
Happy Reading.
Nathan yang mendengar istrinya di tuduh seperti itu tentu saja tidak terima, rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal menandakan kalau ia sedang marah.
Nita yang masih terkejut dengan segala tuduhan Riska dengan membawa title 'dokter' tentu saja membuatnya langsung terkejut dan sakit hati. Nita sama sekali tidak pernah berpikir untuk melarang Nathan menemui Silvia, tentu saja Nita tidak terima dengan tuduhan sahabat dari suaminya itu. Nita menatap Riska dengan pandangan yang syarat akan kekecewaan, bisa-bisanya dia menuduh hal yang sama sekali ia tidak tahu.
"Mulut lo bisa ngomong lebih sopan gak? Dan tangan lo gak usah nunjuk-nunjuk ke arah istri gue!" Nathan menurunkan tangan Riska dengan sedikit kasar.
"Tapi, Nat!"
"Stop! Lo bukan siapa-siapa dan gak tau apa-apa! Jadi jangan suka nge-judge orang!" ingin rasanya Nathan membungkam mulut Riska dengan sebuah tamparan, kalau saja dia tidak mengingat bahwa dirinya adalah seorang pria yang sangat tidak terpuji apabila harus memukul perempuan.
"Udah, Nathan!" Nita menyentuh lengan suaminya, agar tidak semakin emosi.
Nathan menatap istrinya dan memeluk Nita dari samping. Sungguh dia tahu bahwa kali ini Nita pasti sangat shok sekali. Selama sebulan pernikahan mereka belum ada yang berani mengejek Nita dengan tuduhan merebut Nathan dari Silvia seperti ini.
"Tapi, Nathan! gue tau lo dan Silvia itu menjalin hubungan udah lama dan lo baru ketemu dokter ini udah berpaling!! Lalu apa namanya itu kalau bukan pelakor!!"
"Lo gak bisa seenaknya nuduh istri gue, Ris! jangan karena lo temennya Silvia dan lo bisa berkata hal yang sama sekali bukan ranah lo, di sini gue tegasin sama lo, bukan Nita yang ngrebut gue dari Silvia, tapi gue sendiri yang ninggalin Silvi demi ngejar Nita, mantan istri gue, dan Nita gak pernah nglarang gue untuk ketemu sama Silvi, tapi gue sendiri yang gak mau ketemu, udah lama gue gak cinta sama Silvia, karena cinta gue hanya untuk Nita yang sekarang udah jadi istri gue kalau gue denger lo ngejelekin istri gue lagi, bakal gue laporin ke polisi tentang pasal pencemaran nama baik dan meresahkan orang lain!" seru Nathan panjang lebar.
Setelah mengeluarkan segala kemurkaan Nathan pada Riska, akhirnya ia segera mengantarkan istrinya kembali ke rumah sakit.
Nita hanya terdiam dengan pikiran yang menerawang jauh, apakah benar dia dan Nathan sudah sangat keterlaluan karena melupakan Silvia begitu saja.
"Sayang, sudah jangan di pikirkan lagi," Nathan mengelus rambut Nita.
Melihat istrinya yang tiba-tiba murung tentu saja membuat Nathan merasa sangat bersalah.
"Aku gak mikir apa-apa," jawab Nita tersenyum sambil menoleh ke arah suaminya.
"Aku cinta banget sama kamu, sayang, aku gak mau kamu jadi kepikiran hanya karena ucapan Riska, ya? Dia tuh gak tau apa-apa tapi langsung menuduh seperti itu, aku pastikan dia tidak akan berani berucap seperti itu lagi," Nita hanya mengangguk tanpa menjawab.
Akhirnya setelah beberapa saat mereka sampai di rumah sakit. Nathan langsung kembali ke kantor setelah melihat istrinya masuk ke dalam rumah sakit.
"Adam, apa ada email penting untukku?" tanya Nathan saat masuk ke dalam ruangannya pada sang asisten.
