
mengerjapkan mata nya perlahan,menatap langit langit kamar nya dengan pandangan yang sedikit rabun.cece berusaha bangun dari tidur nya, sembari memegangi kepala nya yang terasa berat.
"kau sudah bangun?" tanya zek yang tiba tiba masuk ke dalam kamar nya sembari membawa secangkir teh hangat.
"kakak?" jutek Cece
"kenapa aku bisa ada di sini?" bingung Cece.
"arka yang mengantarkan mu kemari,sudahlah jangan kabur lagi dari kakak.kamu tak akan bisa pergi jauh terus menghindar dari kakak" kata zek menaruh cangkir teh tersebut di nakas samping tempat tidur lalu berniat ingin pergi.
"kakkkk pokok nya aku tak mau kakak menikah,sampai kapan pun aku tak mengizinkan kakak menikah dengan wanita mana pun.kakak milikku,selama nya kakak akan menjadi milikku hikss.." Cece marah dengan suara lantang nya.
"setelah aku menikah,aku akan tetap milikmu Cece" ujar zek membalikkan badan nya
"tidakkk aku tidak rela kakak membagi kasih sayang itu kepada siapapun,kakak hanya boleh mencintai dan menyayangi aku seorang titik hiks...hiks.." rengek Cece.
Cece berlarian keluar dari kamar nya,lalu merampas sepatu nya dan berjalan menuruni anak tangga.zek terus mengikuti langkah Cece,berkali kali pria itu memanggil nama gadis itu namun tak kunjung ada jawaban dari sang pemilik nama.
hingga langkah Cece terhenti ketika seorang wanita berdiri di hadapan nya.perempuan yang akan menikah dengan kakak nya, perempuan yang telah berani mencuri perhatian kakak nya yang paling ia sayangi.
"Cece kamu kenapa menangis?" tanya perempuan itu lembut.
"kau yang membuatku jadi seperti ini" teriak Cece lalu melenggang pergi sembari menabrak kasar lengan perempuan itu.
cece berjalan keluar gerbang rumah,lalu menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat depan gang kompleks nya.sembari terus menangis,Cece memeluk erat diri nya sendiri menatap sendu ke arah jalanan.
"sayang apa kalian bertengkar lagi karena aku?" tanya perempuan itu.
"Hilda kamu tidak perlu memikirkan itu,Cece hanya butuh waktu.jadi tolong jangan jadi seperti nya,Cece hanya takut kehilangan aku karena kini dia hanya memiliki aku seorang begitu juga dengan diriku." kata zek merangkul perempuan bernama Hilda itu.
entahlah perasaan Cece saat ini begitu kalut sekali,Cece memeluk batu nisa sang ibu nya sembari menangis sendu.dia benar benar tak bisa bercerita kepada siapapun lagi kini,selain kepada ayah dan ibu nya.
"ayah....ibu...andai aku bisa ikut bersama kalian,aku mungkin kini tak akan takut kehilangan kasih sayang kakak.aku hanya takut ayah...aku Sangat takut ibu....hiks...hiks....aku takut sendiri...hikss" terus terisak tangis nya.
Cece memeluk makam ayah nya dengan air mata yang turun dengan sangat deras.bersamaan dengan deras nya air hujan yang turun membasahi muka bumi.
"ayah.....ibu.....aku rindu kalian.....hikss....aku rindu....." teriak Cece semakin menangis dan terasa sesak di dalam sana.
semenjak mengetahui sang kakak ingin menikah,perasaan takut terus menghantui diri cece.satu satu nya orang yang kini di miliki nya,sudah memiliki rencana hidup nya dengan seorang wanita lain.
Cece tak bisa membagi kakak nya dengan siapapun dan tak akan rela orang lain merebut kakak nya dari kehidupan nya.karena bagi nya kakak nya adalah segala nya, seseorang yang sangat berharga melebihi apapun yang kini di miliki nya.