
Happy Reading.
Silvia merasakan merasakan kelemahan pada tubuhnya, semakin lama dirinya merasa benar-benar sudah tidak sanggup. Kemoterapi yang di jalaninya juga tidak membuahkan hasil yang bagus. Hanya kesakitan yang dia dapatkan.
Air matanya luruh ketika membayangkan bahwa kematian sudah berada di depan mata, wanita berparas cantik itu benar-benar tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan seperti ini.
Kesalahan di masa lalu dengan bermain-main bersama beberapa laki-laki membuatnya mendapatkan karma yang langsung di bayar nyata.
Rasa kesepian dan kesakitan yang mendalam karena di tinggalkan oleh Nathan saat pria itu mengetahui tentang penyakit yang di deritanya itu, benar-benar membuat Silvia hancur.
Dia memang bukan kekasih yang setia, di Italia Silvia bukan wanita yang bisa menjaga harga dirinya. Dia seorang model yang terkadang juga bermain dengan pria yang menginginkan tubuhnya. Tentu saja dengan bayaran yang cukup mahal mengingat tubuh wanita itu juga termasuk indah dan seksi.
Silvia berjanji pada dirinya sendiri akan berhenti setelah dia memutuskan untuk menikah dengan sang kekasih, Nathan Gabriel. Namun saat Silvia benar-benar ingin menyerahkan masa depannya pada Nathan, hari-hari kelam itu datang.
Dia di vonis terkena kanker serviks.
Kanker serviks adalah kanker yang muncul pada sel-sel di leher rahim. Kanker ini terjadi saat ada sel-sel di leher rahim alias serviks yang tidak normal, dan berkembang terus dengan tidak terkendali. Sel-sel abnormal ini dapat berkembang dengan cepat, sehingga mengakibatkan tumbuhnya tumor pada serviks. Tumor yang ganas ini kemudian akan berkembang dan menjadi penyebab kanker serviks.
Kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang paling banyak menelan korban pada wanita di seluruh penjuru dunia. Menurut data Kementerian Kesehatan, setidaknya dilaporkan ada 15.000 kasus kanker serviks setiap tahunnya yang terjadi di Indonesia. Sayangnya, deteksi dini seperti dengan tes pap smear rutin masih belum menjadi perhatian umum. Apalagi kanker serviks ini juga tidak akan menunjukkan gejala pada tahap awal.
Silvia benar-benar tidak mengetahui bahwa ia sedang mengidap kanker yang semakin lama semakin menggerogoti tubuhnya. Dia bahkan masih beraktivitas seperti biasa, mungkin hanya ada gejala-gejala yang timbul seperti sakit biasa.
Gejala serius baru muncul saat kanker sudah mulai menyebar dan memasuki tahap stadium lanjut. Dalam banyak kasus, kanker serviks ini juga berkaitan erat dengan infeksi menular seksual (IMS).
Tuhan mungkin telah menegur Silvia dengan keadaan nya yang seperti ini. Atau mungkin karma yang dia dapat karena telah mengkhianati sang kekasih.
"Nathan, maafkan aku!"
"Dokter!! Dokter!! Pasien mengalami kolaps!!"
"Kita harus segera mengambil tindakan!!"
###
Nita begitu bahagia saat melihat suaminya datang menjemput. Entah kenapa rasanya dia begitu rindu dengan Nathan, padahal baru beberapa jam mereka tidak bertemu.
Segala macam perasaan negatif yang tadi sempat bercokol di hatinya kini sudah tidak ada lagi. Sebegitu takutnya Nita kehilangan Nathan kembali, dia sangat mencintai pria itu. Bolehkah kali ini Nita egois? Nita tidak ingin berbagi suaminya dengan Silvia?
Terkadang sifat Nita yang tidak tega dan lemah terhadap hal-hal yang membuatnya terharu malah menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri.
Rasa kemanusiaan dan ingin saling menolong mencuat di hati kala melihat kondisi Silvia tadi siang. Tapi setelah apa yang di ucapkan Rara, entah kenapa Nita merasa dia tidak ingin kehilangan Nathan.
