My Daddy Overprotective To The Twins

My Daddy Overprotective To The Twins
perawan



"Hemm perawan? ini sangat sempit" pria itu mengerang terus berusaha untuk menancapkan kepemilikan nya hingga tenggelam dengan sempurna.


"ohhh luar biasa,pertama kali nya gue dapet yang seperti ini" terus dan terus memicu tubuh nya tak peduli dengan wajah Arsya yang merah,walau masih dalam keadaan mabuk tapi air mata Arsya terus mengalir deras seperti bisa merasakan sesuatu yang teramat sakit yang kini ia rasakan.


...*****...


keesokan pagi nya, Calvin marah marah karena terlalu cemas memikirkan Arsya dan arka yang tak pulang semalaman.kedua anak itu tak ada kabar hingga pagi menjelang siang seperti ini.handpone mereka pun tak aktif saat di hubungi.


"maaf tuan kami belum menemukan den arka dan non Arsya" suara telfon dari seberang membuat Calvin bertambah murka.


"tidak becus kalian!!!!,jika sore nanti belum juga di temukan pergi ambil gaji kalian!!!!" bentak Calvin melempar handphone nya kesal langsung di tangkap oleh sang asisten dengan sigap.


'hufff handphone mahal mau di korbanin juga?,mending kasih ke saya kan sayang kalau rusak padahal kemarin baru di beli ni handphone' batin sang asisten nya Calvin


"kenapa di tangkap?!!!" marah Calvin


asisten itu tak berani menjawab karena takut terkena batu nya.saat melihat tatapan menyeramkan Calvin, asisten tersebut langsung menjatuhkan handphone nya perlahan ke lantai.namun hal tersebut membuat tatapan Calvin bertambah ngeri.


dengan segera sang asisten langsung meraih kembali handphone tersebut dan membanting nya dengan sangat keras.setelah nya Calvin langsung melenggang pergi dengan tatapan datar nya


"hufff orang kaya memang susah di mengerti,belum tau rasanya jadi miskin" cibir asisten itu pelan.


"heh jaga bicara mu,nanti bos besar dengar bisa mati kau.asal kau tau,dulu juga bos kita itu miskin gak punya apa apa jadi jangan ngomong sembarangan.bos juga gak mungkin seperti itu kalau tidak menyangkut keluarga nya". cibir asisten satu nya yang sudah sangat lama mengabdi bersama Calvin.


"iya tapi kan sayang handphone nya masih baru,langsung gak berguna"


****


perlahan Arsya memunguti pakaian nya sembari menahan sakit yang begitu menjalar di bagian inti nya.lalu memakai kembali pakaian tersebut.


Arsya tak tau siapa yang sudah berbuat kotor kepada diri nya semalam,yang dia tau hanyalah saat terbangun dari tidur nya tadi.tubuh nya sudah telanjang bulat tanpa tertutup selimut sedikit pun dan ada sedikit bercak darah kecil di seprainya.apa lagi saat Arsya ingin duduk sesuatu di bawah sana terasa sangat nyeri membuat Arsya bertambah menangis dengan hebat.


KREKEKKKK


suara pintu kamar mandi yang terbuka,Arsya langsung mengangkat wajah nya dengan cepat.menatap benci kepada orang yang kini berada di hadapan nya dengan mata merah.


"kau...apa yang kau lakukan semalam kepadaku?" teriak Arsya melempar beberapa bantal ke arah pria itu.


"wait wait wait...tenanglah itu masalah kecil" santai pria itu berkata


"masalah kecil?!! segampang itu kau mengatakan nya?!!!,brengsek kamu!!!" geram Arsya bertambah menangis


"heh ni 10 juta gue bayar kes" pria itu meletakkan segepok uang berwarna merah di paha Arsya.


PLAKKKKKK


Arsya menampar pria itu dengan keras lalu melempar uang tersebut di depan wajah pria itu dengan nafas yang sangat memburu


"Lo pikir gue barang yang bisa Lo bayar dengan uang?!!!!,harga diri gue gak sereceh jalangg jalangg yang selalu nemenin Lo di atas ranjang!!!.gue bakal tuntut Lo ke penjara biar Lo di kekang di sana" teriak Arsya


"silahkan gue gak takut,ya Lo bener harga diri Lo gak recehan.tapi desahannnn Lo begitu receh di atas ranjang" remeh pria itu


Arsya sangat muak dan marah,ia memilih pergi sembari mencuri sebuah KTP milik pria itu yang ia selipkan di saku celana nya.dengan menangis di sepanjang jalan dan menahan sakit di bawah sana.arsya benar benar sangat meruntuki nasib malang nya kini.