My Ex Wife

My Ex Wife
Sepucuk surat



Happy Reading.


Aku bukanlah orang yang mampu mengubah racun menjadi madu karena tak bisa ku ubah cinta kita yang sudah tidak lagi sama.


Begitu aku menyadari bahwa kamu layak mendapatkan yang lebih baik, maka melepaskan akan menjadi keputusan terbaik yang pernah ada.


Kamu telah memberikan ketulusan hati dan pengorbanan dengan sepenuhnya, namun yang ku lakukan adalah penghianatan. Aku tahu aku bukan orang baik, dan kamu berhak bersamanya karena dia yang terbaik.


Di sisa waktuku ini, aku ingin sekali bisa melihatmu, meski hanya sekali saja, bukan untuk apa-apa melainkan untuk meminta maaf padamu.


Tapi aku tahu diri, aku juga sudah tidak berhak lagi atas dirimu, maka dari itu lewat sepucuk surat ini, aku meminta maaf padamu, Nathan. Aku juga minta maaf pada istrimu, Nita.


Pesan untuk Nita, tolong jagalah Nathan, dia pria yang sangat baik. Sebenarnya aku tahu bahwa dia sudah sejak lama mencintaimu, namun aku masih berusaha mengambil hatinya, aku tidak rela kalau dia kembali padamu. Namun aku tahu, cinta Nathan sangat tulus untukmu, Nita. Cintai dia seperti dia mencintai mu.


Aku bahagia melihat kalian bahagia.


...Silvia Laura...


*******


Nita meneteskan air matanya ketika sudah selesai membaca sepucuk surat yang di tulis oleh Silvia sendiri seminggu yang lalu. Surat yang mengutarakan seluruh isi hati Silvia kepada Nathan dan Nita.


Sepertinya memang seminggu ini Silvia dan juga Ayu berusaha untuk menghubungi Nathan karena sudah merasakan detik-detik terakhir bahwa kesehatan nya semakin menurun.


Itu artinya juga sebelumnya Silvia memang sudah berusaha untuk ikhlas melepaskan kan semuanya, termasuk melepaskan Nathan dan juga merestui hubungan mereka.


Tapi dia dan juga Nathan malah mengabaikan nya.


Ada rasa sesal di hati Nita saat ini, kenapa dia tidak mengatakan pada Nathan tentang kondisi Silvia yang terakhir kali pada waktu kemarin dia menjenguknya. Seharusnya itu bisa membuat kepergian Silvia menjadi lebih tenang. Nita ingat saat kemarin bertemu dengan Silvia dan wanita itu mengatakan ingin sekali bertemu Nathan dan di rawat olehnya.


Ternyata itu seperti ungkapan terakhir, keinginan seseorang di detik-detik kala sebelum menghembuskan nafas terakhir tadi malam sekitar jam 2 dini hari.


Nathan masih berdiri di samping makam Silvia bersama Ayu dan Azam. Setelah selesai pemakaman tadi, Ayu langsung menyerahkan pucuk surat itu pada Nita, kata Ayu, Nita boleh membacanya terlebih dahulu sebelum ia memberikan nya pada Nathan.


Nathan terlihat menunduk dengan kacamata hitamnya di samping nya ada Azam yang juga memakai kacamata hitam. Seperti mendengar kan Ayu berbicara, entah apa yang di bicarakan, Nita hanya bisa melihat dari kejauhan saat Ayu seperti sedang berucap dan terlihat sekali raut kesedihan diwajahnya.


Mungkin saja Ayu menceritakan semua hal terkait Silvia di saat-saat terakhirnya, Ayu sudah lama menjadi sahabat sekaligus manager Silvia dan selalu setia menemaninya.


Mengingat keluarga Silvia seperti sudah lost kontak dengannya, membuat Silvia sebatang kara saat ini.


Dulu saat masih menjadi model di Italia, wanita itu sedang dalam puncak karir teratas nya, hampir 10 tahu dia berkecimpung di dunia modeling dan ingin bisa merambah internasional.


Akhirnya keinginan itu pun terwujud saat Silvia di terima sebuah agensi di Milan.


