
Happy Reading.
Aris sangat bahagia ketika melihat Rara datang ke kantornya dan membawakan bekal makanan dari rumah.
Rara terlihat semakin cantik dan bersinar, apalagi dengan dress yang ia kenakan hari ini. Biasanya Rara lebih suka memakai kemeja dan celana kain panjang, atau kaos oblong dan celana jeans.
Tapi setelah menikah wanita itu seakan merubah dirinya dan juga sedikit berdandan. Tentu saja Rara menjadi terlihat semakin cantik, dulu setelah menjadi janda yang di tinggal mati oleh suaminya, Rara menjadi tidak suka berdandan dan lebih sering berada di butiknya.
"Sayang, apa hanya aku yang merasa semakin hari kamu semakin terlihat cantik, bahkan sangat cantik," ucap Aris menarik pinggang sang istri dan mengecup bibirnya dua kali.
"Kalau pengantin baru emang biasanya gitu, suka muji dengan kata-kata yang manis, suka gombal dan juga ...!"
"Ssttt..! Ini serius loh, kok di katain gombal, sih? Istriku ini memang semakin cantik, coba aku tanya ke Maura, ya biar kamu percaya?" Maura adalah sekretaris Aris.
"Eh, gak perlu, iya aku percaya, lebih baik sekarang kita makan siang dulu," Rara menarik lengan Aris untuk duduk di sofa sambil membawa paper bag tersebut dan langsung di letakkan di atas meja.
"Suapin, ya?" rengek Aris manja.
"Kenapa kamu jadi kek Nathan sih? Manjanya minta ampun, gak ingat umur apa udah tua gitu!" ucap Rara sambil mengeluarkan makanan yang ada di dalam paper bag.
"Siapa juga yang niru Nathan? Di tuh yang niru aku, yank!" Rara hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku suaminya yang ternyata masih sama seperti anak SD itu.
♥️♥️♥️
Di kantor Nathan.
Firda terkejut saat tiba-tiba Azam yang notabene adalah orang kepercayaan CEO tiba-tiba mendatangi nya. Apakah ada masalah lagi dengan Bapak Nathan, sehingga sampai harus menurunkan Azam ke lantai 5 hanya untuk memarahi nya?
"Sore Pak Azam, ada apa, ya? Sampai anda langsung datang kemari? Kan bisa langsung manggil saya untuk naik ke lantai atas?" tanya Firda sopan.
"Sepertinya kamu harus mendisiplinkan para bawahan kamu, Firda! Jangan sampai ada gosip atau fitnah tentang Pak Nathan dan Ibu Nita, saya masih sangat baik mau memberimu peringatan langsung dan datang ke sini," ucap Azam masih di tempatnya. Berdiri dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana.
'Sungguh tampan!' batin Firda.
Tapi Firda tahu kalau sebenarnya Azam adalah pria yang ramah dan baik.
"Kenapa menggeleng? Kamu gak mau mendengarkan ucapan saya?" seru Azam karena mengira Firda menggeleng karena tidak mematuhi perintah nya.
"Eh, tidak, bukan seperti itu maksud saya, pak! Saya sebenarnya masih belum paham apa yang para bawahan saya lakukan, sehingg menyulut emosi Pak Azam?"
Terdengar Azam menghela napas, dia tadi tidak sengaja mendengar obrolan para karyawan di divisi keuangan sedang membicarakan tentang Nita dan Nathan. Orang-orang itu benar-benar sok tahu dan paham padahal semua yang mereka ucapkan bukanlah kebenaran.
"Saya menginginkan kamu mendisiplinkan bawahan kamu agar tidak menggosipkan Pak Nathan dan Bu Nita karena saya mendengar sendiri para bawahan kamu sedang bergosip ria tentang atasan kita dan istrinya, jadi saya harap setelah ini tidak ada yang berita apapun yang keluar dari mulut mereka, atau hukuman nya bukan cuma surat peringatan tetapi langsung di pecat secara tidak hormat!" seru Azam.
Firda merasa sedikit takut setelah mendengar bentakan dari sekretaris CEO tersebut.
"Baik Pak, akan saya atasi segera, sekali lagi saya minta maaf!" ucap Firda berdiri sambil membungkukkan badan.
Azam langsung berjalan keluar dari ruangan tersebut tanpa sepatah katapun dengan sikap datarnya.
Akhirnya Firda bisa bernafas lega, entah kenapa aura Azam kali ini benar-benar membuatnya sulit bernafas. Firda akui kalau pesona pria yang masih melajang di usianya yang sudah dua puluh enam tahun itu sangat luar biasa.
"Apa pria itu tidak pernah jatuh cinta? Kenapa sikapnya dengan wanita tidak ada lembut-lembutnya," gerutu Firda sambil duduk kembali ke kursinya yang masih terasa hangat.
Kemudian wanita berambut coklat sebahu itu menelepon Eva untuk mencari tahu apa yang sudah mereka gosipkan mengenai Nathan dan juga Nita.
Azam sendiri bukannya tidak pernah jatuh cinta, dia pernah sangat mencintai wanita yang sudah dia sia-siakan, dan wanita itu saat ini sudah menjadi istri dari atasannya.
Azam menyesal karena telah berselingkuh dengan sahabat kekasihnya sendiri waktu itu. Sikap labil karena masih jiwa muda tentunya membuat pria itu ingin bermain-main sebentar tanpa ingin menyeriusi. Tapi ternyata Nita sudah lebih dulu mengetahui perselingkuhan mereka sebelum Azan mengakhiri permainannya.
Dan penyesalan selalu datang di akhir, bukan? Kini Azam seakan masih belum bisa mencari pengganti Nita di hatinya, meskipun mantan kekasihnya itu sudah bahagia dengan suaminya tapi Azam belum bisa mendapatkan perasaan yang sama pada wanita lain.
Dia bahagia melihat Nita bahagia, lalu apakah akan ada kebahagiaan yang menantinya di suatu saat nanti?
Bersambung.