
Arsya mengingat nya sekarang,orang itu.dia pernah melihat nya saat Arsya terjatuh ke dalam kolam renang di pesta ulang tahun nya Yola,dia yang telah menolong diri nya saat tenggelam.arsya masih bisa mengingat nya dengan jelas,sebelum saat itu diri nya kehilangan kesadaran nya.
"kamu yang menolongku saat itu kan?" tanya Arsya
"ya" singkat jawaban yang keluar dari mulut pria itu.
pria itu mengambil sebuah pistol yang ada di laci,lalu meletakkan nya di dalam sebuah lemari.sontak Arsya yang melihat nya langsung melotot dengan sempurna.kenapa kini perasaan nya tidak enak?.
"aku ingin pergi" ucap Arsya meletakkan gelas itu di atas meja dan berjalan ke arah pintu dengan gelisah
"jika kau keluar,kau akan mati" ujar pria itu membuat Arsya bertambah ketakutan
Arsya langsung memakai sepatu nya dengan cepat,apa maksud yang katakan pria itu.apa pria itu mengancam nya,jangan jangan orang bertopeng itu adalah dia.
"sudah ku katakan jika kau keluar kau akan mati" ujar pria itu lebih lantang.
pria itu menarik lengan Arsya lalu mendudukkan gadis itu di atas sofa dengan sedikit kasar.tatapan pria itu benar benar menyeramkan.sampai sampai Arsya menangis mengeluarkan air mata nya.
terlihat wajah pria itu yang tersenyum samar melihat Arsya menangis,dia benar benar menyukai orang yang menangis.namun dia tidak suka jika ada yang membuat adik nya menangis dan terluka.
"kak aku membawakan mu makanan" ujar seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar ini.
"aroma parfum wanita?" gumam gadis itu langsung melepaskan sepatu nya dengan cepat.
"Arsya?" terkejut Cece saat melihat Arsya ada di sana bersama dengan Kakak nya yang berdiri memandangi Arsya
"apa yang kau lakukan di sini,dan mengapa kamu menangis?.hemmm kak zek...apa kau yang membuat nya menangis?" gumam cece menatap tajam zekroy yaitu Kaka nya sendiri
"urus teman mu ini,dia sangat ceroboh" ujar zek lalu keluar dari kamar hotel tersebut.
Arsya menatap Cece bingung,kenapa Cece bisa mengenal orang kasar itu? dan apa katanya tadi?,kakak?.jangan bilang orang kasar itu adalah kakak nya Cece,bukan nya Cece itu tidak memiliki kakak?.Arsya terus bertanya tanya kepada diri sendiri.
"Cece apa dia kakak kamu?" tanya Arsya
Cece hanya mengangguk lalu membawa Arsya untuk duduk di sofa,dan menyuruh nya meminum segelas air dulu agar Arsya merasa tenang.
"bukan nya kamu tidak memiliki kakak?,dan dia itu tadi menyembunyikan pistol di dalam lemari nya.kau harus berhati hati dengan nya" gemetar Arsya.
"kau tenang saja,kakakku memang suka bermain dengan pistol.dia tidak mungkin melukai adik nya sendiri,jadi kamu tak perlu khawatir." jelas cece
"kau yang harus berhati hati" perkataan seseorang membuat Arsya kembali menegang
"kakak diam lah,kau membuat nya takut" Cece melempar bantal ke arah zek yang baru saja masuk ke dalam kamar hotel itu.
Tokk....Tok.....Tok .....
suara ketukan pintu terdengar,zek langsung membuka nya dan mendapati tiga orang pria tampan berdiri di depan sana.tatapan arka dan zek terlihat sangat lekat,kedua nya memiliki tatapan yang sama Sama mengerikan.namun zek akui bahwa tatapan arka terlihat lebih mengerikan dari nya.