
Happy Reading.
Nita dan yang lainnya langsung bungkam ketika mendengar ucapan Nathan yang terkesan tajam dan dingin.
"Maaf sayang, aku gak bermaksud," ucap Nita merasa sedikit takut melihat suaminya yang menatapnya dengan datar.
'Apa aku sudah sangat keterlaluan!' batin Rara.
Aris melihat situasi sudah tidak kondusif, akhirnya memutuskan untuk mengajak Rara dan kedua orang tua Aris keluar kamar.
"Om, tante, sepertinya Nathan dan Nita sedang butuh waktu berdua," ucap Aris memberi pengertian pada kedua orang tua sahabatnya itu.
Sebenarnya mereka tidak tahu surprise yang di buat Nita untuk Nathan. Nita memberitahu Rara, Aris dan kedua mertuanya untuk memberi kejutan dengan Nathan di rumah sakit.
Nita beranjak dan duduk di samping suaminya, menarik lengan sang suami untuk ia genggam.
Nathan masih tidak ingin menatap sang istri, terlampau kesal dengan kejutan yang sama sekali tidak lucu itu.
Apakah Nita tidak tahu kalau tadi dia benar-benar panik setengah mati. Dia sampai ngebut di jalan hanya untuk segera tahu keadaan sang istri.
"Sayang, jangan marah donk?" Nathan hanya diam tidak menjawab.
"Kamu jelek kalau lagi marah seperti di ini!"
Nita menarik kedua pipi Nathan, melihat suaminya yang sejak tadi cemberut benar-benar membuat Nita merasa sangat gemas.
"Suamiku masih ngambek, ya? Jangan marah, dok sayang," Nathan masih diam tanpa menatap kearah istrinya. Bibirnya mengerucut membuat Nita sesekali mencium gemas bibir itu.
"Maafin aku, sumpah aku benar-benar gak bermaksud membuatmu gelisah seperti ini," ucap Nita kali ini dengan perasaan yang merasa sedih karena suaminya marah padanya.
"Kamu sudah sangat keterlaluan, Ta! Seharusnya kamu gak bikin aku panik dengan cara berbohong seperti ini, kamu yang bisa bikin semua ... Argrhhh!" Nathan meremas rambutnya frustasi. Dia senang kalau Nita akhirnya tidak terjadi apa-apa.
Tapi ternyata Nita berbohong padanya membuat Nathan benar-benar ingin marah.
Nathan merasa bahwa Nita sangat keterlaluan, apa istrinya itu tidak tahu bagaimana perasaan nya? Pria itu benar-benar sangat kesal karena ide istrinya yang begitu konyol.
Menurutnya ini bukan sesuatu hal yang lucu, Nita sampai membawa kesehatannya untuk memberi kejutan kepada Nathan, tentu saja saat itu dia sangat terkejut bahkan panik bukan main.
Nathan sebenarnya kasian melihat istrinya yang seperti ini, apakah dia berbicara sedikit kasar sehingga membuat istrinya langsung terlihat sangat sedih.
Baru kali ini Nathan merasa marah pada istrinya karena tindakannya yang sangat di luar nalar.
Apalagi sampai membawa nama ruang ICU, tentu saja hal itu sangat di sayangkan oleh Nathan.
"Kenapa kamu sampai harus bohonag masik ICU segala?"
"Tadi memang aku sempat di bawa ke ruang ICU, pas jam 3 dini hari aku terpeleset di kamar mandi ruang jaga, saat itu hanya ada beberapa perawat yang berjaga, dan satu dokter yang langsung membawaku ke ruang ICU, mereka semua tahu kondisi ku yang sedang hamil muda, jadi..."
"Kenapa kamu gak bilang dari tadi, sayang? Aku sangat khawatir!" Nathan membawa Nita ke dalam pelukannya.
"Katanya udah di telepon sama salah satu perawat pake ponselku, ya aku kan kesakitan, mana bisa hubungi kamu," jawab Nita.
Nathan merasa sangat bersalah ketika tadi sempat mengira istrinya itu sedang bercanda dan membohongi nya karena ingin memberi kejutan ulang tahun Nathan.
"Iya udah, ada telepon dari seorang perawat, tapi udah jam 4 subuh, mungkin aku baru denger deringnya pas jam 4, padahal kamu pingsan jam 3, berarti aku udah melewati waktu satu jam tanpa berada di sampingmu, maaf kan aku, sayang," Nathan menciumi seluruh wajah Nita dan berakhir pada bibir sang istri yang memang terlihat pucat.
"Eh, ini kenapa banyak bunga di sini?" Nita tertawa kecil ketika suaminya menyadari ada beberapa macam bunga di ranjang pasien tersebut.
"Mau kasih kejutan buat kamu, katanya kamu pengen bunga yang beraneka macam, aku jadi bingung mau beliin bunga yang mana, jadi kamu tinggal pilih," jawab Nita.
Nathan benar-benar gemas terhadap sang istri, di cubitnya pelan hidung mancung Nita dan membuat si empunya mengerang sebal.
"Tapi dedek gak apa-apa, kan?"
Nita mengangguk mantap. "Alhamdulillah, dedek kuat, gak apa-apa kok," jawab Nita.
"Anak Ayah pasti kuat," Nathan mencium perut Nita dan mengelusnya perlahan.
"Eh, kalian udah baikan, kalau gitu ayo kita rumah, di rumah udah ada beberapa macam hidangan untuk syukuran, ulang tahun Nathan dan juga syukuran atas kehamilan pertama Nita, calon anak pertama kalian," ujar Mama mertua Nita.
Bersambung