Dan saat ini Nita sedang berada di dalam mobilnya karena Nathan menyuruh istrinya itu untuk berteduh terlebih dahulu.


Langit mulai mendung dan angin berhembus sedikit kencang, tampak rintik-rintik hujam lembut datang di terbangkan oleh angin. Kesempatan mumpung sendiri di dalam mobil, di gunakan Nita untuk membaca surat dari Silvia tersebut.


"Aku juga minta maaf sama kamu, Silvia.. karena gak berhasil bawa Nathan, tapi tenang aja, aku janji bakal cintai dia sepenuh hati dan bisa ku pastikan kami akan selalu bahagia karena sudah ada calon baby Nathan di dalam perutku," seakan bicara pada Silvia di depannya. Nita mengucap kata maaf dengan tulus.


Ada kelegaan tersendiri dihatinya setelah membaca surat tersebut. Nita berjanji akan membuat pernikahan keduanya kali ini menjadi pernikahan impiannya yang dulu pernah dia inginkan.


Terdengar suara pintu mobil di buka, Nathan masuk sambil menutup kepalanya dengan tangan untuk menghalau hujan yang turun semakin deras.


"Udah?" tanya Nita menatap sang suami yang sedang mengelap wajahnya dengan tissu.


"Iya, udah, sekarang kita pulang, ya? Hujan juga udah makin deras," Nathan segera menghidupkan mesin mobilnya.


Berjalan keluar dari area pemakaman umum dan langsung melesat menuju rumah mereka. Tadi Rara dan Aris juga sempat melayat dan ikut melihat prosesi pemakaman Silvia, tapi sudah pulang duluan karena cuaca yang makin gelap.


"Kamu gak apa-apa, kan sayang?" Nita bertanya.


Melihat raut wajah suaminya yang muram membuatnya ingin tahu apa yang di rasakan Nathan.


"Aku baik-baik aja, sayang, mungkin ada sedikit penyesalan karena tidak bisa memenuhi keinginan Silvia untuk yang terakhir kali," Nathan menoleh ke arah Nita.


Mengambil tangan sang istri dan menggenggam nya erat. Tangan Nathan terasa sangat dingin. Mungkin karena efek hujan membuat tangannya basah dan kedinginan.


"Tapi kamu jangan berfikir yang tidak-tidak, ya?" Nita langsung menggeleng.


Dia sangat paham di posisi Nathan saat ini. Dia memiliki masa lalu dengan orang yang saat ini sudah tenang di peristirahatan terakhirnya.


"Aku justru ikut merasa bersalah sama Silvia, gak seharusnya aku egois, kemarin aku njenguk dia, dia bilang sangat kesakitan dan ingin sekali bertemu kamu, ku kira dia ingin kamu kembali sama dia, tapi ternyata dia hanya ingin mint maaf sama kamu, mungkin waktu Silvia ngomong gitu ke aku cuma ingin membuktikan apakah aku bisa jadi istri yang pantas buat kamu," Nita menunduk, matanya kembali memanas saat mengingat bagaimana ucapan Silvia saat itu.


"Ssttt, udah gak usah di pikirkan, semuanya sudah terjadi, ini semuanya sudah suratan takdirnya, sekarang tinggal kita buktikan bahwa pernikahan kita akan menjadi sempurna dengan kehadiran calon baby kita, kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan, ingat kamu sedang hamil, sayang!" ujar Nathan.


Nita tersenyum dan mengangguk, sepertinya setelah ini dia harus bisa menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya.


"Ini ada titipan surat untuk kita berdua, tadi Ayu yang kasih ke aku, katanya aku di suruh baca duluan sebelum kamu yang baca," ujar Nita memperlihatkan kertas dari Silvia.


Nathan hanya menoleh sekilas kemudian mencoba fokus ke depan lagi. "Nanti aja yank kalau udah di rumah, kita baca bareng-bareng," ucap Nathan.


Nita menghela nafas, mudah-mudahan tidak akan ada penyesalan di antara mereka dalam artian Nathan dengan segala penyesalan nya.


Bersambung.