My Ex Wife

My Ex Wife
Menyembuhkan Luka



Happy Reading.


Aris mengerjabkan matanya ketika merasakan sebuah kecupan di bibirnya secara tiba-tiba. Bibir yang sangat ia rindukan, bibir yang dulu selalu ia rasakan kehangatannya.


"A-apa gue sedang bermimpi?" gumam pria itu menatap Rara yang kali ini tengah tersenyum ke arahnya.


"Gue mimpi lo cium, Ra!"


Rara mencubit pipi Aris sedikit keras, membuat si empunya meringis menahan sakit.


"Kok lo jadi cubit pipi gue, Ra?" Aris mengelus pipinya yang sedikit memerah. Maklum wajahnya yang putih memang gampang sekali terlihat meras bila di tarik sedikit keras.


"Biar lo bangun dari tidur, lo! Mimpi mulu!" semprot Rara.


"Eh, jadi gue beneran mimpi?" Rara semakin gemas dengan tingkah mantan kekasihnya itu.


"Iya, lo mimpi di siang bolong! Makanya kerja, jangan kelayapan kek gini!" sungut Rara merasa kesal dengan tingkah pria di depannya itu.


Apa dia tidak tahu kalau Rara sudah mati-matian menahan malu saat berusaha mencium bibir Aris. Tapi nyatanya pria itu malah menganggap semuanya hanya mimpi.


"Pergi sono, pulang! gue lagi sibuk!" seru Rara kembali ke duduk di meja kerjanya.


Mengabaikan Aris yang saat ini tengah tersenyum ke arahnya dengan sangat manis. Entah kenapa pria itu malah semakin senang melihat Rara yang marah dan cemberut seperti itu.


Bukannya kesal karena selalu mendapatkan tanggapan yang tidak baik dari Rara, tapi Aris malah jadi semakin bucin saja.


Rara kembali fokus kepada desain baju yang memang akan dia pakai saat menikah lagi nanti, tapi entah dengan siapa, dia bingung. Aris sendiri ternyata tidak peka atau hanya pura-pura bodoh.


"Eh, ngapain lo!" Rara terkejut saat tiba-tiba Aris bersimpuh di sampingnya, memutar kursi Rara agar bisa menghadap ke arahnya.


"Eghem!! Aku tahu semua ini mungkin sedikit terburu-buru, apalagi karena aku baru saja gagal menikah, tiba-tiba langsung melamar kamu seperti ini, mungkin kesannya akan terlihat seperti pelarian, tapi sejujurnya aku sangat bersyukur karena tunangan ku berselingkuh, jadi aku bisa terbebas darinya dan berjuang kembali sama kamu, wanita yang sangat aku cintai, aku ingin bisa menjadikan mu wanita satu-satunya yang akan melahirkan anak-anak ku nanti, Ra! Mau kan menikah dengan ku?" ujar Aris memakai bahasa Aku-Kamu saat melamar Rara.


Jujur, Rara merasa sangat terkejut dengan lamaran Aris kali ini.


"Ehmm, sebenarnya gue-eh maksud nya aku terlalu malu dan gak percaya diri saat lo - maksudnya kamu meminta ku jadi istrimu, aku ini seorang janda, udah gak perawan, emang nya kamu mau sama aku?" Rara malah mengajukan pertanyaan lain.


Aris tersenyum lebar, sampai matanya menyipit karena seringainya sampai membuat deretan gigi putihnya terlihat.


"Aku gak peduli sama statusmu, Ra. Aku cinta dan hanya ingin kamu yang ku nikahi, lagian janda lebih berpengalaman katanya." Aris terkekeh saat melihat Rara membelalakkan matanya.


"Will you marry me?"


Rara terlihat menghembuskan nafasnya. "Yes, i will!"


####


"Aku jadi curiga!" ucap Nita memicingkan matanya ke arah sang suami.


"Curiga kenapa, sayang?" tanya Nathan masih berusaha mengontrol napasnya karena baru lima menit yang lalu dia merebahkan dirinya setelah pergumulan panas dengan sang istri.


"Jangan-jangan ini bukan pengalaman pertama buat kamu, ya?" tanya Nita curiga.


"Ya Allah, sayang, kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"


"Ya siapa tau, kan? Secara kamu dan kekasih mu itu udah lama berpacaran," jawab Nita.


Nathan benar-benar pusing kalau sudah mendapatkan serangan dari istrinya seperti ini.


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Pentungan ku ini baru buka puasa setelah dua puluh sembilan tahun," jawab Nathan sendu.


Nita menghela nafas, seharusnya dia memang tidak boleh berkata seperti itu, Nita hanya mengingat bagaimana penyakit Silvia yang mengarah ke sering nya wanita itu berhubungan intim.


"Iya, maaf, aku percaya sama kamu, lagian tadi juga dua kali meleset pentungan nya, mungkin karena dia belum berpengalaman," ucap Nita tersenyum dan mencium bibir Nathan.


Saat akan menarik kepalanya kembali, Nathan malah menekan tengkuk Nita dan memperdalam ciuman nya.


Selama cuti tiga hari benar-benar di manfaatkan oleh Nathan dan Nita dengan kemesraan dan keromantisan di dalam kamar mereka.


####


BRAKK!!


Daniel melempar botol minuman yang baru saja ia tenggak. Matanya menatap tajam ke arah foto seorang wanita yang sangat ia cintai. Hampir seluruh hidupnya dia curahkan hatinya hanya untuk Nita.


"Akhirnya kamu memilih kembali sama dia! Aagggrkk!! Nita!! Hatiku hancur!"


Daniel berteriak seperti orang kesetanan, anak buahnya tidak ada yang berani mendekat karena pasti akan mendapatkan pukulan telak oleh Daniel.


'Apabila semuanya memang harus cukup sampai di sini, apabila kebahagiaan kamu memang bersama dia, aku rela! Aku ikhlas, asalkan kamu benar-benar bahagia, aku akan kembali ke Singapura, bersama luka-luka ini, aku tahu kalau memang tidak sepantasnya aku mengharapkan mu, selamat tinggal Nita, aku pergi untuk menghapus dan menyembuhkan luka hati, aku pastikan akan kembali lagi saat hati ini sudah sembuh!'


Hanya itu yang bisa Daniel kirimkan ke nomer Nita, bukan ucapan selamat, karena dia belum sanggup.


Bersambung.