya-iya, tenang aja, nanti kita kasih hukuman buat Nathan!"


"Ma, kok gitu, sih!" seru Nathan tidak terima.


Sorya tidak mendengarkan ucapan putranya karena dia hanya fokus pada mantan menantunya.


"Mama udah masakin makana spesial buat kamu, sekarang kita makan malam dulu, ya? Pasti kamu lapar, kan?"


Nathan yang merasa di abaikan juga ikutan mencari perhatian pada Nita.


"Ayo, Ta, makan dulu, udah di tunggu Papa di meja makan," ucap Nathan mengambil tangan Nita yang bebas.


Sekarang tangan kanan Nita di pegang oleh Soraya dan yang kiri di genggam oleh Nathan.


Ayolah, sekarang Nita benar-benar merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini.


"Mama yang masak semuanya?" tanya Nita setelah melihat masakan yang berada di meja makan.


"Iya, Mama tahu kalau kamu mau ke sini, jadi spesial Mama masak buat kamu," jawab Soraya tersenyum lebar.


"Ayo duduk dulu, kita makan malam, Papa udah laper," ujar Jordan.


Akhirnya malam itu Nita makan bersama dengan Nathan dan kedua mantan mertuanya.


Dulu dia pernah berada di situasi seperti ini, tapi kali ini benar-benar berbeda. Entah kenapa dia merasakan seperti melihat keluarga yang seutuhnya.


Apakah dia benar-benar akan menerima Nathan kembali dan memberikan nya kesempatan kedua.


Bersambung.