"Sayang, aku kangen banget," ucap Nathan memeluk istrinya erat. Mencium pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Eh, jangan peluk-peluk di sini, kan masih tempat umum," Nita melepaskan pelukan itu, membuat Nathan dalam mode manja.
"Gak ada siapa-siapa, yank! cuma kita berdua juga," Nathan menoleh ke sana kemari, melihat di luar rumah sakit itu memang sudah sepi, hanya ada beberapa orang yang sedang mencari angin atau satpam yang berjaga-jaga.
"Duh istriku sekarang manja banget, ya? Gimana keadaan si dedek? Sehari ini rewel gak?" tanya Nathan.
Nita menggeleng. "Gak rewel, cuma kangen sama ayah aja," jawab Nita masih menempelkan wajahnya di lengan Nathan.
Entah kenapa dia sekarang suka sekali menghirup aroma suaminya. Tahu Nathan ada di sampingnya benar-benar membuat Nita bahagia.
Nathan membuka pintu mobil untuk sang istri. "Masuk dulu, sayang," Nita melepaskan tangannya kemudian masuk ke dalam mobil.
Nathan sendiri begitu senang melihat perubahan sikap sang istri yang manja itu. "Sekarang pengennya nempel-nempel terus, yank?" ucap Nathan saat Nita kembali menghirup aroma sang suami dengan mendekap lengannya.
"Ini kemauan dedek, gak tau kenapa sejak tadi kangen sama Ayah," Nita tidak berbohong, dia memang sangat merindukan Nathan dan itu juga mungkin karena efek kehamilannya.
Untuk saja Nathan sudah mandi dan berganti pakaian setelah pulang dari kantor, jadi tidak khawatir kalau nanti akan tercium bau asem dari badannya saat sang istri memeluknya seperti ini.
"Ya udah, kita pulang dulu, nanti di rumah bisa sepuasnya nempel-nempel dan nyium Ayah, ayo kita pulang," Nathan langsung menstater mobilnya.
Di dalam perjalanan Nita menceritakan banyak hal, dari mulai dia merasa takut karena Nathan tidak membalas pesannya, sampai saat tadi siang dia datang mengunjungi Silvia di rumah sakit untuk melihat kondisinya.
"Kenapa tiba-tiba kamu datang menemui Silvia, yank? Dia bicara apa aja ke kamu?" tanya Nathan khawatir.
Silvia orang yang nekat dan selalu melakukan apapun untuk bisa mencapai tujuan nya.
"Kondisinya menyedihkan, tadi dia sempat merasa kesakitan dan batuk darah, aku kasian lihatnya," jawab Nita tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Apa hanya itu saja? Apa dia menyakitimu, sayang? Apa dia meminta mu melakukan hal-hal yang tidak masuk akal?" tanya Nathan masih penasaran.
Kali ini Nita menoleh menatap suaminya. "Dia ingin kamu berada di sisinya, saat ini yang dia butuhkan hanya kamu, bahkan tadi dia memintaku untuk mengatakan padamu," jawab Nita.
Nathan menghela napas. "Silvia beberapa hari ini sering menghubungi ku, tapi aku tidak pernah membalas nya, dia ingin aku ke rumah sakit untuk melihat keadaannya, tapi aku tidak pernah mengabulkan keinginannya," ucap Nathan.
Nita tersenyum, ternyata suaminya itu mau bercerita dan tidak menutupi semuanya darinya.
"Lalu, apakah kamu mau kalau aku temani untuk melihat kondisi Silvia?" ucap Nita.
Nathan menghela napas, dia masih fokus ke depan dan sebentar lagi mereka sudah sampai di rumah.
Nathan tidak menjawab pertanyaan sang istri, dia segera memarkirkan mobilnya di garasi dan segera keluar dari dalam mobil sambil memeluk Nita dari samping.
"Sebaiknya kamu mandi dan kita istirahat, sayang, kamu kelihatan sangat lelah," Nathan mencium pipi Nita.
Wanita itu hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar masih dengan pelukan sang suami.
Bersambung.