"Kalau email ada beberapa dari perusahaan cabang dan Malaysia, tapi yang mungkin ingin Anda segera tahu adalah pesan dari Ayu, dia mengirim pesan tentang kondisi Nona Silvia, sepertinya kemoterapi nya tidak berjalan baik, kondisinya sudah semakin lemah, Ayu mengatakan bahwa Nona Silvia sangat ingin bertemu dengan anda," jawab Adam hati-hati.
Asisten Nathan ini memang sudah tahu bagaimana hubungan Atasannya itu dan Silvia dulu, Nathan yang seolah tidak pernah menganggap Silvia kekasih dan hanya menuruti keinginan wanita itu saja. Bahkan Adam sempat mengira kalau Nathan hanya di manfaatkan oleh Silvia karena wanita itu suka menghamburkan uang Atasannya tersebut.
"Tegaskan padanya kalau aku tidak mau bertemu dengan Silvia lagi, semuanya sudah selesai dan aku tidak ingin membuat istriku semakin terluka," jawab Nathan tegas.
Adam hanya bisa menunduk kan kepalanya saat Nathan memberikannya perintah.
####
Nita sampai di rumah dan langsung masuk ke dalam kamar, rasanya ingin segera mandi karena seharian ini merasa sangat gerah. Setelah selesai mandi Nita langsung memakai baju santainya.
Nita memang sangat suka merawat tubuh dan wajahnya, dia juga melakukan perawatan ke salon setiap dua minggu sekali.
Jam masih menunjukkan pukul 4 sore. Satu jam lagi suaminya pulang dari kantor dan kali ini dia ingin memasak untuk Nathan.
"Aku mau bikin omlet sayur, pasti Nathan suka," ujar Nita mengambil beberapa sayuran seperti wortel, kentang, daun bawang dan juga seledri di dalam kulkas.
"Nyonya mau masak apa? Biar Bibik yang siapin," ucap Bik Sum ketika melihat majikan wanitanya itu meletakkan sayuran di wastafel.
Biasanya Bik Sum memang hanya membantu kalau Nita ingin masak sendiri.
"Tolong cuci semua sayuran itu kemudian langsung di potong kecil-kecil ya, Bik," ujar Nita.
"Baik, Nyonya!"
Nita mengambil tiga butir telur ayam dari dalam kulkas, kemudian mengocok telur tersebut di dalam wadah. Nita tidak ingin terlalu memikirkan ucapan sahabat suaminya tadi siang.
Sepertinya dengan memasak bisa mengalihkan pikirannya.
"Hoek!"
"Eh, Nyonya kenapa?" Bik Sum langsung memijat tengkuk Nita saat melihat majikannya itu tiba-tiba mual dan ingin muntah.
"Gak apa-apa bik, tolong ambilkan air putih hangat," ujar Nita.
Bik Sum langsung cepat tanggap mengambilkan air putih hangat untuk Nita dan langsung menyerahkan nya pada sang majikan.
"Nyonya gak usah masak dulu, sepertinya Nyonya kecapekan atau mungkin masuk angin," ucap Bik Sum.
Nita menggeleng lemah. "Aku tidak masuk angin, Bik, mungkin sedikit kelelahan," jawab Nita yang merasa dirinya memang tidak masuk angin.
Sebagai seorang dokter tentu saja dia tahu bagaimana kondisi tubuhnya saat ini. Bisa jadi dia kurang istirahat atau sedang banyak pikiran. Nita memutuskan naik ke lantai atas untuk istirahat sebentar. Dia pun menyuruh Bik Sum untuk meneruskan membuat omlet sayur.
"Sepertinya aku belum telat, ini juga baru pas sebulan aku nikah, kalau menurut siklus haid pada waktu melakukan itu pertama kali sama Nathan pas kebetulan aku baru selesai haid, jadi bisa di katakan saat itu masa subur," gumam Nita menutup mulutnya sendiri tidak percaya.
"Apa mungkin aku hamil?" wanita itu masih menerka.
"Sepertinya aku harus cek dulu, tapi aku tidak sedia tes pack di sini!" gumam Nita.
Akhirnya wanita itu memutuskan untuk pergi ke apotik terdekat untuk membeli alat tes kehamilan, toh waktunya masih sedikit lama saat kepulangan Nathan.
Bersambung.
Mana bunganya, nanti up lagi deh😁